Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Melihat Pasar Raya jelang Usia Padang Ke-356 Tahun: Sudah Berbenah, masih Ramai Tipis-tipis Saja

Suryani • Senin, 21 Juli 2025 | 11:00 WIB

MODERN: Pasar semimodern Fase VII Pasar Raya Padang terlihat sepi pekan lalu.(SURYANI/PADEK)
MODERN: Pasar semimodern Fase VII Pasar Raya Padang terlihat sepi pekan lalu.(SURYANI/PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM-Sebentar lagi Kota Padang berusia 356 tahun. Tepatnya 7 Agustus 2025. Di usia yang lebih 3,5 abad, Padang terus berbenah.

Seiring tuntutan dan kemajuan zaman. Pasar Raya dulu jantungnya ekonomi Padang. Kini senantiasa berusaha mewujudkan kejayaan masa lalu. Mungkinkah?

HARI masih pagi. Matahari bersinar cerah Rabu (16/7). Pasar Raya Padang belum ramai. Pasar Modern Fase VII Pasar Raya Padang tampak sepi. Tak ada suara hiruk pikuk. Beberapa pedagang sudah menggelar dagangannya. Usai direnovasi pasar ini jauh lebih megah.

Tiga lantai. Layaknya pasar modern dilengkapi ekskalator. Mungkin karena tidak ramai, tangga berjalan itu belum berfungsi. Masih mati. Setidaknya ketika Padang Ekspres berkunjung ke sana.

Di basement (dulu lantai dasar bawah Matahari Departemen Store) hampir semua toko sudah ditempati pedagang. Mereka dulunya juga berjualan di sana. Dagangannya relatif sama seperti dulu. Aksesoris, pakaian jadi, baju seragam, tas, sepatu, buku-buku dan lainnya.

Memasuki gerbang depan, langsung disambut penjual aksesoris jilbab. “Bali apo Bunda? Aksoris jilbab, ada tiga sepuluh ribu,” sambut sang penjual, wanita berhijab, Voni.

Voni berkata, usai direnovasi, suasana pasar memang lebih nyaman. Dulu bocor kalau hujan. Fase VII paling akhir direnovasi pascagempa 2009 lalu. Setelah 14 tahun porak poranda diguncang gempa, pedagang baru bisa bernapas lega.

Kini masalah lain lagi. Pembeli tidak seramai dulu. Pengunjung pasar makin berkurang. Paling saat libur atau akhir pekan lumayan yang datang dan berbelanja.

Karena Voni dagangannya hanya aksesoris dan harga murah meriah pula, masih banyak berjual beli. “Yang beli aksesoris lumayanlah. Selalu ada,” ucapnya.

Beranjak ke Lantai 1. Depan tangga ada penjual hijab dan kaca mata. Menggelar dagangan pakai gantungan saja. Ibu-ibu muda ini mengaku pindahan dari Jalan Permindo. Sudah tiga minggu mereka menggalas di sana. Belum banyak pacah telur.

“Ampia sebulan manggaleh di siko baru lima kali pacah talua. Yo, baa lai, indak buliah manggaleh di Permindo lai,” ucap penjual kaca mata, Riri Yusmawati, 32.

Senada dengan Ismawati, 34, penjual jilbab. Berjualan sambil memangku anaknya. Sewaktu berjualan di Jalan Permindo bisa meraup ratusan ribu sehari.

Selalu ada yang beli walau jam berjualan pendek. Sore hingga menjelang Magrib. Di Fase VII berjualan dari pagi sampai sore tak selalu berjual beli.

“Kalau ke sini orang agak enggan, harus parkir pula dulu, naik tangga, repot,” ucapnya. Ia berharap dibuat tangga di samping kiri dekat pusat kuliner supaya ada alternatif masuk langsung dari luar langsung naik ke lantai satu.

Selain itu sering menggelar kegiatan di lantai atas supaya ramai. Ujung-ujungnya pengunjung tertarik berbelanja. Saat ini memang ada kegiatan senam tiga kali seminggu oleh pegawai. “Lumayanlah ada juga yang belanja,” tuturnya.

Di lantai 1 ini juga terdapat bofet Soto Garuda. Dulu berada di lantai dasar. Saat jam makan siang selalu ramai. Bakutantang. Menunya masih sama. Selain soto juga ada gado-gado, es tebak, es teler dan lainnya.

Tapi kini tak banyak meja tersedia. Seperti hanya menjawab tanya pelanggan lama yang ingin bernostalgia saja. Naik ke lantai 2, masih banyak yang kosong. Terlihat deretan toko-toko yang terkunci rapat.

Hanya beberapa yang buka. Hitungan jari saja. Agaknya Pemko Padang mesti sering-sering mengadakan keramaian di sana. Senam sudah. Acara lomba, pagelaran seni budaya mungkin bisa juga.

Baik yang permanen maupun tentative. Melangkah ke belakang. Tak jauh beda. Pasar pakaian jadi, baju bekas, tekstil, sembako, los lambuang hingga Blok I-IV. Ramai tipis-tipis saja. “Kalau sore lai agak rami,” ujar Marni, penjual sembako di Jalan Sandang Pangan.

Letter U Melintas Waktu

Masih di Jalan Sandang Pangan ada Los Lambuang Letter U. Kondisinya lebih menyedihkan. Tidak terawat. Tak banyak yang berjualan. Hitungan jari yang bertahan.

Di era 90-an sampai 2000-an awal, Letter U, sangat terkenal. Walau tidak terlalu luas tapi hampir semua menu makanan dijual di sana. Mulai nasi Padang, soto, sate, gado-gado. Hampir semua makanan jadul ada di sana. Termasuk minuman. Ada es teller, es tebak, es campur, cendol dan lainnya.

Pedagang menjual dagangan dengan gerobak dan tenda. Untuk duduk pengunjung ada meja panjang. Antara pedagang terkesan saling berhimpitan.

Hanya tersisa lorong untuk lewat pengunjung. Yang makan ramai di sana. Jika ada orang lewat penjual spontan menyapa; “Uni Uda singgahlah.. Ada soto, sate, gado-gado, es tebak, es teler....”

Sapaan yang membuat perut keroncong ditingkahi aroma masakan yang menggugah selera itu masih sama sampai kini. Tapi yang berjualan tidak seramai dulu lagi. Hanya beberapa lapak yang masih buka.

Salah satu yang masih bertahan adalah gerobak Soto Mak Anjang. Kini di tangan generasi kedua. Diteruskan oleh anak Mak Anjang, Maryulis. “Bapak sudah meninggal beberapa tahun lalu,” ujarnya.

Walau beda tangan tapi rasa sotonya tetap sama. Soto daging dengan toping kas, daging lemak goreng kering badaruak. Soto Anjang masih joint dengan penjual minuman dalam satu tenda.

Reno, juga generasi kedua menggantikan ibunya juga sudah meninggal dunia. Ia menjual es tebak, es teler, es jeruk dan lainnya masih sama seperti dijual ibunya dulu.

Untuk harga, baik soto maupun minuman relatif murah meriah. Soto sepiring sudah pakai nasi hanya Rp 14 ribu saja. Aneka es Rp 10 ribu per gelas. Pedagang tetap mempertahankan menu legend sampai kini.

Reno tak menampik yang mampir di Los Lambuang Letter U tidak seramai dulu lagi. Sejak gempa 2009 pasar porak poranda dan perlahan sepi. Walau sudah lama berlalu tapi tetap tidak seramai dulu lagi. “Kalau dulu yang belanja sampai antri,” ujarnya.

Menurut dia, kebanyakan pedagang yang dulu sudah tak berjualan lagi. Ada yang sudah meninggal dan tidak diteruskan oleh anaknya.
Itu hanyalah sekelumit gambaran Pasar Raya Padang kini.

Banyak kalangan berharap Pasar Raya bisa bangkit lagi. Jaya seperti dulu. Jadi pusat grosir dan tujuan berbelanja pedagang semua daerah di Sumbar.

Pemko Padang pun terus berupaya membenahi sarana, prasarana dan fasiltas pasar demi kenyamanan pedagang dan pengunjung. Menata pedagang agar tertib dan teratur. Menghilangkan kesan semrawut. Salah satunya komitmen merelokasi PKL Permindo ke Fase VII.

Kemudian menertibkan PKL di jalan Sandang Pangan. Mereka pun sudah disediakan kios dan los di lantai atas Blok I-IV. Cuma saja hanya sebentar bertahan. Karena sepi tak ada yang beli mereka turun ke bawah lagi.

Baca Juga: Gempa M7,4 Guncang Rusia, Peringatan Tsunami Dikeluarkan

Pengunjung Pasar Raya Padang berkurang karena sudah banyak pasar satelit dan pasar kaget yang tersebar di sejumlah tempat di Kota Padang.

Kalau ada yang dekat, barang dan harga relatif sama kenapa harus ke Pasar Raya. Kelesuan ekonomi akhir-akhir ini juga memicu rendahnya daya beli masyarakat. Termasuk maraknya belanja online di era digitalisasi. (SURYANI—Padang)

Editor : Novitri Selvia
#Pasar Raya #HUT Kota Padang 356 #pemko padang #Pasar Modern Fase VII Pasar Raya Padang