GANDA CIPTA—Padang
ITU diungkapkan salah satu juri Sayembara Novel DKJ 2023 Dhianita Kusuma Pertiwi kepada Padang Ekspres, beberapa waktu lalu.
Ketika membaca Tersesat Setelah Terlahir Kembali karya Yoga Zen yang jadi pemenang pertama, dia sempat menerka-nerka bahwa penulisnya adalah seseorang yang sudah berpengalaman membuat novel. Narasi yang dihadirkan terbaca ”dewasa” dan digarap dengan matang.
Selain itu dia menyukai cara penulis dalam menggambarkan kehidupan masyarakat Minang dalam karya tersebut. Sebab tidak ada tendensi untuk menggambarkan budaya Minang menggunakan pendekatan etnografis yang sudah banyak sekali digunakan dalam karya-karya sastra Indonesia akhir-akhir ini.
Latar itu dibangun secara alami dengan memotret kehidupan sehari-hari masyarakatnya, sesekali menggunakan bahasa daerah. ”Tapi sekali lagi tidak berlebihan atau memaksakan,” jelasnya.
Kematangan tata bahasa juga menjadi nilai unggul dari naskah ini. Melampaui aspek kebersihan naskah dari kesalahan tanda baca atau hal-hal mendasar dari tata bahasa. ”Penulis mampu mengolah kata dan kalimat dengan sangat baik, maupun pada narasi deskriptif atau dialog,” tekan Dhianita.
Yoga Zen mengakui menulis karya sastra adalah dunia baru baginya. Sebelum kemenangan ini dia hanya menulis di blog pribadi. Itupun hanya puisi. Namun tahun lalu cerpennya, Rumah Bako, dimuat di Kompas. Itulah satu-satunya karya dia yang pernah terbit di media massa lokal maupun nasional.
Lelaki kelahiran 22 Agustus 1997 ini berasal dari lingkungan yang jauh bersinggungan dengan sastra. Tidak pernah ikut komunitas sastra. Cuma punya teman dua atau tiga orang yang suka baca buku. Bersama mereka, dia kadang bercerita tentang dunia literasi.
Lalu dia melihat sayembara ini sebagai peluang bagi penulis pemula seperti dirinya yang jauh dari akses atau relasi dengan orang-orang sastra atau penerbit.
”Tentu senang sekali (dengan kemenangan ini). Kadang saya berpikir untuk jadi juara. Tapi segera saya redam angan itu. Kembali lagi, siapa saya?” komentarnya soal kemenangannya tersebut. Namun di samping itu dia juga senang bila naskah ini ada yang mau baca. Sebab dia mengaku tidak memiliki pembaca pertama yang memberi kritikan.
Tersesat Setelah Terlahir Kembali digarap Yoga sekitar dua setengah tahun. Yakni dari akhir 2019 hingga pertengahan 2022. Kata Yoga, dia membahas tentang perburuan babi di Minangkabau yang mana hal tersebut identik dengan pria atau maskulinitas.
Ini cerita tentang seorang sumando. Tokoh ini hidup di lingkungan istrinya yang menjunjung tinggi tradisi buru babi sebagai bagian dari adat kebiasaan orang-orang di situ.
Awalnya ini adalah sebuah cerita pendek (cerpen). Karena memiliki waktu luang yang melimpah, dia terus mengembangkannya menjadi naskah sebuah novel. Cerpen itu sendiri belum sempat dia beri judul. Apalagi dipublikasikan.
”Bagi saya, cerita dalam naskah ini mengalir begitu saja,” katanya. Lalu bagaimana rencana penerbitan novel ini? ”Ditunggu aja kabar baiknya,” jawab Yoga yang kini berdomisili di Batusangkar, Kabupaten Tanahdatar.
Leiden (2020-1920)
Adalah novel-novel terbaik Dan Brown yang menjadi inspirasi Hasbunallah Haris (ini sekaligus koreksi kesalahan pada penulisan nama di bagian pertama tulisan yang terbit Sabtu, 5/8) dalam berkaya. Khususnya saat menggarap novel Leiden (2020-1920) yang keluar sebagai pemenang kedua pada Sayembara Novel DKJ 2023.
”Ditambah sedikit pengetahuan tentang naskah kuno nusantara yang disimpan di Perpustakaan Leiden. Pengetahuan tentang bahari nusantara yang jauh lebih kuat daripada orang Eropa juga mendominasi, bagaimana budaya bahari (maritim) Indonesia ternyata sangat kuat di masa lalu,” kata Haris.
Dia menggarap novel sekitar empat bulan untuk naskah 443 halaman A4. Namun yang menjadi tantangan adalah bagaimana membangun narasi Leiden, sedangkan penulis sendiri belum pernah sekalipun ke sana.
Lelaki kelahiran 29 Maret 2001 ini berhari-hari berkutat dengan google maps untuk melihat tata kota, kanal-kanal, perpustakaan, budaya, musim, kendaraan, gereja, pertokoan, yang ada di Amsterdam, Rotterdam dan Leiden.
Leiden (2020-1920) bercerita tentang seorang anak muda biasa yang bersinggungan dengan organisasi rahasia yang menginginkan sebuah harta karun Belanda yang dikubur tahun 1920.
Perjalanannya menempuh berbagai tempat, mulai dari Air Terjun Tangsi Ampek di Solok Selatan, Taman Nasional Kerinci Seblat, Leiden, Rotterdam, Amsterdam, dan terakhir di Kerkhof Sawahlunto.
Dengan novel ini Haris ingin mengajak pembacanya sadar akan sejarah. Tidak pernah melupakan sejarah panjang Indonesia yang pada zaman dulu pernah mencapai puncak kejayaan. Tentang kapal-kapal Makassar yang kuat berlayar ke Australia, tentang kapal-kapal Jawa yang berlayar ke Malaka, kapal-kapal Melayu yang menguasai bandar-bandar besar di selat Malaka dan lainnya.
”Kita sebagai generasi Z harus mengetahui semua itu, bahwa di masa silam, nenek moyang kita bahkan sudah pergi berdagang ke Hawaii dan Gujarat. Semangat bahari ini seharusnya tetap kita gaungkan sesuai dengan semboyan Jalesveva Jayamahe. Kita adalah bangsa pelaut. Negara-negara penjajah telah mengerdilkan hal itu hingga membuat kita jauh dengan laut,” papar penulis asal Pinangawan, Kabupaten Solok Selatan ini.
Seperti dalam dekrit VOC yang melarang orang-orang Makassar berlayar terlalu jauh, pembuatan kapal hanya boleh dengan bobot 10 ton, dan anjuran untuk memperbanyak Kavaleri kuda alih-alih membangun kapal yang megah seperti Jung Java.
Dalam laporan pertanggungajawaban juri yang terdiri dari dari Azhari Aiyub, Dhianita Kusuma Pertiwi, dan Zaky Yamani disampaikan bahwa di samping elemen-elemen naratif yang digarap dengan cukup baik, Leiden (2020–1920) memiliki keunggulan pada aspek genre, yakni menghadirkan narasi sejarah kolonial melalui gaya penceritaan novel detektif.
Tokoh utama Syamil terlibat dalam petualangan untuk mencari bagian dari manuskrip yang sempat ditulis Alex van Helsing, seorang anggota polisi Belanda, tentang harta karun yang terkubur di Sawahlunto.
Perjalanan Syamil membentang panjang sampai 443 halaman tetapi mampu diceritakan dengan alur yang mengalir dengan halus disertai dengan puncak-puncak krisis yang muncul di beberapa bagian.
Selain itu, unsur misteri yang menjadi kekhasan dari cerita detektif juga mampu dipertahankan dalam perjalanan yang panjang tersebut sehingga menarik pembaca untuk melanjutkan pembacaannya.
Hal lain yang patut diapresiasi dari naskah ini adalah pencantuman detail-detail yang menunjukkan ketelitian penulis dalam melakukan riset, meski tidak semuanya sesuai dan padu dalam konteks faktualitas.
Selain itu, tampak juga upaya untuk menghadirkan ragam karakter dengan penciptaan tokoh yang masing-masing memiliki latar belakang berbeda satu sama lain.
Meskipun begitu, seringkali terlihat kesamaan pada cara pandang, gaya bicara, dan sikap di antara tokoh-tokoh tersebut terlepas dari perbedaan mendasar yang mereka miliki.
Poin lain yang menjadi perhatian khusus adalah terlepas dari penjabaran cerita dengan ritme yang sabar dan telaten, pada beberapa bagian terdapat adegan-adegan yang terkesan terlalu kebetulan dan fantastis–yang mungkin dihadirkan untuk menguatkan unsur misteri dan kejutan dari cerita detektif, tetapi terbaca janggal untuk sebuah cerita yang dinarasikan dengan pendekatan realisme.
”Sekali lagi, naskah ini juga punya cara yang menarik untuk menggambarkan Sumatera Barat, yakni dengan menghadirkan narasi sejarah kolonial, tetapi bukan yang mengelu-elukan tumpah darah revolusi dan peperangan. Pada beberapa bagian, tampak dengan cukup jelas bahwa penulis menjadikan Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer sebagai referensi, khususnya dalam menggambarkan relasi tokoh-tokoh dengan kompleksitas identitasnya sebagai masyarakat Hindia Belanda,” tukas Dhianita Kusuma Pertiwi. (***) Editor : Admin Padek