Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Pupuk Langka, Petani Jagung Agam Tunda Tanam

Putra Susanto • Sabtu, 9 Mei 2026 | 09:35 WIB
Lahan jagung milik petani di Lubukbasung dibiarkan kosong dan belum ditanami akibat sulitnya mendapatkan pupuk subsidi dalam hampir dua bulan terakhir. Kondisi tersebut membuat sebagian petani terpaksa menunda masa tanam. (PUTRA/PADEK)
Lahan jagung milik petani di Lubukbasung dibiarkan kosong dan belum ditanami akibat sulitnya mendapatkan pupuk subsidi dalam hampir dua bulan terakhir. Kondisi tersebut membuat sebagian petani terpaksa menunda masa tanam. (PUTRA/PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM - Kelangkaan pupuk subsidi mulai memukul petani di Kabupaten Agam. Sejumlah petani jagung di Lubukbasung terpaksa menunda masa tanam karena pupuk sulit diperoleh dalam hampir dua bulan terakhir.

Petani jagung di Jorong Surabayo, Lubukbasung, Sutan Rajo Ameh, mengaku kondisi tersebut sangat berdampak terhadap aktivitas pertanian mereka. Menurutnya, tanaman jagung sangat bergantung pada pupuk agar bisa tumbuh subur dan berbuah.

“Kalau jagung kurang pupuk, apalagi tidak dipupuk sama sekali, tidak jadi. Berbeda dengan padi, kurang pupuk masih tumbuh, paling daunnya menguning,” katanya, Jumat (8/5).

Ia menyebut pupuk non subsidi memang masih tersedia di sejumlah distributor, namun harganya terlalu mahal bagi petani. Harga pupuk non subsidi hampir dua kali lipat dibanding pupuk subsidi.

Kondisi serupa juga diakui petani lainnya, Anizur. Ia mengaku terpaksa menunda menanam jagung karena merasa belum pasti akan mendapatkan pupuk subsidi dalam waktu dekat.

Ia menjelaskan, tanaman jagung membutuhkan pemupukan dua kali agar dapat tumbuh optimal dan menghasilkan panen yang baik. Pemupukan pertama dilakukan saat tanaman berusia sekitar 15 hari, kemudian dilanjutkan pemupukan kedua tiga pekan setelahnya. Keterlambatan pemupukan disebut dapat mempengaruhi pertumbuhan dan kesuburan tanaman.

Sementara itu, Kabid Prasarana dan Sarana Pertanian Dinas Pertanian Agam, Yasriandi, membenarkan terjadinya keterlambatan distribusi pupuk subsidi. Menurutnya, kondisi tersebut dipicu adanya peralihan produsen pupuk.

Ia menjelaskan, sebelumnya pasokan berasal dari PT Pupuk Iskandar Muda di Aceh. Namun, berdasarkan informasi dari Pupuk Indonesia, pabrik tersebut terdampak bencana sehingga distribusi dialihkan ke PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Palembang.

“Informasi yang kami dapat dari Pupuk Indonesia seperti itu. Namun untuk kepastian detailnya kami juga belum tahu,” ujarnya.

Akibat peralihan tersebut, rantai distribusi pupuk ke daerah ikut terdampak. Kendati pupuk tetap masuk ke Agam, tetapi jumlahnya jauh dari kebutuhan petani.
“Misalnya permintaan 30 ton, yang datang hanya 10 ton,” katanya.

 

Menurut Yasriandi, kondisi itu tidak hanya terjadi di Lubukbasung, tetapi hampir di seluruh wilayah Agam. Ia memperkirakan distribusi pupuk baru kembali normal dalam satu hingga dua bulan ke depan.

Ia juga mengamini mahalnya harga pupuk non subsidi di pasaran. Saat ini harga pupuk NPK mencapai Rp 190 ribu per karung, sementara urea sekitar Rp 185 ribu per karung.

Selain persoalan distribusi, alokasi pupuk subsidi untuk Agam tahun 2026 juga dinilai masih belum mencukupi kebutuhan petani. Yasriandi menjelaskan, kebutuhan pupuk urea di Agam mencapai 11.492,88 ton, sementara alokasi yang tersedia hanya 10.581 ton. Sedangkan kebutuhan pupuk NPK mencapai 17.763,33 ton, namun alokasi yang tersedia hanya 12.496 ton.

Meski demikian, biasanya pemerintah pusat kembali menambah kuota pupuk subsidi pada pertengahan tahun. “Biasanya di pertengahan tahun ada tambahan alokasi lagi,” pungkasnya. (ptr)

Editor : Adriyanto Syafril
#pupuk langka #petani jagung