Laba Bersih PTBA Melesat 216 Persen hingga September 2026

Heri Sugiarto • Dipublikasikan Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:47 WIB
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sukses membukukan laba bersih Rp4,41 triliun sepanjang Januari–September 2026, melonjak 216,3 persen secara tahunan. (Foto: Corcom PTBA)
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sukses membukukan laba bersih Rp4,41 triliun sepanjang Januari–September 2026, melonjak 216,3 persen secara tahunan. (Foto: Corcom PTBA)

PADEK.JAWAPOS.COM – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) membukukan laba bersih Rp4,41 triliun sepanjang Januari–September 2026, meningkat 216,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,39 triliun. Kenaikan tersebut ditopang penguatan harga jual batu bara, pertumbuhan pendapatan, dan pengendalian beban pokok pendapatan.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 30 September 2026, pendapatan usaha PTBA mencapai Rp35,20 triliun, naik sekitar 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Perusahaan juga mencatatkan EBITDA sebesar Rp7,19 triliun, dengan margin laba bersih 13 persen dan margin EBITDA 20 persen.

Pertumbuhan pendapatan terutama didorong kenaikan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) sebesar 18 persen secara tahunan (year on year/YoY). Penguatan tersebut sejalan dengan kenaikan indeks harga batu bara Newcastle sebesar 25 persen dan ICI-3 sebesar 26 persen.

Kenaikan harga jual mampu mengimbangi penurunan volume penjualan sebesar 4 persen dibandingkan Januari–September 2025.

Dari sisi pasar, penjualan domestik menyumbang 52 persen terhadap total volume penjualan, sedangkan pasar ekspor berkontribusi 48 persen. Lima negara tujuan ekspor terbesar PTBA adalah Bangladesh, Vietnam, India, Kamboja, dan Thailand.

Produksi Pulih pada Kuartal III

Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan mengatakan, perusahaan mencatatkan perbaikan kinerja operasional pada kuartal III 2026 di tengah dinamika industri batu bara dan tantangan operasional sepanjang tahun berjalan.

“Pencapaian ini didukung oleh pemulihan produksi yang semakin baik pada kuartal III, optimalisasi bauran penjualan dengan memanfaatkan momentum penguatan harga batu bara, serta pengelolaan biaya dan operasional yang disiplin,” kata Bambang dalam keterangan perusahaan, Kamis (29/10/2026).

Secara kuartalan (quarter on quarter/QoQ), produksi batu bara meningkat 17 persen dibandingkan kuartal II 2026. Penjualan tumbuh 2 persen, sementara ASP naik 7 persen.

Beban Pokok Pendapatan Naik Tipis

PTBA mencatatkan beban pokok pendapatan sekitar Rp27,94 triliun hingga September 2026, meningkat sekitar 1 persen secara tahunan. Kenaikan tersebut antara lain dipengaruhi harga bahan bakar yang meningkat 36 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Tekanan biaya tersebut diimbangi penurunan stripping ratio dari 5,98 kali menjadi 5,59 kali. Volume produksi turun 4 persen, sedangkan volume angkutan batu bara berkurang 10 persen secara tahunan.

Sementara itu, beban operasional meningkat Rp266,77 miliar atau 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi keuangan, penghasilan keuangan naik 16 persen menjadi Rp183,50 miliar. Peningkatan tersebut terutama didukung penempatan deposito berjangka, termasuk untuk pengelolaan likuiditas dan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) sesuai ketentuan yang berlaku.

Sebaliknya, biaya keuangan turun 45 persen menjadi Rp136,52 miliar. Penurunan ini sejalan dengan berkurangnya beban bunga setelah perusahaan menyelesaikan fasilitas kredit modal kerja pada akhir 2025.

Bagian laba neto dari entitas asosiasi dan ventura bersama juga meningkat 75 persen menjadi Rp581,31 miliar.

Pertumbuhan pendapatan dan pengendalian beban pokok pendapatan mendukung pencapaian laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp4,41 triliun.

Aset PTBA Meningkat Menjadi Rp51,55 Triliun

Hingga 30 September 2026, total aset PTBA mencapai Rp51,55 triliun, meningkat 17 persen dibandingkan posisi akhir Desember 2025 sebesar Rp43,92 triliun.

Peningkatan tersebut terutama didorong kenaikan deposito berjangka, piutang usaha seiring penguatan harga jual batu bara, serta pajak dibayar di muka terkait restitusi pajak pertambahan nilai (PPN).

Total liabilitas perusahaan tercatat Rp24,31 triliun, naik 14 persen dibandingkan Rp21,30 triliun pada akhir 2025. Kenaikan ini terutama dipengaruhi peningkatan kewajiban operasional dan tambahan pinjaman bank untuk mendukung pengembangan Proyek Tanjung Enim–Kramasan.

Pada saat yang sama, total ekuitas meningkat 20 persen menjadi Rp27,24 triliun dari Rp22,62 triliun pada akhir tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama didorong peningkatan saldo laba seiring pencapaian laba bersih perusahaan.

Arus Kas Operasi Mencapai Rp4,44 Triliun

Arus kas bersih dari aktivitas operasi mencapai Rp4,44 triliun hingga September 2026, dibandingkan Rp4,20 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Berdasarkan angka yang dibulatkan tersebut, kenaikannya sekitar 5,7 persen.

Perbaikan arus kas operasi terutama didukung peningkatan profitabilitas serta penurunan pembayaran kepada pemasok dan pembayaran bunga.

Sementara itu, kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi meningkat dari Rp2,21 triliun menjadi Rp3,50 triliun. Perubahan ini terutama dipengaruhi penempatan deposito berjangka atas DHE.

Pada aktivitas pendanaan, kas bersih yang digunakan turun dari Rp2,17 triliun menjadi Rp700 miliar. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi pembayaran dividen yang lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya dan peningkatan penerimaan pinjaman jangka panjang untuk mendukung Proyek Tanjung Enim–Kramasan.

PTBA Tetapkan Target Produksi 49,55 Juta Ton

Untuk keseluruhan 2026, PTBA menargetkan produksi batu bara sebesar 49,55 juta ton dan volume penjualan 49,51 juta ton. Volume angkutan ditargetkan mencapai 41 juta ton.

Perusahaan juga menetapkan target stripping ratio sebesar 5,63 kali dan belanja modal atau capital expenditure (capex) Rp3,64 triliun.

Bambang mengatakan, perusahaan akan terus meningkatkan efisiensi di seluruh rantai bisnis, mengoptimalkan pasar domestik dan ekspor, serta memastikan pengembangan infrastruktur logistik berjalan untuk mendukung pertumbuhan usaha berkelanjutan.

Sementara itu, Corporate Secretary Division Head PTBA Eko Prayitno menyampaikan bahwa perusahaan melanjutkan penguatan fundamental bisnis melalui efisiensi operasional, optimalisasi rantai pasok, dan percepatan penyelesaian proyek strategis.

"PTBA juga mendorong diversifikasi usaha melalui pengembangan bisnis energi dan hilirisasi batu bara sebagai bagian dari transformasi menuju perusahaan energi berkelanjutan," katanya.

Manajemen berharap langkah tersebut dapat meningkatkan daya saing dan menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi pemegang saham serta seluruh pemangku kepentingan. (*)

Editor : Heri Sugiarto
Laba Bersih PTBA 2026 Saham Batu Bara Laporan Keuangan PTBA pt bukit asam tbk ptba