Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Bupati Safaruddin, Datangi Rumah Kaum Dhuafa Jelang Sahur: Terhenyak Lihat Nursian Terbaring Sakit di Lantai Lapuk

Novitri Selvia • Jumat, 5 April 2024 | 13:19 WIB

Bupati Limapuluh Kota Safaruddin Dt Bandaro Rajo bersama Ketua Baznas Buya Yulius, Wali Nagari Tungkar Yusrizal Dt Pado, dan Ketua LPM Tungkar Masyudha Putra, melihat kondisi Nursian.(FAJAR/PADEK)
Bupati Limapuluh Kota Safaruddin Dt Bandaro Rajo bersama Ketua Baznas Buya Yulius, Wali Nagari Tungkar Yusrizal Dt Pado, dan Ketua LPM Tungkar Masyudha Putra, melihat kondisi Nursian.(FAJAR/PADEK)
Tengah malam buta, menjelang waktu sahur tiba, hujan turun begitu derasnya. Bupati Limapuluh Kota, Safaruddin Datuak Bandaro Rajo, basah kuyup begitu turun dari mobil dinasnya.

Meski bermandikan hujan, tapi Safar tetap mendatangi rumah warga Nagari Tungkar, Kecamatan Situjuah Limo Nagari. Begitu masuk ke dalam rumah yang dihuni kaum dhuafa itu, Safar terhenyak melihat perempuan 75 tahun, terbaring sakit di lantai papan yang sudah lapuk.

“LAH lamo, etek ko sakik? (Apakah ibu ini sudah lama sakitnya)?” kata Safar kepada wartawan koran ini yang lebih duluan bermandikan hujan. Belum sempat wartawan menjawab pertanyaan orang nomor satu di Limapuluh Kota itu, Wali Nagari Tungkar Yusrizal Datuak Pado, bersama ketua LPM setempat, Masyudha Putra, langsung memberi penjelasan.

“Olah lamo Pak Bupati. Beliau sakik menahun (Sudah lama pak. Beliau sakit menahun),” kata Yusizal Datuak Pado yang ikut berhujan-hujan pada Senin (1/4) malam itu.

“Iyo Pak bupati. Beliau sakik dek olah tuo (Benar pak bupati. Beliau sakit karena faktor usia atau sudah uzur),” tukuk Masyudha Putra yang membalut lehernya, dengan selembar sal berlambang bendera Palestina.

Mendengar penjelasan itu, Safaruddin yang ditemani Ketua Baznas Limapuluh Kota, Buya Yulius, langsung menanyai identitas perempuan 75 tahun yang terbaring sakit di lantai papan rumahnya nan sudah lapuk.

Perempuan tersebut bernama Nursian atau Tek Sian. Dulunya, bekerja sebagai pedagang pongek cubadak, berkeliling kampung dengan gerobak.

Tek Sian lahir 10 April 1949. Bulan ini usianya genap 75 tahun. Dia tinggal di rumahnya yang berdinding papan dan berlantai papan, bersama dua anaknya, hasil pernikahan dengan suaminya, almarhum Basyiruddin.

Kedua anak Tek Sian itu bernama Jhon Abdi Putra,53, yang bekerja sebagai petani, dan Renti Novita, 51, yang bekerja pada warung foto copy di Simpang Tiga Tungkar.

Menurut Yusrizal Datuak Pado, Tek Sian dan dua anaknya yang belum menikah, termasuk warga dhuafa atau warga kurang mampu di Nagari Tungkar. Saat ada bantuan sosial atau Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari pemerintah nagari, Tek Sian termasuk penerima bantuan. Hanya saja, karena Tek Sian sudah tak kuat berjalan, bantuan sosial itu diantar langsung ke rumahnya.

“Ketika mengantar bantuan ini, ada cerita mengharukan. Ternyata, separuh dari lantai papan rumah Tek Sian, sudah lapuk. Tinggal separuh bagian saja yang masih bisa dilewati. Karena khawatir lantai rumah itu akan amblas, sengaja kami tugaskan perangkat nagari yang postur tubuhnya paling kecil, untuk mengantar bantuan ke dalam rumah,” kata Yusrizal Dt Pado.

Melihat kondisi rumah Tek Nian yang sudah memprihatinkan, sejumlah tokoh masyarakat Nagari Tungkar, mengusulkan kepada pemerintah nagari, agar dapat mencarikan jalan untuk perbaikan rumah tersebut.

Ketika momentum kampanye Pemilu 2024 kemarin, sempat ada tim sukses calon DPR-RI yang menawarkan bantuan perbaikan rumah. Namun, karena ada syaratnya pula, para pemuda dan masyarakat yang berniat bergotong royong untuk merehab rumah tersebut, menjadi tidak bersemangat.

Pada momentum bulan puasa ini, seiring dengan kedatangan Tim Safari Ramadhan Pemkab Limapuluh Kota ke Nagari Tungkar, maka pemerintah nagari Tungkar bersama tokoh-tokoh masyarakat, termasuk wartawan koran ini, mengusulkan kepada bupati, agar dapat mencarikan solusinya.

Bagaikan kata berjawab dan gayung bersambut, Bupati Safaruddin dan Ketua Baznas Buya Yulius, langsung berinsiatif untuk membedah rumah tersebut.

“Insya Allah, selepas Idul Fitri ini, program bedah rumah atau perbaikan rumah, sudah dapat dilakukan. Sumber dananya, nanti dari Baznas dan pemerintah daerah. Pengerjaannya, barangkali bisa dilakukan secara swadaya. Kalau bisa, nanti sekalian dibuatkan toilet atau jamban sehat, sebagai rangkaian dari program sanitasi total berbasis masyarakat yang sedang kita laksanakan,” kata Safaruddin dan Buya Yulius.

Tentu saja, Tek Nian dan kedua anaknya, senang mendengar kabar ini. Pemerintah nagari Tungkar dan tokoh-tokoh masyarakat juga mendukung rencana bedah rumah tersebut.

“Pihak keluarga besar atau kaum Tek Nian, juga sudah setuju. Sudah disampaikan mamak kepala kaumnya kepada kita. Beberapa tokoh masyarakat kita, seperti Simpatig Bangunan dan gudang sayur Dt Bandaro Panjang, juga siap menjadi donatur tambahan,” kata Yusrizal Dt Pado.

Bupati Safaruddin dan Buya Yulius berjanji, akan memantau proses bedah rumah Tek Nian, sampai selesai. Sebelum meninggalkan rumah Tek Nian dalam situasi cuaca yang masih diguyur hujan, Bupati Safaruddin juga merogeh beberapa lembar kocek pribadinya untuk Tek Nian.

Sedangkan Buya Yulius juga menurunkan satu paket bantuan sembako Ramadhan berkah dari Baznas. Sementara, puluhan pejabat Pemkab Limapuluh Kota yang ikut mendampingi bupati ke Nagari Tungkar pada Senin malam (1/4).

Tak bisa masuk ke rumah Tek Nian, saat bupati berada dalam rumah yang terletak di Jorong Dalam Nagari tersebut. Ini terjadi karena kondisi rumah yang tidak memadai untuk dinaiki. Disamping karena hujan deras yang tak henti-henti. (FAJAR RILLAH VESKY— Tungkar)

Editor : Novitri Selvia
#bedah rumah #Tek Sian #Safaruddin Datuak Bandaro #Nagari Tungkar #Yusrizal Dt Pado