Seabad Gempa Padangpanjang 1926 Jadi Momentum Perkuat Kesiapsiagaan Bencana

Hendra Efison • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 11:28 WIB
Penulis buku Gempa Tujuh Hari, Yose Hendra menyerahkan buku kepada Sekretaris Utama BNPB Dr Apt Rustian SSi MKes, usai acara bedah buku di Perpustakaan Unand, Rabu (22/7/2026).
Penulis buku Gempa Tujuh Hari, Yose Hendra menyerahkan buku kepada Sekretaris Utama BNPB Dr Apt Rustian SSi MKes, usai acara bedah buku di Perpustakaan Unand, Rabu (22/7/2026).

PADANG, PADEK.JAWAPOS.COM – Peringatan seabad Gempa Padangpanjang 1926 dimanfaatkan Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas (Unand) untuk memperkuat budaya kesiapsiagaan bencana melalui pembelajaran sejarah.

Momentum tersebut mengemuka dalam Lecture and Learning Session Series #46 bertajuk "Seabad Gempa Padangpanjang: Menguatkan Kesiapsiagaan Masa Kini" yang dirangkai dengan diskusi dan bedah buku Gempa Tujuh Hari: Sejarah Gempa 1926 di Dataran Tinggi Padang, Mengingat untuk Bertahan karya jurnalis Yose Hendra di The Gade Creative Lounge, Perpustakaan Universitas Andalas, Padang, Rabu (22/7/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan Program Studi Magister Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas itu berlangsung secara hybrid. Acara berada di bawah arahan Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas Prof. Henny Lucida dan dipimpin Ketua Program Studi Magister Manajemen Bencana Prof. Yenny Narny.

Diskusi menghadirkan Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Dr Apt Rustian SSi MKes, Staf Ahli Kepala BNPB Dody Ruswandi, serta penulis buku Yose Hendra.

Dalam sesi bedah buku, Rustian menegaskan sejarah merupakan fondasi penting dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman gempa bumi.

Menurutnya, Sumatera Barat merupakan salah satu wilayah dengan aktivitas kegempaan tertinggi di Indonesia. Berdasarkan catatan sejarah, sejak 1797 hingga 2022 sedikitnya telah terjadi sembilan gempa besar, mulai dari gempa dan tsunami Megathrust Mentawai 1797, gempa Megathrust 1833, Gempa Padangpanjang-Lembah Anai 1926, Gempa Pasaman 1977, Gempa Kerinci-Solok Selatan 1995, Gempa Solok-Tanahdatar 2007, Gempa Padang 2009, gempa dan tsunami Mentawai 2010, hingga Gempa Pasaman Barat 2022.

"Rangkaian bencana tersebut menunjukkan masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah, masih memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap ancaman gempa bumi. Karena itu, pengurangan risiko bencana harus diintegrasikan ke dalam perencanaan pembangunan jangka menengah maupun jangka panjang," ujar Rustian.

Kearifan Lokal dan Pembelajaran Pascabencana

Rustian juga menekankan pentingnya menghidupkan kembali kearifan lokal sebagai bagian dari strategi mitigasi bencana. Salah satu contohnya ialah rumah panggung tradisional Minangkabau yang memiliki karakter konstruksi adaptif terhadap gempa.

"Desain tiang rumah yang tidak ditanam langsung ke tanah membuat bangunan dapat mengikuti arah guncangan gempa. Prinsip ini memiliki kemiripan dengan konsep base isolator pada teknologi bangunan modern. Rumah gadang bahkan telah dikenal dunia sebagai salah satu ikon arsitektur Indonesia yang aman terhadap gempa," katanya.

Sementara itu, Staf Ahli Kepala BNPB Dody Ruswandi membagikan pengalaman penanganan pascagempa Padang 2009. Menurutnya, bencana tersebut menyebabkan sekitar 249.433 rumah mengalami kerusakan, baik ringan, sedang, maupun berat.

Ia mengatakan proses rehabilitasi dan rekonstruksi melahirkan banyak pembelajaran penting, mulai dari inovasi teknologi konstruksi, penyempurnaan standar bangunan tahan gempa, pembenahan tata kelola perizinan bangunan, peningkatan kapasitas tenaga tukang, hingga meningkatnya kesadaran masyarakat membangun rumah yang aman.

"Tantangan berikutnya adalah bagaimana mempertahankan kesadaran itu agar tidak menurun seiring berjalannya waktu," ujarnya.

Buku Gempa Tujuh Hari Hidupkan Memori Kolektif

Dalam sesi bedah buku, Yose Hendra menjelaskan Gempa Tujuh Hari disusun berdasarkan penelusuran arsip kolonial, surat kabar, laporan ilmiah, hingga penelitian geologi mutakhir untuk menghadirkan kembali memori kolektif mengenai salah satu bencana terbesar dalam sejarah Sumatera Barat.

Menurut Yose, masyarakat Sumatera Barat hidup berdampingan dengan dua sumber utama ancaman gempa, yakni Zona Subduksi Mentawai dan Sesar Sumatra yang hingga kini masih aktif.

"Sejarah menunjukkan gempa besar pada jalur Sesar Sumatra terus berulang, seperti tahun 1822, 1926, dan 2007. Bahkan Sumatera Barat mengenal fenomena doublet earthquake, yaitu dua gempa utama yang terjadi berurutan dalam waktu singkat pada segmen sesar yang berbeda," jelas Yose.

Ia mengungkapkan gempa 28 Juni 1926 menjadikan Padangpanjang sebagai wilayah dengan dampak paling parah sehingga kemudian dikenal sebagai Gempa Padangpanjang. Sedikitnya 2.383 rumah roboh atau rusak berat, dengan 1.709 rumah berada di wilayah X Koto, sedangkan korban jiwa mencapai 247 orang, termasuk 220 orang di Padangpanjang dan X Koto.

Kerusakan juga meluas ke Fort de Kock (Bukittinggi), Agam, Batusangkar, Payakumbuh, Maninjau, hingga Lubuk Sikaping, dengan kerugian diperkirakan mencapai sekitar 10 juta gulden.

Yose menjelaskan istilah "Gampo Tujuh Hari" lahir karena setelah gempa utama 28 Juni 1926, ratusan gempa susulan terus mengguncang selama berhari-hari. Bahkan, getaran masih tercatat hingga Agustus 1926.

"Istilah itu kemudian menjadi memori kolektif masyarakat Minangkabau mengenai salah satu bencana terbesar abad ke-20. Penyebutannya dipopulerkan media-media pada masa itu dan diperkuat oleh anggota Volksraad Loetan Datoek Rangkajo Maharadjo dalam percakapannya dengan ahli zoologi Edward Richard Jacobson," ungkapnya.

Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas, Prof. Henny Lucida, mengatakan Lecture and Learning Session Series menjadi ruang akademik yang mempertemukan hasil riset, pengalaman praktis, serta pembelajaran sejarah dalam membangun budaya sadar bencana.

Sementara itu, Ketua Program Studi Magister Manajemen Bencana, Prof. Yenny Narny, menegaskan peringatan seabad Gempa Padangpanjang merupakan momentum strategis untuk memperkuat literasi kebencanaan di kalangan mahasiswa, akademisi, peneliti, praktisi, pemerintah, hingga masyarakat.

"Satu abad telah berlalu sejak Gempa Padangpanjang menjadi salah satu peristiwa bersejarah yang memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana. Momentum ini menjadi pengingat bahwa membangun masyarakat yang tangguh dimulai dari pengetahuan, kolaborasi, dan aksi nyata," ujar Prof. Yenny.

Ia menambahkan sejarah harus dipandang sebagai sumber pengetahuan untuk membangun masa depan yang lebih aman.

"Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi sumber pengetahuan yang harus dimanfaatkan untuk memperkuat kesiapsiagaan dan mengurangi risiko bencana pada masa depan," katanya.

Diskusi ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif yang membahas berbagai strategi pengurangan risiko bencana, pentingnya pelestarian pengetahuan lokal, serta penguatan budaya sadar risiko di tengah tingginya ancaman gempa bumi di Sumatera Barat.

Melalui forum ini, Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang dialog ilmiah yang menghubungkan kajian akademik, pengalaman praktis, dan pelajaran sejarah sebagai fondasi dalam membangun masyarakat Indonesia yang semakin tangguh menghadapi bencana.(*)

Editor : Hendra Efison
gempa Padangpanjang 1926 Gempa Tujuh Hari bnpb mitigasi bencana universitas andalas