
Oleh: Shofwan Karim (Pengamat, Penulis Esai, dan Dosen Pascasarjana UM Sumbar)
PADEK.JAWAPOS.COM-Damai adalah kata yang indah sekaligus rapuh. Ia menyerupai fatamorgana di padang pasir: tampaknya ada dari kejauhan, tetapi ketika didekati, lenyap tanpa jejak.
Pertanyaan yang terus bergema hari ini ialah, apakah perdamaian antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mungkin tercapai, ataukah ia sekadar halusinasi kolektif dunia yang letih oleh perang?
Konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026 kini memasuki hari ke-148. Eskalasi naik turun menyerupai ombak yang menghantam sabut terapung: kadang tenang, kadang menggila.
Serangan udara, kebuntuan diplomasi, dan ancaman terhadap jalur minyak global menjadikan perdamaian bukan sekadar isu regional, melainkan persoalan eksistensial umat manusia. Dunia berharap damai itu hadir, tetapi kenyataan masih menunjukkan bayang-bayang perang yang panjang.
Data lapangan menunjukkan betapa perang ini telah menelan korban besar. Israel mengakui bahwa pesawat pembom Amerika Serikat menggunakan pangkalan udaranya untuk menyerang Iran.
Dari pihak Iran, lebih dari 350 pegawai pemerintah tewas akibat serangan Amerika Serikat-Israel. Secara keseluruhan, lebih dari 2.100 warga sipil dilaporkan tewas di berbagai wilayah Timur Tengah, sementara total korban jiwa, baik militer maupun sipil, diperkirakan mencapai antara 7.144 hingga 9.676 orang.
Mereka bukan hanya tentara, melainkan juga insinyur, teknisi listrik, dokter, dan perawat, orang-orang yang menjaga denyut kehidupan masyarakat.
"Mulai dari insinyur yang mengorbankan nyawanya di atas menara BTS hingga para dokter dan perawat yang berdedikasi," ujar juru bicara Pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani. Pernyataan ini menegaskan bahwa perang modern tidak lagi membedakan antara kombatan dan warga sipil.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




