Hingga saat ini, salah satu masjid yang menjadi tempat dia mengajarkan agama Islam yakni, Masjid Nurul Yakin Matobe. Seperti apa kisahnya?
Lahir dan dibesarkan di lingkungan Muhammadiah sekitar 1930 silam, tidak membuat Baharuddin kala itu mengabdi sekaligus mengenalkan agama Islam di tengah masyarakat Mentawai kala itu masih meyakini kepercayaan leluhur atau dikenal dengan istilah arat sabulungan.
Usai menamatkan Pendidikan Guru Agama (PGA) di kampung halamannya, dia diutus dan berangkat ke Mentawai, tepatnya di Pulau Sipora, desa Saurenu sekitar usia 18 tahun sebagai guru.
Konon, kala itu untuk datang ke Mentawai bisa memakan waktu hingga 2 hari 2 malam menggunakan biduk pincalang atau kapal layar. Setelah sampai di dermaga Sioban sebagai pelabuhan tertua di Pulau Sipora, Baharuddin kala itu mesti menaiki perahu atau sampan dan menyusuri Sungai Saurenu.
Di mana, saat itu belum ada jalan darat menuju ke sana. Kedatangan Baharuddin di Saurenu kala itu disambut baik masyarakat setempat. Apalagi, kehadiran seorang guru yang mengajarkan ilmu pengetahuan sudah sangat lama didambakan masyarakat kala itu. Meski awalnya sempat kesulitan dalam hal berkomunikasi, namun hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk mengabdikan diri di daerah tersebut.
Berbekal keikhlasan, Baharuddin pelan-pelan tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, namun juga mengenalkan Islam kepada murid-muridnya dan masyarakat kala itu masih menganut kepercayaan animisme. Bahkan, salah satu tradisi penyelenggaraan kematian dulunya hanya dibungkus dengan kulit kayu dan ditaruh pada suatu tempat, perlahan mulai berubah.
Agama Islam yang dibawa Baharuddin mendapat perhatian dari masyarakat setempat. Termasuk tata cara ibadah, seperti shalat yang sangat unik di mata mereka ketika Baharuddin melaksanakannya. Hampir 90 persen warga Saurenu kala itu masuk Islam. Bahkan, akhirnya Baharuddin menambatkan hatinya pada perempuan Saurenu bersuku Tatubeket bernama muslim Nurjani.
Mulhadi, 48, salah seorang anak dari almarhum mengatakan bahwa banyak hal yang membuat orang Mentawai di Saurenu kala itu mudah menerima Islam. Selain sosok guru Baharuddin yang sangat disegani masyarakat setempat, juga metode dakwah lemah lembut menjadi daya tarik tersendiri.
“Almarhum papa dikenal sebagai orang yang sangat penyabar. Ini juga salah satu daya tarik masyarakat kala itu. Beliau juga tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan di sekolah kala itu setingkat sekolah dasar, namun juga memberikan contoh bagaimana cara bercocok tanam,” ungkapnya.
Belum sepenuhnya menancapkan pondasi-pondasi Islam kepada masyarakat yang sudah mualaf, Baharuddin kala itu harus meninggalkan Saurenu karena urusan keluarga di kampung halamannya di Sialang, Limapuluh Kota.
Ketika kembali ke Mentawai, Baharuddin diduga terlibat PRRI yang menyulitkannya keluar. Selama di Sialang, atas permintaan orangtuanya, Baharuddin dijodohkan dengan seorang perempuan pilihan orangtuanya dan akhirnya juga memiliki dua orang anak.
Barulah beberapa tahun setelah situasi mulai kondusif, Baharuddin kembali ke Mentawai dan mengajak istri keduanya itu ke Mentawai. Namun, sang istri menolak dan akhirnya memilih menetap di Kota Padang.
Akhirnya, Baharuddin sendirian berangkat ke Mentawai mendapati masyarakat sudah banyak pindah keyakinan bersamaan masuknya misi zandik dari Jerman. Bahkan, sang istri pertama juga sudah pindah keyakinan dan menikah dengan pria pilihan orangtuanya.
“Namun, sebelum almarhum mama menikah dengan ayah tiri kami, dia sudah membuat perjanjian akan meninggalkannya jika Papa kembali ke Mentawai. Dari ayah tiri itu, mama punya seorang anak perempuan yang pada akhirnya tetap bertahan dengan keyakinanya, meski almarhum papa sudah sempat mengajaknya untuk menjadi muslim,” ungkap Mulhadi yang juga kini salah seorang kandidat doktor di Universitas Sumatera Utara itu.
Meski sudah banyak berpindah keyakinan, sebagian lainnya juga masih tetap bertahap dijalan tauhid. Namun, mereka memilih migrasi ke Matobe (sekarang Desa Matobe, red) yang dulunya kawasan perladangan warga asli Saurenu. Akhirnya, Baharuddin pun kembali menikah dengan istri pertamanya dan membawanya pindah ke Matobe.
Barulah setelah tinggal dan menetap di Matobe, Baharuddin mulai kembali mengajar dan berdakwah yang akhirnya memiliki sembilan orang anak dari istri pertamanya itu. Bahkan, salah satu masjid yang sempat dirintisnya, yakni, Masjid Nurul Yakin Matobe. Bahkan, di Masjid ini dia menjadi imam tetap hingga pensiun dari profesinya sebagai seorang tenaga pendidik.
Masjid ini juga tercatat menjadi salah satu masjid tertua kedua di Pulau Sipora setelah masjid Nurul Iman Sioban. Syamsuddin, 65, salah seorang tokoh dan juga ulama di Desa Matobe mengatakan bahwa keberadaan Masjid Nurul Yakin Matobe tidak terlepas dari perjuangan guru Baharuddin.
“Ayah saya salah seorang yang mengenal Islam melalui guru Baharuddin. Karena, tidak tahan dengan olok-olokkan orang-orang di Saurenu yang sudah murtad, akhirnya ayah memilih pindah ke Matobe bersama kaum muslim lainnya. Saat ini, hampir 100 persen orang Matobe beragama Islam,” ungkapnya.
Sekitar tahun 2003, Baharuddin wafat dan dimakamkan di Kota Padang. Meski tinggal di Mentawai, dua putra-putrinya dari istri pertama tetap dibesarkannya dan berhubungan baik dengan keluarga istri pertamanya yang juga muridnya sendiri. Hingga saat ini, tidak ditemukan peninggalan berupa masjid tempat asal guru Baharuddin mengabdi di Saurenu. (***) Editor : Novitri Selvia