Antusias masyarakat Jorong Subarangsukam, Nagari Muaro, Kecamatan Sijunjung berziarah ke Makam Syekh Abdul Wahab meningkat sejak sepuluh hari terakhir.
Seiring masuknya bulan Sa’ban 1443 H. Dalam momentum tahunan tersebut masyarakat juga mengais rezeki dengan berjualan makanan ringan, buah segar, dan beraneka kuliner lokal sebagai oleh-oleh. Pekarangan rumah penduduk di sepanjang ruas jalan menuju Calau pun tampak bersih, rapi, tertata.
Kompleks pemakaman Syekh Abdul Wahab sendiri berada sekitar 600 meter dari Jalan Lintas Muaro Sijunjung, dengan gerbang luar terdapat tepatnya di kawasan Pasar Jumat, Nagari Muaro, Kecamatan Sijunjung. Untuk menuju lokasi, pengunjung bisa menggunakan kendaraan roda dua dan empat.
Kecuali bus umum (kendaraan berbadan besar), harus parkir di dekat gerbang luar, Pasar Jumat. Mengingat lebar jalan ke lokasi relatif sempit. Dahulu, jembatan Batang Sukam masih berupa jembatan gantung, kemudian sempat putus akibat kelebihan muatan.
Sejumlah pengunjung meninggal dunia, belasan lainnya kritis. Berselang tiga tahun kemudian fisik jembatan dibangun ulang menjadi jembatan permanen.
Sesampai di lokasi, pangunjung disambut nuansa Calau nan religius, kompleks pemakaman Syekh Abdul Wahab sendiri terdapat agak di ketinggian di atas guguk, di bawahnya berdiri sebuah surau pusat pengajian dengan arsitektur ala Surau Tuo Minangkabau, atap lancip.
Surau tersebut tak lain merupakan peninggalan Syech Abdul Wahab, bernama Surau Tenggih. Berikut pemondokan-pemondokan santri/jamaah, asrama, serta gedung pusat pengelolaan kompleks Calau.
Diselingi rumah-rumah penduduk dengan kultur sosial masyarakat cukup kental berbalut nuansa Islam. Setiap tiba waktu shalat warga menghentikan segala aktivitas , seraya secara bersama menunaikan shalat fardu berjamaah di Surau Tuo, di sore hari anak-anak mengikuti ritual mengaji.
Demikian perkampungan Calau, Muaro Sijunjung, sebuah perkampungan religius yang dikenal sebagai pusat perguruan dan penyebaran Islam di seantro Sijunjung, beraliran tarekat Syattariyah.
Tak heran bila Calau oleh daerah lain dipandang sebagai salah-satu perkampungan khas, pusat ilmu keagamaan di bawah binaan seorang ulama, disebut tuangku. Sesampai di kompleks Calau terlihat para jamaah terlebih dahulu menunaikan shalat sunat di Surau Tuo, diikuti shalat fardhu wajib.
Kemudian secara berkelompok (sesama anggota rombongan) berjalan menuju tampat, kompleks pemakaman Syekh Abdul Wahab, yang lokasinya sekitar 70 meter berada agak ketinggian persis di atas komplek surau. Momentum ini menjadi rutual puncak para pengunjung, ziarah ke makam guru, Syekh Abdul Wahab.
Pusara Syekh Abdul Wahap diapit oleh dua pusara lainnya, yakni Syekh Ahmad, dan Syekh Djalaluddin. Syekh Ahmad merupakan anak Abdul Wahab, sementara Djalaluddin tercatat sebagai kemenakan. Ketiga makam ini berdiri satu atap, telah dipugar, secara legalitas tercatat sebagai peninggalan sejarah purbakala di bawah naungan BPCB Batusangkar.
Di kompleks pemakaman para jamaah membaca Al Quran, bersalawat, tahlilan, berzikir, dengan posisi duduk melingkar menghadap ke pusara Syekh Abdul Wahab. Atas jasa-jasa dalam menyebarkan Islam di berbagai daerah, tak ketinggalan para jamaah juga mendoakan Syekh Abdul Wahab agar diberi ke lapangan, hingga kelak ditempatkan di tempat yang mulia.
Seorang ketua rombongan asal Tanjungbaso, Nagari Sungaibuluh Barat, Pariaman, Alimunar, menyebutkan, kedatangannya ke Calau bertujuan untuk berziarah. Menurutnya Syekh Abdul Wahab semasa masih hidup dikenal sebagai ulama besar, penyebar Islam terkemuka di wilayah Sijunjung sekitarnya, beraliran Tareqat Sattariyah, turunan dari Syekh Abdul Rauf Singkil, Aceh.
Seperti halnya Syekh Burhanuddin di Ulakan, Pariaman, selaku penyebar Islam terkemuka di ranah Minangkabau. Ulama zaman dahulu, sebutnya, berbeda dengan sekarang. Dalam memberikan bekal ilmu senantiasa semata-mata mengharap ridha Allah SWT.
“Di hari baik menjelang Ramadhan, kami menyempatkan diri berziarah ke Calau, sekaligus memanjatkan doa, dan memohon ridho-Nya,” ujar Buya Alimunar yang saat itu membawa lebih dari 25 orang jamaah.
Hal senada juga dingkapkan Bandaro, seorang pengunjung asal Padangpariaman. Kedatangannya ke Calau untuk menziarahi makam Syekh Abdul Wahab sekaligus menjalin hubungan kekeluargan antar sesama umat muslim.
“Entah bagaimana dahulunya bentuk keyakinan masyarakat sebelum Islam masuk, hingga sejumlah ulama turun berjuang meyiarkan Islam yang diridhoi Allah SWT. Termasuk diantaranya di Sijunjung oleh Syekh Abdul Wahab. Berbagai halangan dan rintangan dihadapinya,” jelasnya.
Penjaga Makam, Karimun,60, menyebut, kompleks makam Syekh Abdul Wahab diyakini sakral, berada di bawah pertanggungjawaban ninik mamak Nagari Muaro, berbagai ritual keagamaan nagari kerap diadakan di sini. Secara adat Syekh Abdul Wahab tercatat bersuku Kampai.
Untuk tetap terjaganya ajaran agama yang diwarisi Syekh Abdul Wahab, sistem kekhalifahan di pusat perguruan agama, Calau didaulatkan pada Tuangku Umar, hingga setiap warga masyarakat yang ingin belajar ilmu agama diakomodir. Selain mengajarkan pengajian pada warga sekitar, wirid mingguan, juga aktif kegiatan mengaji anak-anak.(***)
Editor : Novitri Selvia