Sebatang kretek menyala di tangannya, memberikan gambaran tentang kepribadian yang keras dan tekun. Bagi banyak orang, Adek adalah sosok yang dikenal sebagai joki Pacu Jawi, sebuah tradisi balap sapi yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kebudayaan Tanahdatar. Setiap tahunnya, ia selalu ikut serta dalam lomba ini, tak peduli tantangan yang harus dihadapi.
Menjadi joki Pacu Jawi bukanlah hal yang mudah. Adek sendiri mengakui bahwa perjalanan hidupnya dalam dunia pacu sapi ini penuh dengan lika-liku.
Ia menyebutkan bahwa berpartisipasi dalam Pacu Jawi adalah sebuah perjuangan yang memerlukan ketahanan fisik dan mental yang luar biasa.
“Sudah sering cedera, sebab pada saat menarik pelatuk di pacu jawi, kalau jatuh ya merupakan hal yang wajar saja,” ungkapnya dengan senyum yang tak lepas.
Cedera-cedera yang dialaminya seolah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sebagai seorang joki, namun itu tidak menghentikan semangatnya untuk terus melestarikan tradisi yang sudah ada sejak zaman nenek moyangnya.
Seperti kebanyakan joki lainnya, Adek tidak hanya melihat pacu sapi sebagai sebuah ajang balap, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga dan merawat warisan budaya.
"Ini bukan sekadar hobi, tetapi juga tanggung jawab saya untuk menjaga kelestarian tradisi. Kalau bukan kita yang melestarikannya, siapa lagi?" ujarnya penuh semangat.
Setiap tahunnya, setelah musim panen padi tiba, Pacu Jawi diadakan untuk merayakan hasil pertanian yang melimpah. Dalam lomba ini, selain menguji kecepatan sapi, juga teruji keahlian petani dalam mengendalikan sapi yang mereka pelihara.
Semua ini merupakan bagian dari upaya untuk menjaga keberlanjutan tradisi yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Tanah Datar.
Pacu Jawi memang bukan sekadar lomba adu cepat sapi. Lebih dari itu, acara ini menjadi ajang untuk mempererat silaturahmi antarwarga.
Masyarakat datang berbondong-bondong untuk menyaksikan tradisi ini, yang sudah menjadi bagian dari identitas mereka. Adek, yang dikenal sebagai joki andalan, merasa sangat bangga dapat berpartisipasi dalam acara tahunan tersebut.
“Ini adalah cara kami saling mengenal, berbagi cerita, dan mempererat tali persaudaraan. Saat lomba berlangsung, kami seperti satu keluarga besar yang saling mendukung,” kata Adek, sembari tersenyum.
Bagi Adek, setiap pacuan yang diikuti bukan hanya untuk mengejar kemenangan, tetapi juga untuk memastikan bahwa sapi-sapi yang ia arahkan tetap berlari dengan baik dan memenangkan lomba.
Ia memegang pelatuk yang dipasang di bagian belakang sepasang sapi dengan penuh kehati-hatian.
"Tugas saya bukan hanya sekadar mengendalikan sapi agar cepat, tapi juga menjaga keseimbangan dan arah lari mereka. Kalau sampai jatuh atau tersesat, maka bisa dipastikan sapi itu gagal dalam lomba," ujarnya dengan nada serius. Keterampilan dalam mengendalikan sapi, bagi Adek, adalah hal yang paling utama.
Tak jarang, sapi-sapi yang ia pacu berhasil menjadi sapi unggulan yang dibeli dengan harga tinggi. "Paling mahal dulu sempat 60-80 juta," katanya dengan bangga.
Keberhasilan ini menjadi salah satu bukti nyata dari seberapa besar kontribusi Adek dalam memastikan keberhasilan pacu sapi tersebut. Namun, bagi Adek, uang bukanlah tujuan utamanya.
“Keberhasilan saya bukan diukur dari harga sapi yang terjual, tapi dari kepuasan hati karena sudah menjaga tradisi dan budaya ini tetap hidup,” ungkapnya.
Pacu Jawi, dengan segala ritual dan prosesi yang menyertainya, juga memiliki makna sosial yang tinggi. Setiap penyelenggaraan Pacu Jawi bukan hanya ajang untuk berlomba, tetapi juga menjadi momen berkumpulnya masyarakat untuk merayakan hasil bumi mereka.
Dalam setiap acara, tidak hanya para petani dan joki yang terlibat, tetapi juga keluarga dan masyarakat sekitar yang turut serta dalam suasana kebersamaan yang hangat. Sorak sorai penonton, tawa ceria, dan kegembiraan terlihat di sepanjang jalur pacu yang berlumpur.
Bagi Adek dan banyak orang lainnya, Pacu Jawi adalah simbol kedekatan mereka dengan alam dan hasil pertanian yang mereka tanam dengan kerja keras.
“Berkat panen yang melimpah, kita bisa mengadakan Pacu Jawi. Ini adalah cara kita merayakan hasil bumi yang telah Tuhan berikan,” ujar Adek dengan penuh rasa syukur.
Baginya, pacu jawi bukan hanya soal adu kecepatan, tetapi juga sebuah bentuk penghargaan terhadap alam dan hasil pertanian yang selama ini menjadi sumber kehidupan mereka.
Pacu Jawi juga membawa dampak positif terhadap perekonomian lokal. Banyak wisatawan domestik maupun mancanegara yang tertarik untuk datang dan menyaksikan keunikan lomba ini.
Mereka datang tidak hanya untuk menikmati ajang balapan sapi yang penuh adrenalin, tetapi juga untuk merasakan suasana kentalnya budaya Minangkabau yang masih terjaga.
"Pacu Jawi menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, karena selain bisa melihat lomba yang seru, mereka juga bisa merasakan atmosfer budaya yang sangat kental," kata Adek.
Di era modern ini, Pacu Jawi memang menghadapi berbagai tantangan. Perubahan zaman, dengan segala kemajuan teknologi dan modernisasi, kadang membuat tradisi ini terancam punah.
Namun, masyarakat Tanahdatar bersama pemerintah setempat tetap berusaha keras untuk menjaga kelestariannya.
Setiap tahun, acara ini diadakan dengan lebih terorganisir dan menarik lebih banyak perhatian dari berbagai kalangan.
"Kita tidak boleh membiarkan tradisi ini hilang begitu saja. Pacu Jawi adalah warisan budaya yang sangat penting bagi kita," ungkap Adek dengan penuh keyakinan.
Selain sebagai ajang perlombaan, Pacu Jawi juga menjadi ajang untuk memperkenalkan budaya Minangkabau kepada dunia luar. Melalui lomba ini, banyak orang yang mulai mengenal keindahan alam Tanahdatar, keramah-tamahan masyarakat, serta keunikan tradisi yang masih dipertahankan.
Adek dan teman-teman joki lainnya menjadi bagian dari representasi budaya tersebut, yang dengan bangga mengenalkan Pacu Jawi kepada dunia.
Dalam setiap lomba, Adek tidak hanya berharap dapat memenangkan perlombaan, tetapi juga berharap tradisi ini dapat terus berkembang dan diwariskan kepada generasi selanjutnya.
"Saya berharap anak-anak muda bisa melihat betapa pentingnya menjaga budaya ini. Pacu Jawi adalah bagian dari identitas kita, dan kita harus bangga dengan itu," ujarnya dengan penuh harapan.
Adek Qudratillah, seorang satpam yang sederhana namun memiliki dedikasi luar biasa terhadap tradisi Pacu Jawi, adalah contoh nyata bagaimana hobi dapat menjadi perekat silaturahmi.
Bagi Adek, bukan kemenangan yang utama, tetapi rasa kebersamaan dan kebanggaan terhadap warisan budaya yang semakin kuat.
Dengan semangat yang tak pernah padam, Adek terus melangkah, membawa Pacu Jawi sebagai simbol kekuatan komunitas dan kebanggaan lokal, menjaga tradisi untuk tetap hidup di tengah gempuran modernitas. (shyntia aprizani)
Editor : Hendra Efison