Jagung Pakan Ayam Jadi Pilihan Petani Solok Selatan

Lara Putri Yulina • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 16:00 WIB
Hasil panen jagung pakan ayam dijemur sebelum dirontokkan di Nagari Padang Air Dingin, Kecamatan Sangir Jujuan, Solok Selatan, Selasa (20/10/2026).
Hasil panen jagung pakan ayam dijemur sebelum dirontokkan di Nagari Padang Air Dingin, Kecamatan Sangir Jujuan, Solok Selatan, Selasa (20/10/2026).

PADEK.JAWAPOS.COM— Petani di Nagari Padang Air Dingin, Kecamatan Sangir Jujuan, Kabupaten Solok Selatan, mengembangkan jagung pakan ayam sebagai alternatif usaha pertanian dengan masa panen sekitar empat bulan. Selain perawatannya relatif sederhana, jagung kering tersebut dapat dijual kepada pengepul dengan harga Rp6.000 per kilogram.

Sri Mulyani (40), salah seorang petani setempat, mengatakan telah menekuni budidaya jagung pakan ayam selama sekitar dua tahun. Pada musim tanam kali ini, ia menggarap lahan seluas sekitar seperempat hektare.

Menurut Sri, jagung pakan ayam tidak membutuhkan perawatan seintensif jagung manis. Tanaman ini juga dinilai masih dapat tumbuh di lahan yang kurang terawat.

“Kalau dibandingkan jagung manis, jagung pakan ayam lebih menjanjikan karena tidak terlalu membutuhkan perawatan. Tanaman ini juga bisa tumbuh di tempat yang tidak terlalu terawat,” kata Sri Mulyani, Selasa (20/10/2026).

Panen Satu Ton, Jagung Dijual Rp6.000 per Kilogram

Dari lahan yang digarapnya, Sri menyebut hasil panen jagung pakan ayam dapat mencapai sekitar satu ton. Sebelum dijual, jagung harus dijemur hingga kering, kemudian dirontokkan agar siap dipasarkan.

Hasil panen tersebut dijual kepada pengepul di Nagari Lubuk Malako, Kecamatan Sangir Jujuan, dengan harga Rp6.000 per kilogram jagung kering.

Dengan asumsi seluruh hasil panen mencapai satu ton dan terjual pada harga tersebut, omzet kotor petani dapat mencapai sekitar Rp6 juta. Nilai ini belum dikurangi biaya benih, perontokan, dan pengeluaran produksi lainnya.

Untuk benih, Sri menggunakan sekitar 2,5 kilogram dengan harga Rp140.000 per kilogram. Dengan demikian, biaya benihnya mencapai sekitar Rp350.000.

Sementara itu, biaya perontokan tercatat Rp200 per kilogram jagung. Jika seluruh hasil panen mencapai satu ton, biaya perontokan diperkirakan Rp200.000.

Perhitungan tersebut belum mencakup biaya lain, seperti pengolahan lahan, pupuk, pengangkutan, dan pengeluaran produksi lainnya. Sri memilih merawat tanamannya sendiri untuk menekan biaya budidaya.

Cuaca Memengaruhi Pertumbuhan Jagung

Petani lainnya, Lelawati (41), juga membudidayakan jagung pakan ayam di Nagari Padang Air Dingin. Hasil panennya saat ini masih dalam tahap penjemuran dan belum memasuki proses perontokan maupun penjualan.

Lelawati mengatakan, kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pertumbuhan jagung. Pada musim kemarau, tanaman cenderung tumbuh kurang sehat karena kekurangan air, sedangkan hujan yang turun terus-menerus juga dinilai kurang baik bagi pertumbuhan tanaman.

“Kalau musim kemarau, jagung tumbuhnya kurang sehat karena membutuhkan air. Kalau musim hujan terus juga tidak bagus. Setidaknya ada hujan sekali dalam seminggu,” ujar Lelawati.

Ia berharap cuaca mendukung pertumbuhan tanaman agar panen berikutnya lebih melimpah dan memberikan hasil yang lebih baik bagi petani.

Budidaya jagung pakan ayam menjadi salah satu alternatif usaha pertanian bagi warga Nagari Padang Air Dingin. Masa panen sekitar empat bulan dan perawatan yang relatif sederhana menjadi pertimbangan petani, meski hasil produksi tetap dipengaruhi kondisi cuaca dan pengelolaan tanaman.(*)

Editor : Hendra Efison
jagung pakan ayam Solok Selatan petani jagung Sangir Jujuan harga jagung pakan ayam budidaya jagung pakan hasil panen jagung Solok Selatan