Masjid berlokasi di jalan lintas Bukittinggi-Medan atau persisnya di Jorong Sipisang, Nagari Nan Tujuah, Kecamatan Palupuah, salah satu masjid tertua di Palupuah mulai didirikan pada tahun 1815 lalu dan rampung dibangun pada 1821.
Keberadaan masjid ini sempat menjadi pusat penyebaran Tarekat Naqsyabandiyah yang dibawa Syekh Ibrahim Kumpulan saat berkecamuknya perang Paderi di Kabupaten Pasaman (1803-1838) lalu. Sebelum memasuki Bonjol, Kabupaten Pasaman, daerah yang akan dilintasi ialah Nagari Nan Tujuah yang berjarak 41 kilometer dari Bukittinggi arah ke Bonjol.
Sejarah awal pembangunan Masjid Nurul Hikmah Sipisang dibangun secara swadaya oleh masyarakat setempat. Syeikh Ibrahim Kumpulan yang ikut membantu Tuanku Imam Bonjol berjuang pada Perang Padri kala itu, juga turut terlibat dalam pembangunan masjid tersebut.
Penyuluh Agama Kecamatan Palupuh, Afriadil Hamsyah menyebut, kontruksi bangunan Masjid Nurul Hikmah Sipisang berukuran 12×11 meter dengan memiliki satu tonggak tua atau tonggak ”macu” terbuat dari kayu. Diterangkan, kayu tonggak tuo itu berasal dari rimbo Kelok Madang Jambu, dengan panjang lebih kurang 15 meter.
Berdasarkan keterangan tetua setempat beber Afriadil, ada cerita tersendiri pula tentang tonggak tua yang digunakan itu. Selain harus diangkut dari jarak 3 kilometer dari arah Selatan ke lokasi, kayu tersebut juga diselimuti cerita spiritual.
”Saat kayu itu diambil, kayu tersebut berbunyi seperti suara kerbau dan masyarakat tidak dapat untuk menarik kayu tersebut walaupun sudah ditambah orang yang menariknya,” ucap Afriadil, Rabu (13/4).
Syekh Ibrahim Kumpulan yang mendapat kabar kesulitan yang dihadapi masyarakat membawa kayu untuk tiang ”macu” itu kemudian datang membantu. Ulama terpandang pembawa ajaran Tarekat Naqsyabandiyah ke wilayah setempat itu datang dan memukul (malacuik) kayu itu sebanyak 3 kali dengan daun, baru kayu itu dapat dibawa oleh masyarakat ke lokasi pembangunan masjid.
Setibanya di lokasi kata dia, saat pemasangan tonggak macu masyarakat kembali kesulitan dan tidak bisa mengangkat kayu tersebut. Lagi-lagi, Syekh Ibrahim Kumpulan yang juga dikenal dengan Inyiak Linduang Surau Batu Kumpulan kembali datang untuk membantu. Syekh Ibrahim menumpukan tumitnya ke kayu, setelah itu baru masyarakat bisa memasangkan tunggak tuo masjid tersebut.
”Selain sarat cerita spiritual, masyarakat di sini juga memperoleh pengalaman, bahwa dari dulu sampai tahun 80an kalau ada masyarakat yang berkata-kata tidak pantas di dalam masjid, di malam harinya akan terdengar suara gemuruh dari dalam masjid. Namun, sekarang sudah tidak seperti itu lagi,” sebut Afriadil.
Di masa Syekh Ibrahim Kumpulan lanjut dia, menandai awal keberadaan Tarekat Naqsyabandiyah dan Nagari Nan Tujuah menjadi poros penyebaran tarekat itu di Palupuah. Selain Syekh Ibrahim Kumpulan, tokoh lain yang juga terlibat dalam aktivitas keagamaan di masjid ini adalah Syekh Muhammad Said Al-khalidi Bonjol (1881-1979).
Ia diketahui sebagai ulama yang menerima suluk pengikut Tarekat Naqsyabandiyah di Masjid Sipisang. Sepeninggal Syekh Muhammad Said, aktivitas suluk pun sudah tidak lagi dilakukan di masjid ini, lantaran ketiadaan guru yang akan menerima suluk.
”Kendati begitu, masih ada satu jorong yang menjalankan ajaran Tarekat Naqsyabandiyah hingga kini. Yakni di Jorong Kuran-kuran yang berpusat di Masjid Jami’ Kuran-kuran. Untuk wilayah Nan Tujuah hanya tersisa sebagian kecil masyarakat pengikut Tarekat Naqsyabandiyah ini,” tuturnya.
Masjid Nurul Hikmah Sipisang memiliki keunikan dengan rupa bangunan khas Minangkabau. Secara keseluruhan bangunan masjid memiliki pola atap tumpang beranjung tiga. Semula masjid ini beratap ijuk. Kini, atap masjid sudah diganti dengan berbahan seng.
Meski sudah berusia lanjut, kondisi masjid tetap baik hingga sekarang. Memang beberapa bangunan masjid telah mendapat sentuhan renovasi, terutama lantai, dinding, plafond dan tonggak ”macu” dan tiang lain. Renovasi juga dilakukan pada bagian mihrab. Pada tahun 2005-2006 dilakukan penggantian dinding dengan triplek yang sebelumnya menggunakan lapiah bambu.
Saat ini kegiatan ubudiah, pengajian, pendidikan, acara tasyakuran serta kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya masih banyak dilangsungkan di masjid tua ini. Sampai sekarang kata Afriadil, masjid masih difungsikan sebagai tempat pembinaan generasi muda baik di bidang agama maupun bidang adat.
Tempat musyawarah dan mufakat oleh masyarakat dan generasi muda. ”Di sebelah Masjid Sipisang saat ini sudah dibangun sebuah masjid baru bernama Masjid Nurul Hikmah. Aktivitas peribadatan secara keseluruhan sudah dipindahkan ke masjid baru,” ujarnya.
Ditambahkannya, sejarah Masjid Nurul Hikmah Sipisang telah dicatat dengan rapi oleh pengurus masjid pada akhir 2004 silam. Para pengurus waktu itu diketuai Rizwan dan Aguswandi sebagai sekretarisnya, sedang Wali Jorong Sipisang saat itu yakni Inyiak Dt Bagindo.
”Sebagai rujukan sejarah, pengurus membuka catatan atau berita dari Inyiak Tk Basa Tuo ketika itu berumur 84 tahun, Inyiak Tk Basa Jalelo atau Inyiak Imam Masjid Nurul Hikmah Sipisang, Inyiak Rasidin Tk Mudo dan tokoh tokoh masyarakat Sipisang dalam salinan ke 1 tahun 1969,” sebutnya. (***) Editor : Novitri Selvia