Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Perkampungan Minangkabau Yayasan Shine Al Falah, Fasilitasi Siswa Kurang Mampu

Novitri Selvia • Selasa, 18 April 2023 | 11:36 WIB
TERUS BERKEMBANG: Para santri Pesantren Perkampungan Minangkabau dalam perayaan Hari Santri Nasional, beberapa waktu lalu.(IST)
TERUS BERKEMBANG: Para santri Pesantren Perkampungan Minangkabau dalam perayaan Hari Santri Nasional, beberapa waktu lalu.(IST)
Pesantren Perkampungan Minangkabau Yayasan Shine Al Falah tidak sekadar demi memajukan pendidikan. Masyarakat kurang mampu pun dirangkul untuk bisa mengecap pendidikan.

DIDIRKAN tahun 2012 dengan bermodalkan sebuah lokasi yang dipinjamkan masyarakat, pesantren ini terus mengoptimalkan pendidikan di kalangan para kaum duafa dan yatim. Bahkan hingga pernah pada tahun 2018 sampai menggratiskan uang pesantren 800 siswa demi mendapatkan pendidikan yang setara dan layak.

Ketua yayasan Shine Al Falah sekaligus salah seorang pendiri pesantren Syamsul Akmal mengatakan, awalnya ia dan rekan-rekannya yang lain tergerak untuk membantu sesama melalui sebuah lembaga pendidikan.

Mereka dari latar belakang yang berbeda, bersama-sama berdiskusi bagaimana membangun sebuah lembaga pendidikan yang berbasis kepada pelayanan pendidikan kepada masyarakat kurang mampu.

Usai diskusi, realisasinya adalah pembentukan Yayasan Shine Al Falah pada tahun  2012.
Kemudian pihak yayasan mulai mencari tempat yang dapat digunakan sebagai basis pengajaran anak-anak kurang mampu dan yatim.

“Pada tahun 2013 kita mulai mencari anak-anak yatim dan dari keluarga yang tidak mampu untuk mau dididik dan dibina. Dari hasil pencarian tersebut didapati 21 orang santri yang ingin dibina. Kemudian salah satu rekan menyarankan rumahnya sebagai lokasi pembelajaran,” ungkap Syamsul Akmal.

Pada awal pendiriannya, para pendiri bekerja sama dan saling bergantian dalam memberikan pendidikan dan sebagainya. Syamsul mengakui, hal itu tidak mudah. Namun seiring perjalanan waktu, tersisa delapan santri dari generasi awal yang bertahan hingga lulus.

Kemudian pada tahun ajaran selanjutnya ada sekitar 68 orang santri yang bergabung. Menyadari mereka membutuhkan lokasi yang lebih untuk menampung para santri, akhirnya para pendiri yayasan memutuskan untuk mencari gedung baru.

Syamsul mengatakan usai sekian lama pencarian, didapatilah salah sebuah ruko di Pasar Usang yang dapat digunakan sebagai lokasi sekolah sembari mengurus izin pembentukan sekolah tsanawiyah.

“Namun pada saat itu kita juga terkendala legalitas karena lokasi tersebut bukan milik kita dan kemudian kami mencari solusi terbaik dengan mendapatkan tanah di belakang TVRI dengan status hak pakai. Dari lahan tersebut kami membangun yang awalnya dua buah kelas lalu melalui para donator kami terus berupaya mengembangkannya,” ucapnya.

Demi memfokuskan diri untuk mengembangkan yayasan serta pondok, ia pun berhenti dari pekerjaannya yang sebelumnya salah seorang manager di hotel syariah yang ada di Sumbar.

“Ada beberapa orang teman lainnya yang juga ikut berhenti namun ada juga yang tidak karena sudah menjadi PNS dan sebagainya. Kemudian kami memfokuskan diri sepenuhnya untuk pembangunan panti serta pondok pesantren di masa itu. Alhamdulillah pada tahun 2016 kami berhasil mewisuda tahfiz 63 orang santri,” terangnya.

Semakin lama Pondok Pesantren Perkampungan Minangkabau pun mulai semakin dikenal masyarakat melalui program-programnya. Pada tahun 2018, usai mengurus berbagai persyaratan akhirnya keluar izin pesantren dari pemerintah. Dan pada tahun 2019 keluar izin panti asuhan.

Dua Tipe

Syamsul mengatakan, pesantren dan panti asuhan di bawah Yayasan Shine Al Falah menjadi salah satu yang terintregasi sehingga dapat merangkul semua kalangan. Untuk sistem pendidikannya, pesantren ini memiliki dua tipe.

Yakni layaknya madrasah pada umumnya untuk tingkat Madrasah, Tsanawiyah dan Aliyah. Lalu untuk yang pure pesantren memakai konsep salafiyah. Para siswanya memang betul difokuskan untuk pengembangan keagamaan.

Sebagaimana umumnya pesantren, tahfiz juga menjadi salah satu program wajib yang dilaksanakan. Setiap santri diwajibkan untuk menghafal beberapa juz Al Quran. Meski nantinya para lulusan tidak akan menjadi seorang da’i. namun ia berharap, apa yang dihafal dapat menjadi kelebihan setiap santri dan dipastikan berguna kedepannya.

Disisi lain, saat ini para siswa Pesantren Perkampungan Minangkabau juga kerap meraih beberapa penghargaan pada lomba tingkat nasional dan daerah. Tentu saja dengan demikian dapat mengisyaratkan para siswa pesantren bersaing dengan MA dan sekolah yang setara di Sumbar dan khususnya Kota Padang.

Syamsul juga mengatakan kini para lulusan dari Pesantren Perkampungan Minangkabau Yayasan Shine Al Falah juga banyak bertebaran di berbagai perguruan tinggi. Baik di Sumbar maupun di Jawa.

Hingga kini Pesantren Perkampungan Minangkabau Yayasan Shine Al Falah terus mengembangkan pembangunan serta sarana dan prasarana pendidikan.

“Sekarang dengan jumlah siswa mencapai 1000, juga mayoritas orangtua mereka mampu, kita mengoptimalkan pembiayaan bagi siswa yang kurang mampu. Dengan cara menawarkan kepada para orangtua yang ingin membiayai para santri kurang mampu. Selain itu kita juga mengelola lembaga zakat dan usaha untuk menyokong pembiayaan para santri kurang mampu,” katanya.

Syamsul menerangkan, pesantren mengembangkan beberapa jenis usaha seperti pertenakan itik petelur, ternak sapi serta kambing, dan beberapa jenis usaha lainnya. (Suyudi Adri Pratama) Editor : Novitri Selvia
#Syamsul Akmal #Yayasan Shine Al Falah #Perkampungan Minangkabau