Bukan Aturan, tapi Pengelolaan Kelas yang Melahirkan Disiplin Siswa

Penulis : Maisarahtul Ispar dkk - Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Padang
Potret dari ruang kelas sekolah dasar di Padang: antara keteladanan guru, kelas yang tertata, dan kelas yang nyaris tak terkendali begitu guru tak ada di dalamnya.
Bel pagi berbunyi di salah satu Sekolah Dasar (SD), Sebagian siswa sudah duduk rapi di bangkunya, sementara beberapa lainnya baru muncul di gerbang dengan nafas terengah dan kancing baju yang belum terpasang sempurna. Pemandangan kecil ini bukan kejadian langka, ini mencerminkan persoalan yang masih membayangkan banyak SD di Indonesia, disiplin siswa.
Disiplin kerap dipahami secara sederhana sebagai kepatuhan terhadap aturan. Padahal bagi anak usia SD, disiplin sesungguhnya adalah proses belajar mengenali tanggung jawab dan mengendalikan diri, bukan semata-mata takut terhadap sanksi. Sayangnya, proses belajar ini tidak selalu berjalan mulus ketika berhadapan dengan kenyataan di lapangan.
Dari penelusuran yang dilakukan di salah satu SD negeri, sejumlah guru menyampaikan keluhan yang nyaris seragam. Siswa terlambat datang beberapa kali dalam seminggu, seragam yang dikenakan tidak selalu sesuai ketentuan, dan pekerjaan rumah yang menumpuk tak kunjung diselesaikan. Alasan yang muncul pun beragam, mulai dari lupa, jarak rumah yang jauh, bahkan minimnya pengawasan dari orang tua di rumah.
Namun, gambaran yang sama sekali tampak berbeda muncul begitu kaki melangkah ke ruang kelas yang sedang aktif dibimbing guru. Bangku kelas ditata dengan rapi dan beragam tampak ketika melakukan observasi ke salah satu SD bangku ditata melingkar dalam kelompok kecil berisi empat hingga lima siswa, mendorong interaksi yang lebih hidup di antara mereka. Siswa tampak antusias mengikuti arahan, sesekali tersenyum lebar saat guru menyelipkan ice breaking di sela penjelasan materi.
Perbedaan itu semakin terasa ketika melihat kelas lain yang pada saat itu sedang tidak diisi guru, jam kosong. Suasana seketika berubah riuh, beberapa siswa sibuk keluar masuk kelas tanpa izin, dan proses belajar nyaris teehenti total. Dua suasana yang hanya berjarak beberapa pintu tersebut menunjukkan satu hal yakni kehadiran dan cara guru mengelola kelas ternyata jauh lebih menentukan kedisiplinan siswa dibandingkan sekadar aturan yang hanya tertempel di dinding.
Persoalan ini tidak bisa dibebankan begitu saja kepada anak. Metode mengajar yang monoton memicu kebosanan siswa yang ujung ujungnya berubah menjadi keributan kecil di dalam kelas. Disisi lain, Kondisi ekonomi keluarga turut berperan, jarak rumah yang jauh, keterbatasan kendaraaan hingga keterbatasan penggunaan hp dan akses internet membuat sebagian anak kesulitan datang tepat waktu atau menuntaskan tugas. Itu semua bukan karena malas melainkan karena keterbatasan fasilitas mereka miliki.
Menghadapi kenyataan tersebut sejumlah guru mulai bergeser dari pedekatan menghukum menuju pendekatan mencegah. Aturan aturan tersebut dirancang bersama sama dengan siswa agar mereka merasa ikut serta dalam membuat kesepakatan aturan di kelas tersebut yang bukan sekadar dipaksa untuk menaati variasi metode mengajar, penataan tempat duduk yang nyaman, serta dengan adanya permainan edukatif yang membuat suasana belajar serta menjaga fokus anak sebelum merasa bosan dalam belajar.
Ketika pelanggaran masih terjadi, banyak guru yang memilih jalan mendidik anak dengan menghukum semata, Anak diajak memahami mengapa suatu perilaku dapat dilakukan, bukan sekadar dijatuhi sanksi tanpa penjelasan, Keteladanan menjadi kunci di titik ini, Sebab seorang guru yang selalu datang tepat waktu dan berpakaian rapi, tanpa banyak perkataan, itu merupakan cara guru mengajarkan pelajaran disiplin yang paling efektif kepada murid muridnya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




