Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

“Monster” Karya Hirokazu Kore-eda, Potret Kompleksitas Manusia dalam Perspektif Berlapis

Rafiul Refdi • Rabu, 12 November 2025 | 19:50 WIB

Film Monster (Kaibutsu) karya Hirokazu Kore-eda menghadirkan refleksi mendalam tentang empati, persepsi, dan kebenaran dalam narasi berlapis yang memikat. (foto: Variety)
Film Monster (Kaibutsu) karya Hirokazu Kore-eda menghadirkan refleksi mendalam tentang empati, persepsi, dan kebenaran dalam narasi berlapis yang memikat. (foto: Variety)
PADEK.JAWAPOS.COM —Film Monster (Kaibutsu) garapan sutradara ternama Jepang Hirokazu Kore-eda kembali menjadi perbincangan dunia perfilman internasional.

Karya yang dirilis pada 2023 ini dipuji karena pendekatannya yang peka terhadap tema persepsi, empati, dan pencarian kebenaran, menjadikannya salah satu film paling berpengaruh dalam sinema Jepang modern.

Menurut The Japan Times, kisah Monster bermula dari insiden kecil di sebuah sekolah dasar Jepang.

Seorang anak bernama Minato tiba-tiba menunjukkan perilaku aneh, membuat ibunya, Saori (diperankan oleh Sakura Ando), mencurigai gurunya.

Namun seiring cerita berkembang, muncul tiga versi kebenaran — dari sudut pandang ibu, guru, dan anak — yang menantang persepsi penonton tentang siapa sebenarnya “monster” dalam kisah ini.

Narasi Tiga Sudut Pandang dan Pesan Kemanusiaan

Kore-eda menyusun film ini dengan struktur multi-perspektif, di mana setiap sudut pandang menyingkap lapisan baru dari kisah yang sama.

Melalui pendekatan ini, film menyoroti bagaimana kebenaran dapat berubah tergantung pada siapa yang memandangnya.

Dalam wawancara bersama Variety Japan, Kore-eda menegaskan bahwa Monster bukan film untuk mencari pelaku, melainkan tentang memahami manusia.

“Kadang, kebaikan bisa disalahartikan, dan kejujuran bisa tampak seperti ancaman,” ujarnya.

Musik Terakhir Ryuichi Sakamoto yang Penuh Emosi

Skor musik dalam Monster digarap oleh mendiang Ryuichi Sakamoto, yang meninggalkan karya ini sebagai salah satu proyek terakhirnya.

Dikutip dari The Guardian, musiknya digambarkan sebagai “napas terakhir yang lembut namun menyayat.”

Komposisi piano Sakamoto membangun suasana tenang sekaligus menekan, menggambarkan kesedihan dan kesalahpahaman yang menjadi inti film.

Simbolisme Visual dan Realisme Emosional

Secara visual, Kore-eda menggunakan palet warna alami, pencahayaan lembut, serta simbol air dan jendela untuk menegaskan batas antara persepsi dan kenyataan.

Setiap adegan tampak seperti kenangan samar yang perlahan terbuka — ciri khas gaya sinematik Kore-eda yang dikenal halus namun emosional.

Kritik Sosial dalam Sistem Pendidikan Jepang

Menurut The New York Times, Monster adalah refleksi tajam terhadap tekanan sosial di Jepang, terutama dalam sistem pendidikan yang menuntut keseragaman.

Film ini menyentuh isu perundungan dan penerimaan terhadap anak berbeda, tanpa menjejalkan pesan moral secara gamblang.

Beberapa kritikus menyebut Monster sebagai “film yang sunyi, namun berbicara paling keras tentang kemanusiaan.”

Penghargaan dan Pengakuan Internasional

Monster meraih Best Screenplay di Festival Film Cannes 2023, serta menuai pujian luas dari kritikus dunia.

Variety menilai film ini sebagai karya yang “tidak menuduh, tapi mengajak penonton menatap cermin dan bertanya siapa yang bersalah.”

Kekuatan film ini terletak pada kemampuannya menampilkan karakter tanpa hitam putih.

Kore-eda memperlihatkan manusia sebagai hasil dari lingkungan, trauma, dan kasih yang keliru arah, menjadikannya karya universal yang menyentuh lintas budaya.

Warisan Sinema Humanis Asia

Hingga kini, Monster masih aktif dibahas oleh akademisi film dan komunitas sinefil global.

Banyak yang melihat film ini sebagai refleksi sosial Jepang pasca-pandemi — ketika empati dan komunikasi menjadi kunci hubungan antarmanusia.

Dalam konteks global, karya ini memperkuat reputasi Hirokazu Kore-eda sebagai sutradara Asia dengan gaya penceritaan humanis dan kontemplatif.

Ia membuktikan bahwa kekuatan sinema tidak selalu lahir dari aksi besar, melainkan dari luka kecil yang tak terlihat.

Cermin dari Diri Sendiri

Pada akhirnya, Monster (Kaibutsu) mengingatkan bahwa “monster” tidak selalu berada di luar diri, melainkan bisa muncul dari kesalahpahaman, ketakutan, dan cinta yang tidak tersampaikan.

Dengan pencapaian artistik dan tematik yang kuat, film ini tetap berdiri sebagai salah satu film Asia paling penting dalam dekade terakhir, mengukuhkan posisinya sebagai karya reflektif tentang kemanusiaan modern.(CC5)

Editor : Hendra Efison
#film Monster #sinema Jepang #Hirokazu Koreeda #Festival Film Cannes