Pernah Jadi Tukang Becak, Mahyeldi: Tak Ada Alasan untuk Menyerah

Hendra Efison • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 18:46 WIB
Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah memotivasi siswa SRT 3 Dharmasraya dengan kisah perjuangan hidupnya, Jumat (31/7/2026).
Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah memotivasi siswa SRT 3 Dharmasraya dengan kisah perjuangan hidupnya, Jumat (31/7/2026).

PADEK.JAWAPOS.COM– Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah membagikan kisah perjuangan hidupnya kepada ratusan siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 3 Dharmasraya saat kegiatan Open House dan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027, Jumat (31/7/2026).

Di hadapan siswa, guru, dan orang tua di SRT 3 Dharmasraya, Nagari Sungai Kambut, Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya, Mahyeldi mengatakan kondisi ekonomi keluarga bukan alasan untuk berhenti mengejar pendidikan dan kesuksesan.

Mahyeldi mengungkapkan dirinya lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai buruh angkut di Pasar Bawah Bukittinggi, sedangkan ibunya memiliki keterbatasan fisik namun tetap bekerja menerima jahitan untuk membantu perekonomian keluarga.

Ia menyebut keluarganya memiliki tujuh bersaudara dan enam di antaranya berhasil menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi.

“Tidak ada alasan untuk menyerah hanya karena berasal dari keluarga sederhana,” ungkap Mahyeldi di hadapan para siswa.

Mahyeldi Pernah Merantau dan Jadi Tukang Becak

Mahyeldi juga menceritakan dirinya pernah merantau dan bekerja sebagai tukang becak sebelum melanjutkan pendidikan hingga akhirnya dipercaya memimpin Sumatera Barat.

Pengalaman tersebut menjadi alasan Mahyeldi terus mendorong para siswa agar tidak merasa rendah diri dan berani memiliki cita-cita tinggi.

“Tidak ada hambatan untuk menjadi sukses. Yang paling penting adalah semangat belajar, kerja keras, doa, dan dukungan orang tua,” ujarnya.

Ia kemudian mengajak para siswa mengepalkan tangan sebagai simbol tekad untuk berjuang. Seruan “Sekolah Rakyat 3 Dharmasraya!” yang disampaikan Mahyeldi dibalas ratusan siswa dengan jawaban, “Kami siap sungguh-sungguh!”

Menurut Mahyeldi, setiap anak Sumatera Barat memiliki warisan perjuangan dari tokoh-tokoh bangsa. Ia menyebut nama Bung Hatta, Mohammad Yamin, Buya Hamka, Mohammad Natsir, dan Tan Malaka sebagai bagian dari sejarah perjuangan yang harus menjadi inspirasi generasi muda.

Titip Pesan kepada Guru dan Orang Tua

Mahyeldi juga mengingatkan para siswa mengenai sejarah perjuangan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang melewati wilayah Dharmasraya. Ia meminta semangat perjuangan tersebut diwariskan kepada generasi muda untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Karena itu jangan pernah merasa rendah diri. Kalian juga bisa menjadi gubernur, presiden, tentara, polisi, jaksa, dokter maupun profesi hebat lainnya,” tegasnya.

Kepada para guru, Mahyeldi berpesan agar setiap siswa dididik dengan keikhlasan, kasih sayang, dan keteladanan. Menurutnya, peran guru tidak sebatas mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk karakter dan masa depan peserta didik.

Sementara kepada orang tua, ia meminta agar terus memberikan perhatian, doa, dan dukungan selama anak-anak menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat.

Mahyeldi optimistis SRT 3 Dharmasraya dapat menjadi pelopor pendidikan inklusif di Sumatera Barat. Ia berharap sekolah tersebut mampu melahirkan generasi cerdas, berkarakter, berdaya saing, dan calon pemimpin Indonesia pada masa depan.

“Insyaallah dari Sekolah Rakyat inilah akan lahir pemimpin-pemimpin besar yang membawa Indonesia menuju Indonesia Emas 2045,” tutup Mahyeldi.(*)

Editor : Hendra Efison
MPLS 2026 SRT 3 Dharmasraya Sekolah Rakyat Dharmasraya mahyeldi ansharullah tukang becak