PADEK.JAWAPOS.COM-Di panggung seni pertunjukan dunia, Ery Mefri dikenal sebagai koreografer tari kontemporer. Puluhan karya telah ia buat dan tampil di berbagai negara di Asia, Eropa, Amerika juga Australia.
Tapi, agaknya tak banyak yang tahu, seniman kelahiran 23 Juni 1958 itu punya dua komposisi yang kini menjadi tari tradisi Kota Sawahlunto. “Kito batanun lai badunsanak,
ondeh tuan oi.”
LIRIK yang didendangkan beberapa orang lelaki itu mengiringi bunyi saluang. Lalu diulang seorang perempuan. Seiring kemudian, dari sisi kanan, enam penari perempuan masuk ke sebuah panggung pertunjukan di Taman Budaya Sumbar pada Sabtu (12/4) malam.
Langkah mereka pendek-pendek, cepat, namun lembut di bawah sorotan lampu merah dan kuning. Dua penari berpakaian adat warna hitam dan merah merentangkan tangan di tengah panggung. Yang di kanan sedikit di atas kepala.
Satu menggenggam kain biru, lainnya kuning. Menjuntai hampir sejajar lutut. Sedangkan di tangan kiri, masing-masing memegang turak –alat dari bambu untuk memasukkan benang ke sela-sela benang lain dalam pekerjaan menenun- sepanjang 30 sentimeter.
Memutar sekali, kain pun dibentang tepat di depan mereka berdiri.
Lalu mundur beberapa langkah dan duduk bersimpuh saling berhadapan. Begitu juga empat penari lain dengan pakaian adat warna merah dan hijau.
Satu pasangan di kanan panggung, lainnya di bagian kiri. Mereka menggerakkan tangan dan badan seperti gadis-gadis Lunto -sebuah nagari di pedalaman Sumatera Barat- sedang menenun.
Itulah Tari Tanun. Dibawakan Sanggar Canang Badantiang pada Kaba Festival X 2025 Nan Balega sekitar 12 menit. Dengan durasi sembilan menit, grup asal Kota Sawahlunto ini juga menampilkan Tari Layuak Batoboh. Sebuah komposisi tari yang menggambarkan dinamisnya hidup masyarakat petani.
Kedua komposisi tari itulah karya Ery Mefri yang kini menjadi tari tradisi Sawahlunto. Lalu bagaimana bisa demikian? Dan seperti apa proses kreatifnya?
Lampu panggung telah dimatikan. Berbagai peralatan pun berangsur-angsur dikemas. Dari arena pertunjukan itu, terlihat lelaki hampir 67 tahun ini, menghampiri sebuah warung yang masih berada di komplek Taman Budaya Sumbar.
Sesampai tujuan, Ery duduk di sebuah kursi plastik. Menatap ke arah dari mana ia datang tadi. Tak berapa lama, Padang Ekspres menghampirinya untuk berbincang-bincang.
“Memang. Tak banyak yang tahu, Ery buat tari tradisi. Itu permintaan Amran Nur (wali kota Sawahlunto periode 2003-2013),” ucapnya membuka cerita.
Sejak Sawahlunto dimekarkan dari Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung tahun 2003, grup kesenian daerah tersebut kerap mendapat protes dari daerah lain. Karena menampilkan tari tradisi yang bukan dari daerah mereka sendiri.
Soalnya, kota tersebut memang tak punya tari tradisi. Hal ini sampai ke telinga Amran Nur. Kemudian meminta Ery membuatnya. Proses pun dimulai tahun 2004. Yakni penggarapan Tari Tanun.
Riset di Lunto tak Ada yang Tua
Sebagaimana proses kreatifnya dalam melahirkan sebuah tari kontemporer, Ery menggali dan mencari komposisi tidak dalam waktu singkat. Sehingga tari tersebut baru dipentaskan untuk pertama kalinya di Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto, dua tahun kemudian.
Waktu itu masih menjadi kantor Bank Mandiri. Tari Tanun dibuat, tak lepas dari tradisi di Sawahlunto yang dikenal lewat kerajinan tenunnya.
Untuk tempat riset, kepada pemerintah setempat ia minta dicarikan daerah yang tenunannya masih dibuat secara tradisional, asli buatan tangan, dan tidak diproduksi masif.
Dapatlah nama daerah itu Lunto di Kecamatan Lembahsegar. Di sana, untuk membuat satu kain tenun saja terkadang butuh waktu lebih dari sebulan dan belum tentu langsung laku terjual.
Sebagaimana dalam dendang pada bagian akhir tari itu, “tanun sudah, urang ndak adoh nan mambali.” Untuk menentukan rumah tempat dia melakukan riset, Ery butuh waktu seminggu.
“Satu per satu saya datangi rumah-rumah warga Lunto yang menenun. Pada akhirnya saya nilai sesuai, ada dua,” terangnya.
Untuk riset dan penciptaan komposisi gerak, lelaki kelahiran Saniangbaka, Kabupaten Solok itu butuh waktu satu tahun. Setahun kemudian, proses latihan.
Dalam melakukan riset, pendiri dan pimpinan Nan Jombang Dance Company ini tidak “pergi kosong”. Meski sangat dikenal sebagai koreografer kontemporer, dalam setiap karyanya selalu berakar pada seni tradisi. Sebab sejak kecil Ery juga akrab dengan tenun.
Sebab ibunya pembuat dulamak -kain tenun untuk tutup carano. Seperti diakuinya, ia jago juga untuk membuat itu. Jadi secara tantangan, bagi Ery, proses kreatifnya dalam membuat Tari Tanun tidak terlalu berat.
Termasuk soal bagaimana rasanya, ketika satu kerajinan selesai tapi tak langsung laku terjual. Padahal, itu sumber perekonomian keluarga. Ia pernah merasakan posisi yang sama.
Kalaupun ada, lebih kepada waktu riset yang panjang. Biasanya, untuk tari kontemporer cuma sebulan. Tapi kali ini jauh lebih lama. Lainnya, ia mesti berulang agak sekali sepekan, pulang pergi Padang-Lunto.
Dalam riset dia mempelajari bagaimana orang-orang Lunto menenun? Apa peralatan yang dipakai? Lalu siapa saja yang menjalankan kerajinan itu? Hingga kehidupan sosial dan ekonomi dari para pengrajin.
Salah satu hasil riset yang tampak jelas dalam karyanya itu adalah dari sisi penari. Di mana dia menemukan, para pengrajin tenun di Lunto perempuan berusia muda. Tak ada yang tua serta laki-laki.
“Jadi tari ini hanya boleh dimainkan perempuan-perempuan yang masih muda. Sanggar Canang Badantiang yang tampil tadi (Sabtu, 12 April lalu), semua penarinya masih SMA,” tutur Ery.
Tempuh Perjalanan Berjam-jam
Pada Tari Layuak Batoboh ia hanya butuh waktu riset empat bulan. Hal tersebut ada kaitannya dengan penggarapan Tari Tanun. Sebab, saat mulai menggarap ini tahun 2014, dia sudah paham bagaimana karakter dan sosial masyarakat di Sawahlunto.
Jadi pengalaman masa lalu memudahkannya dalam menghadapi masyarakat setempat. Sehingga pada tahun 2015 untuk pertama kali dipentaskan di Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto.
Layuak batoboh merupakan tradisi bercocok tanam masyarakat Kolok di Kecamatan Barangin. Dalam hal ini membuka lahan sawah. Di mana, masyarakat setempat secara seminomaden pergi membuka sawah yang berlokasi di balik bukit dari daerah mereka.
Lalu bertahun-tahun kemudian menempatinya. Ada juga setelah itu pergi dan dengan cara yang sama mencari lokasi baru. Menuju lokasi, petani harus sudah berjalan ketika sudah Shalat Subuh.
Berjalan kaki melewati jalan setapak mendaki dan menurun. Sampai di lokasi bisa empat atau lima jam kemudian. Kembali pulang, mereka biasanya akan sampai di rumah saat masuk waktu Isya.
Karena riset, Ery juga ikut berjalan ke balik bukit. “Waktu itu saya masih muda. Masih kuat,” katanya dengan senyuman.
Meskipun begitu, Ery mengakui, itu perjalanan yang melelahkan. Sehingga dia pun hanya sanggup ikut petani ke sawah sebanyak tujuh kali. Dalam karya itu, ia memikirkan perjuangan para petani. Bertahun-tahun bolak-balik sejauh itu untuk menggarap sawah.
“Dari riset ini, yang kemudian hadir dengan kuat dan mampu menjelaskan dengan gamblang tari tersebut adalah properti yang digunakan. Salah satunya topi khas petani,” jelas dia.
Tak seperti di Tari Tanun, semua penarinya perempuan tapi tanpa ada alasan khusus yang mengharuskannya. Sebab saat tari ini dibuat, Ery kesulitan mencari penari lelaki. Saat membuat tari tradisi, dia sebenarnya melakukan sejumlah penyesuaian antara kemauannya dan kemampuan para penari.
Misal, ia tidak bisa terlalu menguatkan kemauan sebagaimana saat menggarap tari kontemporer. Kemauan itu harus mengikuti kemampuan penari. Apalagi, selama proses berlangsung, tidak setiap hari pula dia berada di Sawahlunto.
“Saya beranggapan, kalau tidak saya sesuaikan dengan kemampuan (para penari) karya ini tidak akan selesai. Bayangkan saja, Rio (Mefri, penari utama Nan Jombang Dance Company) butuh waktu 10 tahun baru bisa menari. Paling cepat (bisa menari dengan Nan Jombang) butuh waktu tiga sampai empat tahun,” paparnya. (GANDA CIPTA —Padang)
Editor : Novitri Selvia