Aroma wangi semerbak sontak menusuk hidung, dari sudut rumah semi permanen sederhana yang disulap menjadi dapur penggorengan bawang usaha rumahan Mak Datuak di kawasan Flay Over Simpang Lapan Padangpanjang.
Afrida, 64, tampak tengah tekun mengaduk sembari menahan tiupan panas api tungku penggorengan bawang di tengah cuaca cerah pagi menjelang siang. Tiga tungku penggorengan yang tengah menyala, tidak sekalipun ditinggalkan untuk mendapatkan hasil terbaik.
Ibu delapan anak yang baru saja menjanda setelah wafatnya sang suami 100 hari lalu, mempersilakan penulis masuk rumah ketika anak perempuannya bisa menggantikan proses mengaduk bawang goreng.
“Maaf harus menunggu, karena penggorengan harus diaduk terus agar dapat hasil yang bagus dan tidak menggumpal. Ini yang terus kami lakukan, agar usaha kecil ini tetap bisa bertahan dengan menjaga kepuasan pelanggan,” ujar Afrida memulai.
Afrida mengaku bersyukur, usaha rumahannya tersebut hingga saat ini dapat terus bertahan meski dengan hanya mengharapkan keuntungan yang sangat tipis. Semua itu dikatakannya, harus dijalani karena himpitan dan kebutuhan ekonomi.
“Hanya ini satu-satunya pendapatan tetap kami di keluarga, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan uang saku anak bungsu yang saat ini tengah melanjutkan kuliah di UIN Batusangkar,” sambungnya setelah sempat terhenti membuatkan secangkir kopi untuk penulis.
Memulai usaha sejak 8 tahun silam, Afrida mengaku cukup berat karena hanya mengharapkan untung yang tidak besar. Setiap hari paling banyak penghasilannya hanya berkisar Rp40-70 ribu, karena keuntungan hanya Rp1.000 per kilogram.
Beruntungnya bawang goreng buatannya, cukup laris di kota sejuk berjuluk Serambi Mekkah itu. Afrida menyebut banyak usaha kuliner yang menggunakan bawang gorengnya, seperti Sate Mak Syukur dan sejumlah pedagang di Pasar Kuliner hingga masyarakat daerah lain yang melintas di Padangpanjang.
“Kami memang sangat menjaga kualitas, dengan memperhatikan bahan baku berupa bawang mentah dan tepung, serta proses penggorengan yang menjadi faktor penentu hasil. Alhamdulillah, hampir setiap hari bisa memproduksi 40-70 kilogram,” beber Afrida yang juga mengaku kadang harus merugi ketika harga bawang melonjak seperti sekarang ini.
Namun dirinya mengaku, akan lebih berisiko ketika produksi dihentikan karena sejumlah kuliner yang membutuhkan merupakan pelanggan tetap sebagai andalan pemasukan bagi keluarganya. Sejauh ini untuk menutupi kerugian jika terjadi, Afrida menyebut di bantu dengan penjualan bumbu giling yang diproduksi jika ada permintaan.
“Saat ini bawang sebagai bahan utama, harga jualnya cukup tinggi. Sementara kami tidak menaikkan, untuk menjaga langganan tidak beralih ke penjual lain,” ucap Afrida.
Berjalan sejak 8 tahun silam, Afrida mengaku belum pernah tersentuh bantuan dari program pemerintah. Dikatakannya beberapa kali, usaha rumahannya tersebut sempat dikunjungi terkait dengan program bantuan.
“Namun hingga saat ini, yang berkunjung melakukan tanya jawab, tidak pernah kembali. Apa lagi bantuan dimaksud yang juga tidak jelas disampaikan kepada kami, memang tidak pernah turun untuk meningkatkan usaha ini,” sebut Afrida, sembari berharap adanya bantuan untuk peningkatan usaha rumahannya tersebut. (WARDI TANJUNG-Padangpanjang) Editor : Novitri Selvia