Surau ini didirikan Syekh Muhammad Thaib seusai pulang dari menuntut ilmu agama di Mekkah. Surau itulah dijadikan lahan dakwahnya guna menyebarkan ajaran agama Islam di Kecamatan Pauh.
Menurut Zahar Malin pengurus sekaligus imam di Surau Baru, Surau Baru menjadi salah satu sentral penyebaran Tarekat Nakshabandiyah di Kecamatan Pauh, Kota Padang. Tarekat tersebut diperkenalkan Syekh Muhammad Thaib yang juga baru kembali dari Mekkah.
Dakwah sang ulama mendapat dukungan dari masyarakat sekitar, dan sebagian tradisi, serta pengajaran Syekh Muhammad Thaib masih diajarkan sampai sekarang. Surau Baru sendiri masih mempertahankan sebagian arsitektur lamanya. Berlantai dan bertonggakan kayu, serta tempat shalat yang sederhana mencirikhaskan sebuah surau tua sama seperti umumnya.
Zahar mengatakan, sejak 1910 hingga kini masyarakat masih mempertahankan tradisi-tradisi Tarekat Naqshabandiyah meski sekarang yang aktif melakoni tradisi tersebut hanyalah golongan tua.
Sebagai salah satu corong pengembangan Tarekat Naqshabandiyah di masa kejayaannya, Surau Baru ramai diisi jamaah Tarekat Naqshabandiyah di Kecamatan Pauh. Hingga generasi ke generasi berikutnya, keturunan Syekh Muhammad Thaib ikut memfokuskan dakwah Islam di Surau Baru tersebut.
Zahar sendiri murid dari salah seorang keturunan Syekh Muhammad Thaib ketika masih muda dulu. Baginya, orang-orang digenerasi Surau Baru bagaikan sebuah madrasah ilmu yang memberikan pandangan tentang cara beragama dari sudut pandang tarekat.
Semasa mudanya, tambah Zahar, Surau Baru aktif mengelar kegiatan keagamaan dan penyelenggaraan ibadah berbasis tarekat lainnya seperti basuluak dan lainnya. Setiap Ramadhan, Surau Baru selalu ramai dikunjungi jamaah Tarekat Naqshabandiyah untuk mengelar suluk. Namun sejak tiga tahun bekalangan selama korona, suluk ditiadakan.
Meski demikian, kata Zahar, kegiatan peribadatan lainnya masih dilakukan seperti biasa.
Syekh Muhammad Thaib dan murid-muridnya menjadi daya tarik bagi masyarakat sekitar dalam meningkatkan taraf keagamaan mereka.
Dengan mempelajari tarekat warga Pauh semasa itu semakin menggiatkan diri untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sang pencipta manusia. ”Dakwah yang dilakukan tidak pernah mendapat hambatan dari siapapun dan apapun, dari yang muda hingga tua mereka bersama-sama ikut mendalami keagamaan di Surau Baru,” ucapnya.
Namun seiring berjalannya zaman dan waktu, pola pengajaran keagamaan masyarakat mulai berputar dan generasi muda sudah tidak tertarik dengan pendalaman agama melalui tarekat. Masa keemasan Tarekat Naqshabandiyah di Surau Baru hanya bertahan sampai tahun 70-an.
Namun, ia dan para generasi tua yang tersisa masih tetap berbangga hati. Terlebih, perhatian masyarakat sekitar terhadap surau masih tinggi.
”Masyarakat yang tidak mengikuti tarekat bukan berarti tidak mencintai surau, masyarakat sekitar Surau Baru masih menjaga dan merawat surau tuo ini agar tidak ikut terseret arus zaman, serta makam Syekh Muhammad Thaib yang terletak di samping Surau Baru masih terawatt hingga sekarang,” ucapnya.
Menurut Zahar, demi mencari malam lailatulqhadar jamaah akan meningkatkan ibadah pada malam tersebut. ”Selepas Shalat Tarawih berjamaah kita akan melansungkan shalat sunah tasbih. Selain itu, kita akan memperbanyak ibadah malam lainnya untuk mencari keridhoan di malam lebih baik dari seribu bulan tersebut,” tutupnya. (***) Editor : Novitri Selvia