Dengan kemenangan gemilang atas juara dunia Nicka dari Lithuania di final Olimpiade 2024, Ami dari Jepang menjadi juara pertama dalam sejarah kompetisi breaking putri di Olimpiade.
Lahir di Saitama tahun 2008, Ami Yuasa adalah salah satu atlet breakdance terbaik di Jepang.
Sejak usia enam tahun, Ami telah diperkenalkan pada musik hip-hop oleh kakak perempuannya, yang kemudian membuatnya jatuh cinta pada breakdance.
Nama pemberiannya, Ami, dipilihnya sebagai nama B-Girl, sebuah identitas yang kini telah menjadi simbol kemenangan dan kehebatan di dunia olahraga ini.
Ami mulai dikenal di dunia breakdance tahun 2016 ketika ia dan saudara perempuannya, Ayu, memenangkan kompetisi ganda.
Namun, terobosan besar dalam karier Ami terjadi pada tahun 2018, ketika ia menjuarai BC One World Final, sebuah kompetisi bergengsi yang memperkenalkan bakatnya ke panggung dunia.
Kemenangan ini membuka jalan bagi prestasi-prestasi besar berikutnya, termasuk kemenangan di WDSF World Breaking Championships pada tahun 2019, yang kemudian diulangnya tahun 2022.
Tak hanya itu, Ami juga berhasil memenangi BC One World Final lainnya tahun 2023, dan semakin memperkokoh posisinya sebagai salah satu B-Girl terbaik di dunia.
Gadis Pemalu
Sebelum menemukan passion dalam breaking, Ami dikenal sebagai gadis pemalu yang sering kali merasa gugup dalam berbagai situasi.
Namun, melalui perjalanan panjangnya dalam dunia breaking, ia telah berubah menjadi seorang atlet yang percaya diri, baik di atas panggung maupun di luar arena.
Bagi Ami, breakdance bukan hanya sekadar olahraga; ini adalah medium yang telah mengasah kepercayaan dirinya dan membantunya tumbuh menjadi diri yang lebih kuat dan berani.
Tidak Ingin Hidup Berubah
Kemenangan di Paris tidak hanya akan mengubah hidup Ami sebagai atlet, namun juga sebagai pribadi.
Ketika kembali ke Jepang dalam beberapa hari ke depan, semua perhatian, sponsor dan undangan jumpa media akan menghampiri Ami dengan cepat.
Kini, Ami bukan lagi sekadar B-Girl biasa; dia adalah seorang peraih medali emas Olimpiade.
Namun, di tengah gemerlapnya status baru ini, Ami memiliki harapan sederhana: dia ingin segalanya tetap sama, kecuali satu hal: pengakuan yang lebih besar untuk seni breaking, baik di dalam maupun luar negeri.
“Saya tidak ingin hidup saya berubah,” ungkap Ami kepada Olympics.com setelah mengalahkan Nicka dengan skor telak 3-0 untuk meraih emas.
“Maksud saya, dalam arti yang baik, saya tidak ingin banyak perubahan dalam diri saya sendiri. Saya senang ketika breaking mendapatkan lebih banyak perhatian sebagai hasilnya. Olahraga ini tidak hanya tentang pemenang. Kebetulan saya menang hari ini, ketika semua orang menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Hari lain, waktu lain, hasilnya bisa saja sangat berbeda,” jelasnya.
Ami lebih senang ketika orang-orang belajar dan memahami keindahan breaking, bukan hanya medali emas yang diraihnya.
Keras Kepala dan Fokus
Pelatih Jepang, Katsu One mengatakan bahwa Ami adalah sosok yang sangat keras kepala.
Kualitas yang telah membantunya tetap fokus dan akhirnya menjadikannya yang terbaik di dunia.
Katsu One telah melatih wanita 25 tahun itu sejak ia mulai serius dalam dunia breaking, bahkan sebelum ia menjadi seorang remaja.
"Dia tidak berubah sedikit pun," kata Katsu One.
"Namun, justru karena keras kepalanya itulah dia bisa tetap fokus. Dan sekarang dia adalah nomor satu di dunia. Dia memiliki insting yang luar biasa. Dia tidak pernah gentar dengan siapa pun yang dihadapinya. Secara mental, dia berada dalam kondisi yang sangat baik sepanjang hari. Itu, dan persiapan yang dia lakukan, semuanya bersatu," tutur Katsu.
Selama empat fase kompetisi, Ami tetap seperti biasanya.
Perempat Final Mengesankan
Dia tidak melakukan hal lebih dari yang diperlukan. Itulah cara Ami berkompetisi.
Bagi Ami, pertarungan paling berkesan pada hari itu ternyata bukanlah final, melainkan perempat final melawan Syssy dari Prancis.
Di momen itulah Ami menyadari bahwa dia bisa menjadi dirinya sendiri di panggung terbesar yang belum pernah dilihat oleh dunia breaking.
“Saya masih belum benar-benar menyadarinya, tetapi saya sangat bahagia. Mungkin saya lebih bahagia daripada yang saya kira. Saya sedang berada di puncak kebahagiaan saat ini. Jadi begitu saya turun ke bumi, saya akan mencoba menerimanya sedikit demi sedikit,” katanya.
“Lebih dari final, ketika saya memenangkan perempat final, saya berpikir, wow, saya bisa melakukan ini—di panggung ini. Di semifinal, saya benar-benar merasa tenang karena menang atau kalah, saya masih akan memiliki pertandingan perebutan tempat ketiga,” tambahnya.
Ami mengatakan bahwa karena perasaan lega itulah dia bisa menari dengan kemampuan terbaiknya dan menikmati setiap momen.
"Melihat kembali sekarang, saya tidak terlalu memikirkan medali, dan itu menguntungkan saya," tambahnya.
Di panggung Olimpiade, Ami bukan hanya seorang penari. Dia adalah simbol dedikasi, fokus, dan cinta sejati terhadap seni breaking.
Dengan medali emas di tangannya, Ami telah menulis babak baru dalam sejarah olahraga ini—dan membawa breaking ke ketinggian baru di mata dunia.(*)
Juara Breaking Putri Olimpiade Paris 2024:
- Emas: Ami, Jepang.
- Perak: Nicka, Lithuania.
- Perunggu: 671, Republik Rakyat Tiongkok.