Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Ponpes Darul Ulum Yapa Kombang Baru, Didatangi dan Dapat Saran Gus Dur

Novitri Selvia • Senin, 10 April 2023 | 11:12 WIB
IKUTI ZAMAN: Pondok Pesantren Darul Ulum Yapa Kombang Baru telah berdiri sejak tahun 1965.(DOK. PONPES DARUL ULUM YAPA KOMBANG BARU)
IKUTI ZAMAN: Pondok Pesantren Darul Ulum Yapa Kombang Baru telah berdiri sejak tahun 1965.(DOK. PONPES DARUL ULUM YAPA KOMBANG BARU)
Sebagai salah satu pesantren tertua kedua di Kabupaten Pasaman, Pondok Pesantren Darul Ulum Yapa Kombang Baru berdiri sejak tahun 1965. Pimpinan pesantren generasi kedua KH Ilyas Al-Rasyidi Siregar sangat dekat dengan presiden ke-4 Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid (Gusdur), hingga pesantren ini pernah dikunjunginya.

PONDOK pesantren (ponpes) yang terletak di Nagari Padanggelugur, Kecamatan Padanggelugur, Kabupaten Pasaman ini didirikan Syekh H Muhammad Nawawi Siregar pada 8 Agustus tahun 1965. Sejak saat itu sudah mendidik lebih dari 11.000 santri.

Syekh H Muhammad Nawawi Siregar berasal dari Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Dikisahkan, Ponpe Darul Ulum Yapa Kombang Baru berdiri sebulan sebelum meletusnya Gerakan 30 September tahun 1965 (G30 S PKI). Karena mendiami daerah perkampungan, pendidikan agama saat itu tergolong langka di sana. Pada awal pendirian itu ada 16 orang yang mendaftar jadi santri.

Seiring perkembangan zaman, Darul Ulum Yapa Kombang Baru semakin dikenal kalangan masyarakat hingga tahun 1976-1985 total santri melebihi 1000 orang. Namun setelah muncul program pemerintah yang mendirikan sekolah Dasar inpres di berbagai daerah, murid Madrasah Ibtidaiyah semakin berkurang karena kendala jarak pesantren dengan rumah masyarakat.

“Karena di kampung masing-masing sudah didirikan SD kala itu, masyarakat pada akhirnya memilih untuk menyekolahkan anaknya di kampung sendiri daripada di pesantren ini. Namun untuk MTS dan Aliyah masih bertahan hingga saat sekarang,” ungkap Muhammad Idris Siregar, pemimpin generasi ketiga, kepada Padang Ekspres, baru-baru ini.

Pada tahun 1985, pendiri pondok pesantren tutup usia kemudian digantikan pewaris yang bernama KH. Ilyas Al-Rasyidi Siregar mulai tahun 1985 hingga tahun 2021, dan digantikan oleh generasi ketiga, Muhammad Idris dikarenakan pimpinan sebelumnya meninggal dunia.

Ia menceritakan, Presiden keempat Indonesia Gus Dur sangat dekat KH Ilyas Al-Rasyidi Siregar. Karena sama-sama menjadi pengurus di Nahdatul Ulama (NU). Sebab itu hingga tahun 2005, Gus Dur memutuskan untuk berkeliling Indonesia mulai dari Aceh, Sumatera Utara singgah di pesantren Mustofawiyah Purba Baru, dan dilanjutkan berkunjung di Pesantren Darul Ulum Yapa Kombang Baru.

Saat itu, diceritakan akses menuju pesantren hanya jalan setapak, dan melewati perkebunan masyarakat untuk sampai ke pesantren. “Saat kunjungan presiden, akses jalan semua dibersihkan terlebih dahulu, namun masih jalan tanah dan melewati perkebunan masyarakat,” terangnya.

Karena niat yang tulus dari presiden saat itu berkunjung ke pesantren, Gus Dur akhirnya membawa perkembangan untuk memajukan pondok pesantren dengan memberikan saran dan inovasi kepada pemimpin pesantren agar pesantren bersedia membuka diri terhadap perkembangan teknologi. Namun tidak melupakan dasar dari sebuah pesantren itu sendiri. Yaitu belajar tentang agama.

“Berkat saran dari presiden saat itu, alhamdulillah, dengan kerja sama antara pesantren Yapa Kombang Baru dengan pesantren yang ada di pulau Jawa, seperti Gontor dan pesantren yang didirikan oleh almamater Gontor, dicari guru dari pulau Jawa untuk mengajar di pesantren untuk menggambleng santri agar memahami bahasa Arab, bahasa Inggris, dan IT,” jelasnya.

Hal ini dilakukan agar santri tamatan Darul Ulum Yapa Kombang Baru, selain menguasai ilmu agama juga mampu bersaing dengan alumni sekolah lain yang notabennya sekolah umum. Kemudian pada tahun 2019, Darul Ulum Yapa Kombang Baru mendapat bantuan dari Kementrian Tenaga Kerja dan dipercaya mendirikan Komunitas Balai Pelatihan Kerja Khusus Komputer.

“Alhamdulillah, ini sesuai dengan program pemerintah, agar seluruh santri dan masyarakat yang ada di sekitar pondok pesantren untuk lebih mengenal teknologi. Intinya agar santri tidak buta terhadap teknologi, sebagaimana masyarakat hanya mengetahui bahwa kalau santri hanya bisa belajar tentang agama, tanpa mengetahui teknologi,” pungkasnya.

Hingga saat ini dari sejak berdirinya balai latihan kerja tersebut, total sudah mencapai 21 angkatan dengan masing-masing angkatan berjumlah 16 orang. Meski begitu, materi-materi yang diajarkan masih tetap berpedoman pada ilmu agama sebagimana materi yang diajarkan pesantren lain pada umumnya. Diantaranya masih mempelajari kitab kuning, nahu, dan shorof.

Namun yang menjadi pembeda pesantren Darul Ulum Yapa Kombang Baru dengan pesantren pada umumnya adalah proses pembelajaran agama tidak selalu di dalam kelas. Karena masih bisa dilakukan di asrama atau di dalam masjid.

Yang menjadi prioritas utama dalam pembelajaran di ruangan adalah pembelajaran umum, seperti bahasa Inggris, bahasa Arab dan computer. Sesuai dengan visi misi pesantrennya, mencetak ulama dan kader bangsa yang disertai dengan skill.

Untuk saat ini, tenaga pengajar berjumlah 32 orang. Tiga diantaranya didatangkan dari Pulau Jawa. Sementara untuk total santri pada tingkat MTS hampir 200 santri, dan pada tingkatan Madrasah Aliyah kurang lebih 100 santri.

Lebih lanjut, komunikasi serta hubungan baik antara pihak pesantren dan alumni selalu terjaga. Karena merupakan salah satu kunci ketenaran, dan kesuksesan dari pesantren Darul Ulum Yapa Kombang Baru hingga terus tetap bisa berkiprah di dunia pendidikan hingga saat ini.

Selaku pemimpin pesantren, Muhammad Idris Siregar berharap sebagaimana pesantren sudah tergolong dalam pesantren modern karena kesetaraan ilmu agama dan pengetahuan umum, minat dari masyarakat akan semakin tinggi terhadap ilmu agama. Karena bagaimanapun orang yang mengambil pendidikan di jalur pesantren tidak akan rugi. Dalam pesantren sudah dipadukan antara ilmu agama dan teknologi.

“Semua pendidikan itu sebenarnya sama. Yang menjadi pembeda hanya individu-individu yang belajar di dalamnya. Masyarakat hanya takut anaknya tidak mengetahui perkembangan teknologi karena belajar agama di sebuah pesantren. Jadi harus mengubah pola pikir masyarakat  agar memiliki minat yang lebih tinggi dalam belajar agama,” tutupnya. (Andika Siregar) Editor : Novitri Selvia
#Darul Ulum Yapa Kombang Baru #Andika Siregar #Ponpes Darul Ulum Yapa Kombang Baru #Syekh H Muhammad Nawawi Siregar #Ilyas Al-Rasyidi Siregar