PADEK.JAWAPOS.COM-Masjid Assalam, yang terletak di Kilometer 0 Desa Tuapejat, bukanlah masjid tertua di Pulau Sipora, namun merupakan masjid kedua terbesar di Kepulauan Mentawai setelah Masjid Miftahul Jannah di Desa Sipora Jaya. Keberadaan masjid ini menyimpan kisah perkembangan penting bagi wilayah tersebut.
MASJID Assalam dibangun sekitar tahun 1995 atau sebelum Kabupaten Kepulauan Mentawai mekar dari Padang Pariaman. Pada awalnya, bangunan masjid ini sangat sederhana, hanya berukuran 8 meter x 8 meter.
Tanah tempat berdirinya masjid ini merupakan hibah dari seorang tuan tanah di Tuapejat. Sebelum masjid berdiri, lokasi tanah tersebut digunakan sebagai tempat penumpukan kayu loging oleh perusahaan kayu yang beroperasi di sekitar Pelabuhan Tuapejat.
Menurut Faizin, 55 tahun, seorang warga Desa Tuapejat, pendirian masjid ini dipengaruhi oleh perkembangan transportasi kapal ke Mentawai dan peningkatan migrasi penduduk ke daerah tersebut.
Tujuan utama pendirian Masjid Assalam adalah untuk memberikan akses yang lebih mudah bagi masyarakat muslim yang datang dan pergi melalui pelabuhan Tuapejat.
Sebelumnya, masjid satu-satunya yang ada di Tuapejat, Masjid Al-Amin, cukup jauh dari pelabuhan, sehingga masjid Assalam hadir sebagai solusi bagi mereka yang membutuhkan tempat ibadah lebih dekat. Nama “Assalam” yang bermakna keselamatan, juga diyakini memiliki kaitan dengan filosofi masyarakat Mentawai.
Dalam bahasa Mentawai, “Tuapejat” berarti tempat singgah atau berlindung. Dulu, nenek moyang orang Mentawai yang nomaden sering berlayar menggunakan perahu layar dari Pulau Siberut menuju Pulau Sipora atau Pagai-Sikakap.
Ketika cuaca buruk, Teluk Tuapejat menjadi tempat singgah atau berlindung hingga cuaca membaik dan perjalanan dilanjutkan. Oleh karena itu, masjid ini dianggap sebagai simbol keselamatan bagi siapapun yang datang dan pergi dari Tuapejat.
Masjid Assalam tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat aktivitas umat Islam di sekitar pelabuhan Tuapejat. Keberadaannya memberikan kemudahan bagi warga yang tinggal di sekitar pelabuhan, mengurangi kebutuhan untuk menempuh perjalanan jauh ke Masjid Al-Amin.
Setelah pemekaran Mentawai pada tahun 1999, perluasan masjid ini dilakukan, dengan bantuan dari Pemkab Kepulauan Mentawai. Wakil Bupati saat itu, Atarmizi, turut berperan dalam memperluas tanah halaman masjid dan memberikan hibah dana untuk pembangunan.
Kini, masjid Assalam telah berkembang menjadi masjid kedua terbesar di Mentawai dengan ukuran sekitar 20 meter x 20 meter.
Banyak tokoh masyarakat yang berjasa dalam pembangunan masjid ini, dan sebagian besar dari mereka sudah meninggal.
Semoga amal dan jasa mereka diterima oleh Allah SWT sebagai amal saleh. Dengan perjalanan panjang dan kontribusi masyarakat, Masjid Assalam telah menjadi simbol penting bagi perkembangan agama Islam dan kehidupan sosial di Kepulauan Mentawai.(ARIF RD—Mentawai)
Editor : Novitri Selvia