Laporan: GANDA CIPTA—Padang
MEREKA adalah Muhaimin Nurrizqy sebagai pemenang pertama lewat karyanya Selamat Malam, Kawan!. Kemudian Heru Joni Putra dengan karya Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan sebagai pemenang kedua.
Selamat Malam, Kawan! ditulis dalam rentang tahun 2020 hingga 2022. Pada masa-masa pandemi Covid-19 itu, Imin -sapaan akrab Muhaimin Nurrizqi— menemukan bahasa ternyata bisa juga berfungsi sebagai obat penenang bagi sakit fisik dan mental. Misalnya kata-kata makian yang menurut ilmu neurologi ’bisa’ meredakan sakit.
Kemudian juga kata-kata yang menguatkan kehangatan solidaritas antar sesama manusia. Seperti ’kita’ dan ’kawan’. Jika memang ada genre puisi yang ’obat penenang’, maka dia ingin meletakkan puisi-puisinya itu di sana.
Namun, bukan keterbatasan gerak pada masa pandemi Covid-19 yang menjadi tantangan besar Imin menjalani proses kreatif dalam menulis karyanya ini. Tapi dalam pemilihan kata yang tepat.
”Karena diksi-diksi yang saya gunakan cenderung ’banal’, jadi saya mesti berhati-hati supaya puisi-puisi ini tidak jatuh hanya sebagai puisi lucah sumpah serapah yang semu,” katanya kepada Padang Ekspres, beberapa hari lalu.
Imin percaya bahwa seorang penyair mesti paham dan tahu kata-kata yang ingin ditariknya masuk ke dalam sebuah puisi. Jadi dia pun mencoba mengamalkan hal tersebut.
Ketika ingin benar memasukkan kata makian, dia terlebih dahulu mencari tahu apa sebenarnya kata makian yang ingin dimasukkannya itu. Baik dari arti langsung dan tidak. Sebab kata makian sangat mudah jatuh sebagai kata kasar yang tidak elok.
Dia sadar, jika menggunakan kata makian dengan serampangan pula, maka puisinya tentu akan terlihat penuh amarah dengan urat leher yang menyembul memaki ke sana-sini.
Proses pencarian kata makian itu membawanya ke dalam beberapa kesimpulan. Salah satunya, kata makian tidak hanya digunakan meluapkan kemarahan dan kekesalan seperti yang dimaknai oleh KBBI. Ternyata juga digunakan pada emosi lain seperti sedih, senang, bahagia, dan takjub.
Dari pondasi itulah, penulis kelahiran 12 Oktober 1995 ini kemudian mencoba bereksperimen terhadap kata makian di puisi-puisinya. Seringnya, kata-kata makian di dalam puisi itu menjelma subjek di dalam cerita.
”Saya ingin penggunaan kata makian di dalam puisi itu tepat guna. Apakah itu berhasil atau tidak, tentu hanya pembaca yang dapat melihatnya,” tutur penulis kumpulan cerpen Sandiwara 700 Tahun Sebelum Masehi tersebut.
Menurut salah seorang juri Kiki Sulistyo, karya Muhaimin tersebut punya kekuatan di semua aspek penilaian. Komposisi puisi-puisi di dalamnya dengan cermat dan efektif menggunakan perangkat-perangkat puitika tetapi justru dalam pilihan gaya naratif.
Dalam catatan pribadinya, dia merasakan kesan penyair ini seperti musisi jazz yang memilih memainkan punk. ”Dia (Muhaimin, red) punya teknik yang baik tapi sengaja menggunakan gaya naratif yang komunikasinya cenderung lugas,” terang Kiki.
Manuskrip puisi Selamat Malam, Kawan! berisi 30 puisi. Secara keseluruhan wataknya balada. Rencananya akan diterbitkan oleh Teroka Press. Kalau tidak akhir tahun ini, pada awal tahun depan.
Mencari Ilmu
Dalam keadaan tak bisa ke mana-mana, tidak punya pekerjaan, dan banyaknya seminar serta diskusi daring dari berbagai cabang ilmu di dunia ini, Heru Joni Putra menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku berbagai bidang keilmuan tentang capaian-capaian terbesar manusia dari abad ke abad.
Begitu lah kira-kira sebagian aktivitasnya saat pandemi Covid-19 lalu.
Pada saat yang sama dia menemukan sejarah tentang kekejian, keharuan, keangkuhan, kehormatan, dan heroisme yang turut terjadi di setiap capaian-capaian ilmu pengetahuan manusia tersebut. Baik antara sesama manusia ataupun dari manusia ke Tuhan.
Di saat yang sama pula dia juga memilih menyibukkan diri dengan ”Kembali ke Surau”. Yaitu belajar bersama jamaah Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah dan Tarekat Sammaniyah Khalwatiyah dari Sumatera Barat. Khususnya di Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota.
Bersama jamaah dan juga para mursyid, Heru mendapatkan pengalaman dan ilmu yang tak kalah berharganya selain kitab-kitab klasik, misalnya karya Imam Al-Ghazali.
Aktivitas bersama jamaah surau ini terus membangkitkan pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya sempat muncul di kepalanya soal hubungan antara pengetahuan, keakuan, kebudayaan, tauhid, dan lain sebagainya.
Singkat kata, semakin banyak bertemu dengan jamaah dan mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah, maka dia semakin sadar bahwa upaya seseorang dalam menuntut ilmu sebaik-baiknya tak akan cukup untuk memahami dunia.
Akan tetapi dengan berikhtiar terus mencari ilmu, seseorang akan semakin menyadari betapa tidak berdayanya dia sebagai manusia. Semakin bertambah ilmu maka semakin terang-benderang bahwa tak ada yang perlu disombongkan oleh manusia.
”Maka teruslah mencari ilmu agar semakin kita ketahui kelemahan terdalam kita sebagai manusia,” ungkapnya.
Nah, refleksi dan pertanyaan terhadap kondisi inilah yang menggerakkan sastrawan kelahiran Payakumbuh, 13 Oktober 1990 ini untuk menulis puisi hingga menjadi naskah Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan. Dikerjakan lebih kurang selama dua tahun.
Sebagian besar puisi dalam naskah ini ia tulis sehabis beribadah. Atau setidaknya setelah berwudhu. Sejauh pengalamannya, dalam keadaan seperti itulah kondisi pikiran dan perasaannya lebih tenang.
Dan dalam keadaan tenang, dia lebih bisa menulis puisi tentang topik yang sedang didalaminya ini. Yakni upaya meluruhkan keakuan di tengah keterbatasan ilmu pengetahuan manusia dalam memahami dunia ini.
Pada tahun 2017, alumnus Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, Padang ini menerbitkan buku kumpulan puisi Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa.
Buku itu kemudian mendapat penghargaan bergengsi sebagai Buku Sastra Terbaik Tahun 2017 versi Majalah TEMPO pada tahun 2018.
Lalu apa yang membedakan manuskrip Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan dengan buku kumpulan puisinya yang terdahulu tersebut?
Heru mengungkapkan, naskah baru ini di satu sisi sama-sama memperkarakan keakuan manusia.
Namun di sisi lain, yang menjadi bedanya, bila pada buku sebelumnya keakuan itu ia sampaikan umumnya dengan strategi satire, sarkasme, permainan bentuk sastra lama, dan naratif maka di naskah baru ini umumnya disampaikan lewat strategi imajisme, minimalisme, sedikit humor, dan lirikal.
Selain itu, di buku sebelumnya, keakuan itu ia sampaikan dengan menciptakan tokoh fiktif sebagai sosok anti-hero yang cenderung absurd.
Sedangkan di buku sekarang melalui aku-lirik yang berwatak aktif sekaligus pasif tanpa harus jatuh ke posisi agresif ataupun terombang-ambing di saat yang sama.
Pada Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan, Heru tidak lagi mengolah bentuk karya sastra lama, sebagaimana yang dilakukan secara menyeluruh dalam buku sebelumnya.
Karena memang tidak ada kebutuhan untuk melakukan itu untuk menyampaikan tema ”keterbatasan pengetahuan”.
Kalaupun ada di satu puisi berjudul Murid Mencari Guru yang mengandung anasir sastra lama itu hanya untuk membangun nuansanya saja yang memang perlu dia terapkan sesuai kebutuhan karya itu sendiri.
Selain itu, akunya, kali ini dia cukup sering –meski tak sepenuhnya— menggunakan diksi atau frasa yang sering dianggap klise, kaku, longgar, dan receh. Hal tersebut sengaja dilakukan.
Tujuannya untuk memberikan nuansa yang sekilas terasa hambar dan seakan-akan datar di dalam puis-puisi yang sedang khusyuk bersoal tentang keterbatasan pengetahuan manusia dalam memahami alam raya.
Secara personal, melalui naskah baru itu dia ingin menantang diri sendiri untuk melakukan strategi-strategi menulis yang dulu tidak terlalu ia sukai. Bahkan dihindari. Termasuk dari segi pemilihan diksi dan frasa yang seperti itu.
”Oh iya. Apa yang sedang saya coba ini mungkin tidak bisa disebut tawaran yang berarti, selayaknya barang yang begitu berharga. Kalau boleh saya memberi istilah, naskah baru ini hanya sebuah sentuhan kecil, serupa tepukan pada bahu ketika membangunkan seseorang ketika sahur. Tapi saya tetap menyadari, hal itu mungkin bisa jadi sentuhan atau bisa juga hanya jadi semacam gangguan kecil yang tak terlalu diinginkan,” tukasnya, yang berencana menerbitkan manuskirp ini pertengahan tahun depan.(*) Editor : Admin Padek