PELUNCURAN buku Lida Ajer dari Tungkar untuk Dunia karya M. Fajar Rillah Vesky, ditandai dengan penyerahan buku tersebut oleh Fajar kepada Direktur Utama Padang Ekspres M. Nazir Fahmi, usai rapat gabungan karyawan Padang Ekspres di Graha Pena Padang, pekan lalu. Dalam rapat ini juga hadir seluruh jajaran petinggi Padang Ekspres, seperti Rommi Delfiano, Heri Sugiarto, Suryani, Two Efly, Dicky Junaidi, dan Yossi Ariesta.
Direktur Utama Padang Ekspres Muhammad Nazir Fahmi bersama Pemimpin Redaksi Rommi Delfiano, menyambut baik terbitnya buku tersebut. Dalam testimoni yang ditulis di cover belakang buku ini, Nazir dan Rommi menyebut pentingnya buku ini buat ilmu pengetahuan dan jurnalisme berkualitas.
“Buku tentang Gua Lida Ajer yang ditulis M. Fajar Rillah Vesky ini, bertahun-tahun menjadi liputan mendalam di Padang Ekspres dan pernah mendapat penghargaan dari Dewan Pers sebagai Nominasi Karya Jurnalistik Cetak Terbaik Tahun 2022.
Buku ini, perlu untuk dunia ilmu pengetahuan, untuk jurnalisme yang berkualitas, dan untuk masyarakat luas,” kata M. Nazir Fahmi dan Rommi Delfiano. Sementara, Pemimpin Redaksi Singgalang juga mendukung penerbitan buku tersebut.
“Menakjubkan. Ditemukan fosil berusia 73 ribu tahun di Gua Lida Ajer atau Ngalau Lida Ayia. Saya dukung penuh, Fajar menulis buku ini,” kata Khairul Jasmi yang juga Komisaris PT Semen Padang.
Hal senada disampaikan Dekan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB), Dr Wendra Yunaldi. “Buku Lida Ajer dari Tungkar untuk Dunia, enak dibaca dan perlu. Kami sebagai sahabat, mendukung penuh Fajar menerbitkan buku ini dan menyuarakan kepentingan masyarakat. Khususnya masyarakat tempat Gua Lida Ajer itu berada,” kata Wendra.
Dalam buku itu Fajar menulis hasil risetnya tentang Gua Lida Ajer yang terdapat di kampung halamanya, Nagari Tungkar, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota.
Ia juga menulis wawancaranya dengan sejumlah arkeolog, sejarawan dan peneliti. Seperti, Profesor Truman Simanjuntak, Profesor Herwandi, Dr Wannofri Samri, I Ketut Wiratyana, Nurmatias, Dodi Chandra, Muhammad Nazri Janra, dan Faisal Chairm.
Menurut Dr Wannofri Samri yang merupakan sejarawan dari Unand, Padang, gua Lida Ajer yang ditulis Fajar Rillah Vesky, pernah diteliti Eugene Francois Thomas Dubois, penemu fosil Manusia Jawa (Pithecanthropus erectus). Dubois meneliti Gua Lida Ajer di senggang waktunya bekerja di Rumah Sakit Payakumbuh.
Saat meneliti di Gua Lida Ajer, Dubois menemukan fosil gigi manusia modern. Menurut Profesor Truman Simanjuntak, fosil gigi tersebut menjadi fosil gigi manusia modern tertua di Asia Tenggara. Diperkirakan sudah berusia 63 ribu hingga 73 ribu tahun lalu.
“Hasil penelitian yang dimuat di jurnal ilmiah dunia ini, belum terbantahkan hingga sekarang. Pulau Sumatera yang malu-malu, sudah mengeluarkan datanya,” kata Profesor Truman Simanjuntak yang menjabat Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Kemendikbud RI saat diwawancarai Fajar Rillah Vesky, 2017 silam.
Ini juga diperkuat Profesor Herwandi, satu-satunya arkeolog di Unand yang diwancarai Fajar pada tahun yang sama. Menurut Herwandi, hasil penelitian di Gua Lida Ajer menunjukkan, manusia modern anatomi telah menghuni Indonesia sekitar 73 ribu tahun lalu atau jauh lebih awal dari penghitungan semula sekitar 45 ribu tahun lalu.
“Penelitian ini (penelitian yang dilakukan oleh 23 ilmuwan dari Australia, Indonesia, Amerika Serikat, Jerman, Inggris, dan Belanda dipimpin K.E. Westaway dkk), telah membuka berbagai perspektif baru. Perlu penelitian-penelitian susulan,” kata Profesor Herwandi dalam buku ini.
Di buku Fajar juga membeberkan hasil penelitian yang dilakukan Dodi Chandra, arkeolog dari Balai Pelestarian Kebudayaan Sumbar, dan Faisal Chair, periset di Departemen Arkeologi, Univeritas Indonesia.
Kedua peneliti ini menemukan ratusan gambar cadas atau lukisan purba di Gua Lida Ajer. Lukisan itu bermotif menyerupai manusia, termasuk menyerupai gerakan dasar Silek Minangkabau.
Bupati Limapuluh Kota Safaruddin Dt Bandaro Rajo menyambut baik dan mendukung penuh penerbitan buku yang diterbitkan Visigraf Padang, pimpinan sastrawan Yusrizal KW, bekerja sama dengan Padang Ekspres.
Proses penerbitan, menurut Fajar dan Yusrizal KW, sudah berlangsung sejak Agustus 2023. Sebelum diluncurkan Direktur Utama Padang Ekspres M Nazir Fahmi dan Bupati Limapuluh Kota Safaruddin Dt Bandaro Rajo, cover buku ini juga sudah diluncurkan sejak perayaaan HUT RI di Lapangan Jirek, Nagari Tungkar, yang digelar Pemnag Tungkar bersama mahasiswa KKN Universitas Bung Hatta.
Dalam buku Lida Ajer dari Tungkar untuk Dunia, sebagai penulis Fajar menyerukan pentingnya menyelamatkan Lida Ajer dari kemelut pertanahan dan konflik pertambangan yang menderanya.
“Gua Lida Ajer adalah warisan ilmu pengetahuan dari Tungkar untuk dunia. Dia mesti segera ditetapkan sebagai Cagar Sejarah sesuai UU Nomor 11 Tahun 2010 dan PP Nomor 1 Tahun 2022,” tukasnya. (***) Editor : Novitri Selvia