
Oleh Shofwan Karim
(Pengamat, Penulis Esai dan Dosen Pascasarjana UM Sumbar)
Sejarah dunia selalu bergerak di antara dua kutub: ancamandan harapan. Di satu sisi, ancaman muncul dari kata-kata keras, blokade, dan senjata. Di sisi lain, harapan lahir daritekad manusia untuk tetap mencari jalan damai. Kini, di tengah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, Iran, dan Tiongkok, kita kembali menyaksikan bagaimanaancaman dan harapan saling berhadapan di panggung global.
Presiden Amerika Serikat baru-baru ini menegaskan kembaliancaman terhadap Iran, mengaitkan isu nuklir dengankemungkinan tetap blokade Selat Hormuz. Kata-kata itubukan sekadar diplomasi, melainkan bayangan kembaliperang dengan terus menutup jalur vital energi dunia. Selat Hormuz, yang menjadi nadi perdagangan minyakinternasional, seakan berubah menjadi medan pertaruhanantara hegemoni dan perlawanan.
Iran, melalui Garda Revolusi, menjawab dengan suaralantang: bila pelabuhan mereka diganggu, maka tidak adapelabuhan lain yang akan aman. Jawaban ini bukan sekadarretorika, melainkan simbol keteguhan sebuah bangsa yang merasa martabatnya dipertaruhkan. Ancaman balasan itumemperlihatkan bahwa konflik bukan hanya soal senjata, tetapi juga soal harga diri dan kedaulatan.
Tiongkok dan AS
Di sisi lain, Tiongkok menunjukkan sikap tegas terhadapAmerika Serikat dengan menolak sanksi yang dijatuhkankepada sejumlah kilang minyaknya akibat pembelian minyakdari Iran saat ini. Dalam pernyataan resmi yang dirilis oleh Kementerian Perdagangan Tiongkok, Beijing menegaskanbahwa kebijakan Washington tersebut “tidak akan diakui, diterapkan, maupun dipatuhi”. Pemerintah Tiongkok menilailangkah Amerika Serikat itu melanggar hukum internasionalserta norma dasar hubungan antarnegara.
Data dari Press TV yang dikutip dalam laporan tersebutmenunjukkan bahwa Tiongkok merupakan pembeli utamaminyak Iran, terutama melalui kilang independen atau teapot refineries yang sangat bergantung pada pasokan minyakmentah dari Republik Islam tersebut. Sanksi ini merupakanbagian dari upaya lama Washington untuk menekanpendapatan minyak Teheran, termasuk penargetan terhadapkilang Hengli Petrochemical di Dalian yang membeli minyakIran senilai miliaran dolar.
Ketegangan pun merambah ke sektor keamanan. Angkatan Laut AS terus menargetkan kapal dagang Iran di kawasanLaut Oman dan Teluk Persia dalam kebijakan yang disebutsebagai blokade pelabuhan Iran. Sebagai respons, angkatanbersenjata Iran menutup Selat Hormuz bagi seluruh kapal, kecuali yang mendapat izin resmi dari otoritas Iran.
Langkah ini meningkatkan kekhawatiran akan brlanjut darikondisi sekarang ini terhadap stabilitas pasokan energi global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusiminyak dunia.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





