Melihat bangunan surau Lubuak Landua seolah-olah kita tidak percaya bahwa usia surau ini sudah berumur lebih kurang 98 tahun. Dengan usia yang sudah mendekati satu abad itu, surau ini tetap kokoh berdiri meskipun masih berdindingkan papan.
Bangunan ini sekokoh semangat untuk mengembangkan ajaran Agama Islam di Pasbar. Surau Lubuak Landua salah satu surau yang terletak di Kecamatan Pasaman, Pasbar. Lokasi tersebut berjarak kurang lebih 10 km dari pusat kota Simpangempat, Ibu Kota Kabupaten Pasbar.
Infomasinya, penyebaran agama Islam di Pasbar salah satunya berada di Lubuak Landua. Hal ini dibuktikan dengan sejarah surau tua yang masih tetap berdiri kokoh yang hingga menjadi tempat masyararakat belajar agama Islam dan silat. Keduanya, tidak bisa dipisahkan di dalam belajar agama Islam sejak dulu kala.
Surau ini didirikan Buya Lubuak Landua I, yakni Syekh Maulana Muhammad Basyir.
Kepemimpinan Syekh Lubuak Landua hingga saat ini terus berganti menurut keturunan yang ada Pada masa kepemimpinan Syekh Maulana Muhammad Basyir, pembelajaran Islam lebih difokuskan pada pengembangan ilmu tasawuf dan tarekat. Murid syekh ini diperkirakan berjumlah ratusan ribu orang tersebar di seluruh Indonesia.
Syekh Muhammad Basyir juga merintis dimulainya ikan larangan di sungai Surau Lubuak Landua. Beliau wafat tahun 1921 dalam usia 122 tahun. Wafatnya Buya Lubuak Landua I, kepemimpinan surau dan penyebaran agama Islam diamanahkan dan dilanjutkan kepada putra beliau yakni Buya Lubuak Landua II atau Syekh Muhammad Amin.
Namun kepemimpinan beliau tidak berlangsung lama karena pada tahun 1927 Syekh Lubuak Landua II berpulang ke Rahmatullah. Syekh Abdul Majid Khalidi menjadi penerus kepemimpinan Syek Lubuak Landua selama kurang lebih 57 tahun, karena pada tahun 1984 beliau di panggil Allah SWT.
Kepemimpinan surau kemudian dilimpahkan kepada adiknya yakni Syech Abdul Jabar. Beliau memimpin surau ini hanya lebih kurang sekitar 7 tahun sebelum wafat pada tahun 1991.
Selanjutnya, kepemimpinan surau dilanjutkan oleh Buya Bahri hingga tahun 2008, dan kemudian diamanahkan kepada Syekh Mustafa Kamal dalam mengembangkan para jamaah mendalami Islam sesuai dengan tuntunan Al Quran dan Sunah Rasul.
Sejak dahulu kala, Surau Lubuak Landua dijadikan pengikutinya sebagai tempat ritual berdoa dan berzikir atau melakukan Suluak. Ibadah Suluak merupakan suatu kegiatan ibadah kepada Allah SWT di dalam surau untuk mendapatkan petunjuk dari-Nya dengan cara mengurung diri di tempat yang berukuran kecil yang tertutup dengan kain.
Cara ini bertujuan agar ibadah mereka dapat lebih khusuk dalam melakukan ibadah atau berzikir. Meski sudah dimakan usia, namun surau ini masih tetap kokoh berdiri dan masih dijadikan sebagai tempat menimba ilmu bagi masyarakat.
Surau dan makam Buya Lubuak Landua I selalu ramai dikunjungi banyak orang. Selain dijadikan sebagai tempat beribadah, tidak sedikit pula di antara mereka yang meminta doa di makam makam Buya Lubuak Landua I tersebut.
Hingga kini surau ini masih terus dirawat sebagai upaya pelestarian sejarah dan tujuan wisata religi sebagai masjid tua kebanggaan warga Pasbar. Pemkab Pasbar sendiri juga menjadikan Surau Lubuak Landua sebagai tempat wisata religi andalan Pasbar.
Tidak Surau dan makam saja yang dikunjungi masyarakat,ikan lubuk larangan yang didirikan oleh Syekh Basyir ini konon telah berusia ratusan tahun sangat rame dikunjungi oleh masyarakat.
Untuk menjaga kerifan lokal, biasanya setiap tahun ratusan masyarakat menghadiri tradisi lebaran ke enam di surau (mesjid) Lubuak Landua ini. Momentum itu sudah menjadi kegiatan rutin setiap tahunnya.
Menurut Wabup Pasbar Risnawanto menjelaskan, tradisi lebaran itu dinamakan ”manjalang Buya Lubuak Landua” mendapat perhatian dari masyarakat setempat. Tradisi ini sudah berjalan ratusan tahun di daerah itu. ”Tradisi itu perlu dipelihara dan dilestarikan. Saya siap mendukung untuk pelestarian tradisi ini,” katanya.
Biasanya, acara diawali dengan berjalan kaki sepanjang 2,5 kilometer dari kantor wali nagari menuju surau Buya Lubuak Landua, Kecamatan Pasaman. Para bundo kandung juga akan membawa puluhan bekal atau jamba diisi dengam singgang ayam dan nasi kunik.
Sampai di depan sSurau Buya Lubuak Landua rombongan disambut dengan tari gelombang dan siriah dalam carano. Hal itu mendapat perhatian serius bagi masyarakat setempat, bahkan juga Forkopimda juga ikut dalam prosesi manjalang buya tersebut.
Kegiatan ini juga menjadi agenda tahunan bagi Dinas Pendidikan Kebudayaan dan Dinas Pariwisata. Karena kegiatan tersebut termasuk, budaya/tradisi dan wisata religi. ”Kegiatan itu sangat banyak manfaatnya untuk kita semua. Selain menjadi sebuah tradisi juga bisa menjalin hubungan silaturahmi,” kata Risnawanto.
Kepala Dinas Pariwisata Pasbar, Decky Harmiko Syaputra menyampaikan hubungan siraturahmi itu perlu ditingkatkan agar persatuan dan kesatuan terus terpupuk dengan baik. Sekilas sejarahnya, kegiatan ini tradisi yang dilaksanakan setiap tahunnya guna menghormati Syehk Muhammad Bashir yang diberi gelar dengan nama buya Lubuak Landua.
Dia adalah salah seorang tokoh agama pada zaman dahulu. Di mana, Jorong Lubuk Landur menjadi salah satu pusat pengembangan agama Islam di Pasaman Barat. Sejak Islam masuk ke Nagari Auakuniang, boleh dikatakan pusat Islam Pasaman Barat terletak di Jorong Lubuk landur.
”Acara adat itu biasanya dilaksanakan di Surau (Muyawarah shalla) Buya Lubuak Landua yang biasanya diadakan pada hari ke enam pascalebaran,” tambahnya. Dikatakan, surau unik ini didirikan oleh Buya Lubuak Landua yang dimanfaatkan masyarakat selain untuk beribadah sehari-hari juga untuk Basuluak pada waktu tertentu.
Diluar acara tradisi manjalang Buya Lubuk Landua, banyak masyarakat yang datang untuk memenuhi hajat ketempat ini. Konon katanya dengan berkunjung ke makam Buya, akan dikabulkan doanya. Ada juga yang hanya berkunjung untuk berwisata baik dari dalam maupun luar daerah Lubuak Landua.
Selain melakukan kunjungan religi terhadap situs budaya untuk mengetahui awal perkembangan Islam di Pasaman Barat. Pihaknya juga disuguhi pemandangan sungai yang didalamnya berisi ratusan ikan yang tidak boleh dipancing apalagi dimakan.
Masyarakat memberikan julukan dengan nama ikan larangan Lubuak Landua. Lokasi ikan larangan Lubuak Landua berada diJ Jorong Lubuak Landua ini bersebelahan dengan Surau Buya Lubuk Landur dengan berjarak ± 10km dari ibukota kabupaten dapat ditempuh dengan kendaran roda dua dan kendaraan roda empat.
Ikan Larangan ini dibuat oleh Buya Lubuak Landua, dipercaya masyarakat setempat ikan ini tak boleh diambil apalagi dikonsumsi tanpa izin dari Buya. Karena dapat menimbulkan malapetaka bagi yang melakukannya.
Bagi Anda yang ingin melakukan kunjungan ke situs peninggalan sejarah Islam di Pasbar. Ada baiknya berkunjung ke daerah ini. ”Apalagi bagi Anda yang penasaran ingin mengetahui mistis apa yang melatarbelakangi keberadaan ikan larangan yang tidak boleh diganggu ini,” katanya. (***) Editor : Novitri Selvia