BERLOKASI di Jl. Syekh Sulaiman Arrasuli, Jorong Lubuak Alua, Kenagarian Canduang Koto Laweh, Kecamatan Canduang, Agam, MTI Canduang saat ini terdiri dari tiga satuan pendidikan dan didukung dengan sarana prasarana yang memadai.
Yakni setingkat tsanawiyah, aliah, dan takhassus ma’had aly “Pada tahun 2019 kita sudah mulai menjalankan satuan pendidikan Takhassus Ma’had Aly, pendidikan setara Strata I. Secara keseluruhan saat ini, kita memiliki jumlah santri sebanyak kurang lebih 1300,” ujar Wakil Direktur MTI Canduang Muhammad Nazif Dt Rajo Kayo kepada Padang Ekspres, Rabu (5/4).
Wakil direktur atau yang biasa disebut wakil rais ini menjelaskan, lembaga pendidikan ini kini memiliki sarana berupa bangunan yang terdiri dari 4 gedung utama. Selain itu juga kita telah memiliki labor untuk menunjang aktivitas belajar santri. Lalu ada asrama putra dan putri. rusunawa, dan juga masjid.
Sejarah Berdirinya MTI Canduang
Berdirinya MTI Canduang tidak terlepas dari aktivitas mengajar yang dilakukan Syekh Sulaiman Ar-Rasuli atau yang lebih terkenal dengan panggilan Inyiak Canduang. Muhammad Nazif Dt Rajo Kayo, juga masih merupakan keturunan Inyiak Canduang.
Dia menceritakan, pada tahun 1906 Syekh Sulaiman Arrasuli pulang dari Makkah setelah menuntut ilmu. Setibanya di kampung halaman, ia dibuatkan surau oleh ayahnya. Namanya Surau Baru. Atau biasa disebut Surau Tinggi.
Di sinalah Inyiak Canduang pertama kali mengajarkan ilmu agama dengan metode halaqah. “ Dulu itu satu kitab dipelajari sampai tamat. Belum mengenal sistem kurikulum seperti sekarang. Pola kajian dengan halaqah ini berlangsung sekitar 20 tahun,” ujarnya.
Syekh Sulaiman Ar-Arasulli dari kecil bisa dibilang memiliki keistimewaan. Ia merupakan anak dari salah satu ulama populer kala itu Haji Muhammad Rasul. Sedari kecil ia belajar agama ke banyak guru di berbagai tempat di ranah Minang.
Diantaranya Syekh Abdul Samad Tuangku Samik di Biaro, Syekh Muhammad Ali Tuanku Korok di Sungayang, Syekh Abdul Salam di Banuhampu, Syekh Muhammad Salim Al Khairidi di Situjuah, Syekh Abdullah di Halaban, dan masih banyak yang lainnya.
Muhammad Nazif mengungkapkan, pada tahun 1902 Inyiak Canduang berangkat ke Makkah belajar dengan ulama-ulama terkenal di sana. Guru-Guru beliau seperti Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabau, Syekh Al-Nawawi Al Banteni, Syekh Muctar Al Thariq, Syekh Muhammad Safa, Syekh Syaid Umar Bajmid dan Syaid Babasir Al Yamani.
Nah terkait MTI di Sumbar, dia menyebut, berawal dari sejumlah lembaga pendidikan yang dikelola oleh sepuluh ulama besar di berbagai tempat. Selain Syekh Sulaiman Ar-Rasuli ada Syehk Ahmad Baruah Gunuang Suliki, Limapuluh Kota, dan Syekh Abas Al Qadhi dari Ladanglawas, Bukittinggi.
Lalu Syekh Muhammad Jamil Jaho di Padangpanjang, Syeh Abdul Wahid Assalihi di Tabekgadang, Syekh Muhammad Arifin di Batuhampa, Syekh Alwi di Koto nan Ampek di Payakumbuh, Syekh Jalaluddin dari Sicinncin, Syekh Abdul Majid dari Koto nan Gadang Payakumbuh, terakhir Syekh HMS Sulaiman, Bukittinggi.
“Mereka bersama pada 5 Mei 1928 bersepakat mengubah sistem belajar dengan halaqah menjadi pola sekolah atau dikenal dengan sistem kelas atau madrasah dengan masa belajar 7 tahun,” ucapnya.
Kesepakatan lainnya, memberi nama sekolah dengan nama Madrasah Tarbiah Islamiyah dengan memakai kurikulum dan kitab-kitab yang sama sesuai dengan tingkatannya. Lalu yang ketiga membentuk persatuan sebagai wadah komunikasi silaturahmi, madrasah-madrasah Tarbiyah Islamiyah.
Wadah ini kemudian menjadi cikal bakal dari organisasi Persatuan Islamiyah Tarbiyah atau yang lebih terkenal dengan sebutan Perti.
“Pada pertemuan 5 Mai 1928 tersebut hanya lahir tiga kesepakatan itu. Lalu kemudian pada 20 Mei 1930, ulama-ulama Tarbiyah tadi bermusyawarah kembali. Akhirnya dipertemuan inilah ditetapkan bahwa hari lahirnya Perti adalah 5 Mei 1928,” ucapnya.
Kata dia, awalnya Inyak Canduang tidak mau menerima sistem klasikal. Namun setelah membaca dinamika dunia pendidikan Islam di Sumatera Barat yang mulai terpengaruh oleh Wahabi dan sistem pendidikan Wahabi telah memasuki pola klasikal, maka barulah Inyiak Canduang mau menerima sistem klasikal. Dengan harapan agar generasi muda Islam di Minangkabau tidak tergerus oleh arus Wahabi.
Perkembangan Kurikulum
Berbicara terkait perkembangan kurikulum, Wakil Rais MTI Canduang ini menyatakan bahwa lembaga yang ini tetap memegang nilai-nilai utama yang diwariskan oleh Syekh Sulaiman Ar-Rasuli, sambil terus melakukan pengembangan terutama dalam hal metode.
“Sampai hari ini, yang diajarkan di MTI Canduang tetap seperti awal sekolah ini berdiri. Masih mengacu kepada apa yang diinginkan Inyiak Canduang. MTI masih mengajarkan kaidah 50, masih mengajarkan ajaran Tauhid Ahlul Sunnah Wal Jamaah. Sistem masih menggunakan kelas dan memakai kurikulum. Tentu ada pengembangan dan penyesuaian kurikulum tapi intinya tetap sama,” ujarnya.
Ia menyatakan bahwa pembaharuan sudah dilakukan sedari dulu bahkan sejak ketika masih dikelola oleh Inyiak Canduang. Sekitar tahun 1952 Inyiak Canduang mulai mengadopsi ilmu-ilmu umum untuk diterapkan di MTI. Mulai dari mengadopsi aljabar, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Kemudian pada tahun 1979, Departemen Agama mengeluarkan kurikulum tsanawiyah. Pada tahun itu seluruh pesantren termasuk MTI melaksanakan kurikulum tersebut. Dengan tidak mengikat. “Tahun 1982 pemerintah mengeluarkan kurikulum Madrasah Aliyah, dan MTI juga menjalankannya dengan tidak terikat,” ucapnya.
Pada tahun 1994 pemerintah mencanangkan wajib belajar 9 tahun. “Saat itu Departemen Agama mengeluarkan kurikulum dan kita menjalankannya,” sambungnya.
Ia menceritakan bahwa MTI Canduang pada tahun 1999 berhasil membuat kurikulumnya sendiri. Mereka menyebutnya buku putih. Buku tersebut menjadi pegangan sampai hari ini. Dengan terus dievaluasi dan dikembangkan. (Rian Afdol) Editor : Novitri Selvia