RUMAH tersebut kemudian viral di media sosial ataupun dibahasan mulu ke mulut. Setelah diketahui, ternyata rumah itu merupakan rumah yang dihuni oleh keluarga tahfiz Quran yang saat kejadian tengah murojaah bersama.
Keluarga itu dikepalai Edi Chandra, 52, dan istrinya Yanti Susanti, 52. Mereka memiliki anak empat orang yang semuanya perempuan. Yang sulung sedang kuliah di salah satu kampus di Kota Padang, anak kedua baru masuk kuliah di Batusangkar, sedangkan bungsu kembar masih duduk di SMPIT Lantaibatu, Batusangkar.
Saat kejadian anak sulung dari pasangan penjual kopi itu berada di Padang. Tersisalah mereka berlima, yakni Edi, Yanti, anak kedua dan si kembar. Malam itu keluarga yang anak-anaknya sudah dididik dengan Quran sejak kecil itu, tengah melakukan murojaah bersama di dalam rumah.
Saat itu cuaca tengah gerimis di luar rumah. Rumah itu berjarak lebih kurang 50 meter dari pinggiran Batang Lona yang meluap.
Rumah itu berada di seberang Masjid Al Ikhlas Manunggal. Melihat secara logika saat di lokasi, harusnya luapan air dari Batang Lona yang mencapai beberapa meter di kawasan itu, mengenai rumah Edi. Apalagi tidak ada penghalang dari pinggir sungai selain kebun.
Saat melakukan murojaah itulah, Edi sekeluarga mendengar seperti suara gemuruh dari arah sungai. Edi memutuskan untuk memeriksa keluar rumah melihat kondisi yang terjadi.
”Saat itu listrik masih hidup, dan saya masih bisa melihat jika air Batang Lona mulai meluap ke arah rumah kami. Saat itulah saya langsung memanggil semua keluarga untuk segera lari,” ujarnya saat dijumpai di beranda rumahnya, Minggu (26/5) sore.
Edi yang sempat mengambil senter dari dalam jok sepeda motornya, bersama empat anggota keluarga lain langsung berlari ke arah jalan raya. Saat sampai di jalan raya, air luapan bahkan sudah sampai mata kaki.
“Saya tertegun. Mau lari ke arah bawah atau ke arah atas. Setelah berpikir, saya ajak mereka semua ke arah atas. Jika seandainya ke arah bawah barangkali kami juga ikut hanyut. Karena air sudah tinggi tergenang di jalan,” kenangnya.
Edi terus bergerak ke arah lebih aman lagi, hingga sampailah pada sebuah warung. Sedangkan warga lain juga melakukan hal serupa dan berhenti di emperan kedai atau warung dan rumah warga lainnya yang lebih aman.
Edi dan keluarganya ditampung oleh pemilik warung yang menggelarkan tikar untuk keluarga Edi beristirahat. ”Sekira pukul 01.00 WIB, saya melihat kondisi rumah. Saat saya sampai dari bibir jalan menuju rumah, lumpur sudah setinggi pinggang,” ujarnya.
Namun anehnya sebut Edi, setelah melewati lumpur, setiba di pekarangan rumahnya, justru tidak ada genangan lumpur, kayu atau batu. Sama seperti sebelum kejadian. Suasana di halaman sampai ke dalam rumah tetap bersih seperti sebelum ditinggalkan menyelamatkan diri.
“Padahal rumah di depan, bahkan kebun samping dan arah belakang sudah dipenuhi air. Beberapa rumah di depan juga rusak. Bahkan setelah itu saya dapat informasi ada tetangga depan yang hilang terseret air,” ujarnya.
Rumah Edi sendiri berada di bagian belakang. Beberapa rumah yang ada di pinggir jalan raya di seberang jalan Masjid Al Ikhlas Manunggal. Sebelah kirinya sekira 50 meter langsung Sungai Batang Lona. Sedangkan sebelah kanan ada lapangan Futsal yang disewa pihak KPU Tanahdatar untuk gudang. Isi gudang itu juga hanyut.
Dari pantauan di lokasi, sekeliling rumah Edi bahkan dari belakang terlihat bekas luapan air. Air sempat mengenai dinding belakang rumah namun tidak merusak rumah itu. Setelah mengganti pakaian, Edi kembali ke tempat anak dan istrinya untuk memastikan kondisi dan memberi kabar tentang rumahnya.
“Sekira pukul 03.00 WIB, saya kembali ke rumah lagi dan saya tidur di rumah sampai pagi. Sedangkan anak dan istri tetap di warung,” ujarnya.
Edi bersyukur karena seluruh anggota keluarga dan hartanya selamat. Edi berharap tidak terjadi lagi kejadian serupa kembali terulang. “Saat lari itu suasana hati tidak menentu, jantung berdegup, cemas, takut dan segalanya bercampur. Namun, kami tetap berdoa,” sebutnya.
Edi menjelaskan, sejak dari TK, ke empat anaknya sudah dididik untuk cinta pada Allah dan Rasul serta hafiz Quran. Edi keseharian berjualan kopi dari pasar ke pasar. Sedangkan istrinya mengajar di TK, dan pada sore mengajar di TPA. “Alhamdulillah semua anak termasuk istri juga hafiz Quran,” sebutnya.
Edi menjelaskan, jika mereka tahu bahwa kondisi mereka viral di media sosial. Padahal mereka tidak pernah menyebutkan hal itu pada orang lain. ”Saya juga sudah jelaskan pada anak-anak, barangkali Allah SWT yang menunjukan hal itu melalui orang lain, agar kita semua bisa memetik hikmah,” ujarnya.
Edi menjelaskan, meski dalam suasana bencana, keluarga mereka selalu diberikan kemudahan. Dia pun mengingatkan, agar dalam kondisi apapun, untuk selalu mengingat Allah karena pertolongan Allah itu nyata. “Kita mungkin bisa selamat dari bencana, tapi tidak dengan kematian,” ingatnya. (NANDA ANGGARA—Tanahdatar)
Editor : Novitri Selvia