Sejak melahirkan Zaki, Nyimas mengalami sejumlah penyakit serius. Kondisinya kini membutuhkan cuci darah tiga kali seminggu karena ginjalnya tidak berfungsi, ditambah katup jantung yang bocor selebar 4,5 cm.
Meski demikian, Nyimas tetap bertekad mendampingi sang putra mewujudkan mimpinya bermain di DBL.
Zaki, anak kedua Nyimas dan Muhammad, tumbuh dengan kecintaan pada basket sejak kelas 4 SD.
Tahun ini, tim basket putra SMA Bina Sriwijaya Indonesia (BSI) Palembang lolos verifikasi DBL, memberi Zaki kesempatan tampil di panggung anak muda terbesar Indonesia.
Debutnya berlangsung melawan SMAN 1 Unggulan Muara Enim, 15 September 2025 di GOR Jakabaring, Palembang.
“Sebetulnya saya lagi drop. Tapi inilah momen yang saya tunggu-tunggu. Zaki akhirnya bisa bermain DBL. Saya harus datang nonton langsung,” ujar Nyimas, yang dibantu pihak baik hati meminjamkan mobil dan oksigen untuk hadir di tribun.
Di laga perdana, tim putra SMA BSI Palembang kalah 27-37. Namun Zaki tampil moncer dengan mencetak 8 poin dan 8 rebound. Meski kalah, Nyimas tetap bangga dan memberi semangat kepada putranya.
Kisah Zaki tidak lepas dari pengalaman keluarganya. Saat lahir pada November 2009, Nyimas sempat koma tiga bulan akibat hipertensi parah saat persalinan.
Selama itu, Zaki dirawat ayah dan neneknya. Sejak usia dua tahun, Nyimas mengambil alih perawatan meski harus rutin cuci darah.
Selain Zaki, keluarga ini juga memiliki hubungan dekat dengan Anggun Annaila Zahra, sepupu Zaki, yang pernah tampil di DBL dan masuk Timnas Basket Putri U18, serta Tedy Marta Reza, mantan pebasket sekaligus Ketua Perbasi Banyuasin.
Bagi Nyimas, hadir di DBL bukan sekadar menyaksikan pertandingan.
Ia rela menempuh perjalanan 13 km dari rumah di Perumnas Sako ke Jakabaring Sport Center untuk mendampingi Zaki. Menurutnya, DBL bukan hanya kompetisi olahraga, tetapi juga wadah mewujudkan mimpi anak-anak muda.
“Saya ingin melihat Zaki bisa membanggakan orang tua seperti sepupunya Anggun, bahkan membela Indonesia lewat Timnas,” kata Nyimas.(*)
Editor : Heri Sugiarto