Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Khairul Anwar, Fasilitator Nagari: “Siapa Tan Rajo?”

Novitri Selvia • Jumat, 8 Juli 2022 | 11:36 WIB
Photo
Photo

Banyak kata yang bisa dilekatkan untuk mendeskripsikan sosok publik figur yang satu ini. Ia dikenal sebagai salah satu aktivis ‘98.

Banyak yang mengenalnya sebagai pemerhati lingkungan hidup, pejuang demokrasi, pakar pemberdayaan desa, praktisi hukum, master training, ahli konstruksi, pemantau pemilu, mantan jurnalis, hingga akademisi.

Berikut hasil wawancara jurnalis Padang Ekspres, Rifa Yanas dengan Khairul Anwar saat dijumpai di salah satu kampus di Kota Bukittinggi, Kamis (7/7) siang.

Khairul Anwar lahir di Salo, Kabupaten Agam, 18 Oktober 1975. Menamatkan S1 Hukum Perdata Islam di IAIN Imam Bonjol Padang tahun 2000. Kemudian, mengantongi gelar magister Hukum Tata Negara di Universitas Eka Sakti Padang tahun 2013. Ia adalah salah satu alumni kebanggaan MTI Canduang. Tan Rajo, begitu ia biasa dipanggil oleh mayoritas orang yang mengenalnya.

Dalam kurun lima tahun terakhir, tercatat seratusan lebih seminar, webinar, pelatihan dan workshop telah Tan Rajo lakoni. Mulai dari menjadi narasumber, pelatih, instruktur, termasuk sebagai peserta. Ia juga aktif menulis di sejumlah media, melahirkan karya ilmiah, dan menerbitkan buku.

Bagaimana Tan Rajo bisa bergelut dalam bidang pemberdayaan masyarakat di berbagai pelosok negeri?

“Susah memang, karena itu tahap pertama saya tidak langsung berkoar-koar ini penting, ini harus begini-begitu. Setiap apapun kegiatan pemberdayaan masyarakat yang ditekuni, saya terjun dulu menjalin pergaulan. Saya temui tokoh-tokohnya. Begitu pola yang saya bangun. Saat masih berstatus mahasiswa, saya sudah berkecimpung dalam pemberdayaan masyarakat pesisir pantai.

Banyak anak-anak yang harus putus sekolah untuk membantu orangtua mereka sebagai nelayan. Karakter masyarakat di tepian pantai, berbeda dengan yang menetap di dataran tinggi. Berbeda pula dengan yang hidup di pedalaman. Semua itu bisa saya lewati dengan metode pendekatan berbasis kekeluargaan,”.

Tan Rajo disebut-sebut terlibat dalam banyak kegiatan dengan bidang yang beragam. Bagaimana ceritanya?

“Berkat senior dan pergaulan semasa kuliah, setelah lulus pertama kali saya banyak terlibat bersama NGO yang bergerak di bidang lingkungan hidup. Di sana sering berbicara politik, hukum, dan HAM. Saya juga pernah bergabung bersama Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Ada juga NGO internasional yang mensponsori lembaga saya untuk penanganan HIV/Aids di Sumbar.

Saya penganut Islam tradisi, Subuh pakai Qunut, tarawih 20 rakaat, dan bermazhab Imam Syafii. Selama itu bertentangan dengan keyakinan saya, tidak akan saya jalani. Karenanya juga, saat saya dipercaya BNN menjadi Ketua Satgas di Sumbar untuk merehabilitasi pecandu narkoba, program yang saya tawarkan salah satunya bernuansa religius. Saya rangkul mereka untuk berkegiatan positif,”.

Lalu apa kaitan mantan jurnalis mahasiswa dengan menjadi kontraktor?

“Saya satu angkatan dengan Abdullah Khusairi. Sama pernah menulis di majalah kampus. Di HMI, membuat makalah adalah rutinitas saya setiap kali pengkaderan. Suatu masa, saya merantau ke Provinsi Riau untuk menjadi wartawan di Dumai Pos (Riau Pos Group). Pimpinan redaksi yang melihat berkas lamaran saya justru menyarankan agar jangan jadi wartawan, tapi mendirikan perusahaan sendiri.

Saya ikuti saran itu. Namun, berselang enam bulan saya jadi pengangguran, dan keuangan pun mulai menipis. Saya kemudian pindah ke Bengkalis dan menjadi tukang ketik sebuah perusahaan kontruksi. Karena saya mampu mengetik puluhan kontrak dalam waktu beberapa hari, saya mendapat kepercayaan bos perusahaan.

Banyak ilmu yang saya peroleh tentang penawaran paket lelang, membuat kontrak, bahkan mendisain bangunan. Setelah cukup mapan di Provinsi Riau, saya kembali ke Sumbar tahun 2006,”.

Pulang dari perantauan, kenapa Tan Rajo bisa dipercaya Kementerian mengurus Desa dan Nagari?

“Di Riau, saya pernah dipercaya salah satu perusahaan minyak untuk mengelola dana CSR. Karena pernah berkecimpung di lingkungan hidup, program yang kami jalankan adalah hutan mangrove dan program pengelolaan limbah. Awalnya dari situ. Tahun 2007 saya beraktivitas kembali di Sumbar. Program PNPM Pedesaan muncul tahun 2008, era Presiden SBY kala itu. Saya tertarik karena pembangunan desa digagas dengan konsep partisipasi aktif masyarakat. Saya diterima sebagai salah satu fasilitator.

Saya mulai dari tingkat kecamatan, dan berpindah-pindah ke beberapa kabupaten. Setelah itu berganti rezim, ada program Dana Desa atau Dana Nagari ala Presiden Jokowi. Saya pun dipercaya menjadi fasilitator tingkat Provinsi untuk 928 desa dan nagari di Sumbar. Programnya beragam. Substansinya, pendampingan pemanfaatan dana desa. Salah satu poinnya mendirikan BUMNag dan BUMDes,”.

Bagaimana pula Tan Rajo pernah menjadi bagian Tim Seleksi Penyelenggara Pemilu?

“S2 saya Hukum Tata Negara. Saya bergaul dengan akademisi yang konsen menyorot pemilu. Saya juga sering terlibat dalam seminar kepemiluan. Sepanjang berkegiatan di desa, saya menyorot rendahnya partisipasi pemilih pedesaan termasuk minimnya pendidikan politik di masyarakat.

Buah pikiran itu saya tuangkan dalam berbagai tulisan dan opini di media. Ditambah lagi saya memang berkecimpung sebagai Ketua Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Kabupaten Agam sampai hari ini,”.

Apa yang mengantarkan Tan Rajo meraih semua capaian itu?

“Yang paling mencolok sebagai pembentukan karakter saya itu berkat berorganisasi di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Saya masuk kuliah tahun 1995. Saat masih satu pekan kuliah, saya sudah mengikuti Basic Training Latihan Kader (LK) 1 di HMI. Saya melihat senior yang sukses itu adalah aktivis HMI. Sudah lama saya ingin sekali ikut bergabung.

Dulu, bahkan pernah saya sampaikan bahwa saya ini kuliah di HMI, bukan di kampus. Di tahun 1997, saya ikut LK 2 HMI di Bandung, Jawa Barat. Lama sekali saya berkecimpung mengikuti segala pelatihan dan training yang diprogramkan PB HMI. Setelah itu, saya menjadi instruktur di berbagai cabang di berbagai daerah.

Mungkin bagi banyak orang, menjadi aktivis adalah alasan untuk lama kuliah. Bagi saya tidak. Saya tetap harus fokus pada tujuan awal dan kuliah tepat waktu. Bahkan saya lulus empat tahun dengan IPK yang sangat baik kala itu untuk seorang aktivis mahasiswa,”.

Apa filosofi yang Tan Rajo pegang teguh sampai hari ini menjadi akademisi?

“Saya memang orangnya suka lompat-lompat. Saya tidak pernah puas dengan ketidaktahuan akan suatu hal. Mungkin saya ini obsesif akan ilmu. Kemanapun saya pergi di Sumbar ini, saya pelajari struktur adat dan implementasinya.

Mungkin di beberapa kampus, saya diminta mengajar sistem pemerintahan nagari, di kampus lain diminta mengajar hukum adat. Lebih spesifik lagi di Universitas Muhammadiyah Sumbar (UMSB) saya mengajar hukum adat Minangkabau. Saya suka berbicara tentang konsep, meski terkadang kurang berminat mengerjakan konsep yang sudah ada secara teknis,”.

Selang empat jam lebih berdiskusi dengan Tan Rajo, banyak cerita hidupnya yang tidak akan cukup dituliskan dalam sebuah tulisan saja. Masih banyak hal menarik yang tersimpan dalam rekaman wawancara Padang Ekspres, termasuk bagaimana Tan Rajo berkali-kali menolak kesempatan menjadi perwira polisi, rela digugurkan saat selangkah lagi menjadi PNS dan sebagainya. Bagi Tan Rajo, “Ar Rosiy wal Murtasiy Fin Nar”. Hanya, alumni pesantren yang tahu kamus integritas kutipan hadis pendek ini. (*)

Editor : Novitri Selvia
#khairul anwar #Tan Rajo