Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Geliat Usaha Tailor Leter U Pasar Raya Padang di Era Online: Bisa Disesuaikan dengan Keinginan

Tandri Eka Putra • Rabu, 2 Juli 2025 | 12:00 WIB

BERTAHAN: Marzeni pemilik Asli Tailor di Gedung Leter U Pasar Raya Padang tengah menuntaskan pesananan salah seorang pelanggannya, Minggu (29/6).(TANDRI EKA PUTRA/PADEK)
BERTAHAN: Marzeni pemilik Asli Tailor di Gedung Leter U Pasar Raya Padang tengah menuntaskan pesananan salah seorang pelanggannya, Minggu (29/6).(TANDRI EKA PUTRA/PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM-Lantai dua Gedung Leter U Pasar Raya Padang hampir seluruh petaknya berisi aktivitas menjahit, taman bacaan dan sedikit usaha lainnya. Tapi itu dulu. Sekitar tahun 1990-an. Sekarang? Sebagian rusak dan sebagian terlihat selalu tertutup.

MARZENI adalah salah satu pemilik tailor atau usaha menjahit pakaian yang masih bertahan di sana hingga kini. Dia memulai usaha sejak tahun 1982.

“Wallahualam tidak ada jadwal yang pasti,” kata lelaki yang akrab disapa Men itu ketika Padang Ekspres, ketika ditanya kapan biasanya pelanggan ramai, Minggu (29/6).

Asli Tailor nama yang diberikan untuk usahanya itu. Berada di dekat tangga Gedung Leter U Pasar Raya Padang. Dahulu, biasanya pesanan yang ia terima akan meningkat jelang Lebaran atau semester baru perkuliahan.

Sekarang tidak lagi bisa dipastikan. Tapi dia berpegang terguh pada prinsip, rezeki ada saja. Sebagai penjahit, ia membuat beragam pakaian. Baik Perempuan maupun laki-laki dengan berbagai tingkat usia. “Kalau jelang Lebaran biasanya baju berpasangan atau baju keluarga,” sebutnya.

Usaha jahitnya juga punya langganan dari banyak mahasiswa. Beberapa kampus swasta atau kelompok mahasiswa juga membuat baju seragam di sana.

Saat ditemui, Men sedang membuat pola celana pada bahan kain. Ia dengan cekatan menggunting pola-pola tersebut. Menyusun sesuai ukuran yang telah dicatat di sebuah buku tulis besar.

Tidak ada keraguan dalam setiap langkah kerjanya. “Sejak tahun 1982 sudah buka kedai disini. Tiap hari yang dikerjakan seperti ini,” katanya dengan tersenyum kecil.

Tokonya berukuran kira-kira 4x3 meter. Men Asli Tailor sendiri saja waktu ditemui. Namun di toko tersebut terdapat empat mesin jahit berbagai jenis.

Beberapa pakaian kebaya wanita dan pakaian pria terpajang di manekin. Beberapa tumpukan kain dengan kertas kecil juga tersusun rapi di lemari dinding dalam toko.

Dulu, cerita Men, usaha yang dipimpinnya ini memiliki empat karyawan. Masing-masing memiliki tugas tersendiri. “Kini ya sendiri. Orderan sepi,” jawabnya ketika ditanyakan mana yang lain.

Bagi Men, usaha jahit ini adalah tanggung jawab profesi pengisi hari di masa tua. Anak-anaknya telah dewasa dan punya pekerjaan. Ia juga tidak punya tanggungan lagi. Toko itu telah dibeli pada tahun 1992.

Tak hanya membeli toko, dengan usaha itu, dia pun mampu melunasi angsuran rumah. Sebab itu, anak-anaknya pernah meminta dia untuk tidak usah bekerja lagi. Tapi Men menolak. “Ini pengisi hari, daripada berdiam diri saja,” katanya.

Di era digital hari ini, banyak usaha yang dipasarkan lewat online. Begitu juga pakaian siap pakai. Konsumen cukup lihat-lihat di sejumlah layanan e-commerce.

Jika ada yang terpaut dihati dan cocok pula dengan isi kantong, tinggal klik. Beberapa hari kemudian, pesanan pun sampai di depan pintu rumah.

Nah, bagaimana Men, bisa terus bertahan di era banyaknya toko online hari ini? Ia mengakui, usaha jahit menjahit ini tidaklah seperti dulu. Zaman telah berubah. “Kalau pelanggan tetap ada, walau tidak sebanyak dulu,” kata Men.

Walau pakaian online banyak yang murah, namun kualitas dan selera pemakaian berbeda-beda. “Kalau ingin yang asli ya di sini,” katanya tertawa sambil menunjuk plang merek di depan toko.

Tidak jauh dari Asli Tailor, ada satu lagi toko yang juga masih bertahan. Idaman Tailor. Di toko itu tampak sepasang anak muda lagi mencoba pakaian yang baru selesai dibuat. Nedi, penjahit di toko itu sudah terlihat akrab dengan pelanggannya itu.

Pakaian yang dicoba wanita muda ini tampaknya memiliki model yang bagus. Mereka juga terlihat puas dengan dengan karya Nedi.

Sang penjahit terlihat sangat paham dengan selera pelanggannya. Ia dengan ramah menerangkan detail-detailnya. “Sudah 21 tahun buka toko di sini,” kata Nedi yang terlihat lebih muda dari Men Asli Tailor.

Umumnya, pelanggan Nedi membuat pakaian baru dengan model dan keinginan mereka. Lalu dengan keahlian dan pengalamannya, ia menghasilkan karya yang diminati pelanggan. “Bagus hasilnya,” kata Devi, salah satu pelanggan.

Ia merasa puas, karena desain itu merupakan hasil imajinasinya menggabungkan desain-desain baju di toko online dan keinginannya. Katanya, baju online kadang banyak yang sama.

Sehingga ketika dipakai dalam sebuah acara, kadang seperti baju kembaran. “Baju bagus dibuat khusus,” sebutnya puas. Apakah pembaca sepakat? (TANDRI EKA PUTRA—Padang)

Editor : Novitri Selvia
#pasar raya padang #Gedung Leter U Pasar Raya Padang #penjahit pakaian