PADEK.JAWAPOS.COM-Hujan deras yang mengguyur sejak Selasa (23/9) hingga Rabu (24/9) pagi membuat warga di wilayah rawan banjir di Kabupaten Dharmasraya khawatir. Masyarakat cemas banjir kembali melanda permukiman mereka.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Dharmasraya, Eldison, mengimbau seluruh masyarakat, terutama yang tinggal di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS), agar selalu siaga terhadap kemungkinan bencana yang disebabkan oleh meningkatnya curah hujan.
“Selain itu, kepada pengguna jalan, kami juga mengingatkan untuk lebih berhati-hati, terutama di titik-titik jalan yang mengalami kerusakan, agar terhindar dari kecelakaan lalu lintas,” ujarnya.
Hal yang sama disampaikan oleh Wali Nagari Timpeh, Harmanto. Menurutnya, jika hujan deras berlangsung selama tiga jam, Sungai Batang Timpeh akan mulai merendam permukiman warga di sepanjang aliran sungai tersebut.
Ia menyebut sekitar 200 kepala keluarga (KK) terdampak dalam kondisi seperti ini. Analis Kebencanaan Subkoordinator Kedaruratan dan Logistik BPBD Dharmasraya, Ardianus Effendi, menambahkan bahwa dari 11 kecamatan yang ada di Dharmasraya, 10 di antaranya masuk dalam kategori rawan banjir.
Satu kecamatan lainnya, yaitu Sembilan Koto, bahkan menghadapi ancaman ganda: banjir dan tanah longsor.
“Kondisi geografis dan aliran sungai menjadi faktor utama tingginya potensi bencana di daerah ini. Sebagian besar sungai di Dharmasraya bermuara ke Sungai Batang Hari. Sungai ini tidak hanya melintasi wilayah Dharmasraya, tetapi juga mengalir dari Kabupaten Solok Selatan dan Muaro Bungo, Provinsi Jambi. Jika banjir terjadi di daerah hulu, otomatis wilayah hilir seperti Dharmasraya akan terdampak,” jelas Ardianus.
Sepuluh kecamatan yang rawan banjir tersebut yakni Koto Besar, Asam Jujuhan, Kotobaru, Pulaupunjung, Sitiung, Sembilan Koto, Koto Salak, Timpeh, Tiumang dan Padanglaweh. Satu-satunya kecamatan yang relatif aman dari banjir adalah Sungairumbai.
Menurut Ardianus, banjir di Dharmasraya memiliki karakteristik yang unik: datang secara cepat dan surut dengan cepat pula.
Namun, dampaknya dapat langsung terasa, terutama jika wilayah hulu dilanda hujan deras dan banjir kiriman.
“Jika Kabupaten Solok Selatan kebanjiran, maka Dharmasraya hampir pasti ikut terdampak,” tegasnya.
Kecamatan Sembilan Koto juga menghadapi risiko tambahan berupa tanah longsor. Kondisi geografis yang berbukit serta tidak adanya jalur alternatif menuju kecamatan tersebut membuat penanganan bencana harus dilakukan secara khusus.
“Kalau longsor atau banjir terjadi di Sembilan Koto, warga bisa terisolasi. Jalannya hanya satu, tidak ada akses lain,” jelas Ardianus.
Sijunjung Siaga Bencana Alam
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sijunjung melalui Kasi Kebencanaan, Heries, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana alam seiring dengan datangnya musim pancaroba, Rabu (24/9).
Dalam beberapa hari terakhir, wilayah Sijunjung mengalami hujan yang sering disertai angin kencang. Kondisi ini meningkatkan risiko bencana seperti pohon tumbang, tanah longsor, dan angin puting beliung, terutama bagi warga yang tinggal di dekat pepohonan besar atau di daerah rawan.
“Saat musim pancaroba seperti sekarang, bencana bisa datang kapan saja. Hujan yang turun akhir-akhir ini sering disertai angin kencang,” ujarnya.
Sebelumnya, dua unit rumah warga di kawasan Tanjung Gadang mengalami kerusakan akibat diterjang angin puting beliung.
Menyikapi kejadian tersebut, Tim Pemerintah Kabupaten Sijunjung segera turun ke lokasi untuk memberikan bantuan logistik dan bahan makanan kepada korban terdampak.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, kerugian materi ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.
BPBD mencatat sejumlah wilayah di Kabupaten Sijunjung masuk kategori rawan bencana, di antaranya Nagari Silokek, Durian Gadang, Muaro, Tanjung Gadang, Lubuktarok, dan Sumpurkudus. Bencana yang paling sering terjadi di wilayah ini adalah tanah longsor, pohon tumbang, dan banjir. (ita/atn)
Editor : Novitri Selvia