PADEK.JAWAPOS.COM-Hujan deras belum juga reda ketika Lima pendaki veteran asal Kuala Lumpur bersiap meninggalkan rumah di Shah Alam dan Bukit Jelutong pukul 07.10 waktu Malaysia.
Fuad Hilmi, Dr. Hussain, Abdul Hakim, Muhammad Fauzi dan Zaini, menatap langit yang kelabu dengan semangat tak surut melanjutkan petualangan menuju tanah Minang sudah menanti.
Ditemani suara hujan di kaca mobil, mereka diantar Ruzaini, putra Fuad, menuju Terminal 2 Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA).
Dari sana, pesawat Air Asia AK 406 sudah menanti untuk membawa mereka menyeberang menuju Bandara International Minangkabau, Padangpariaman, Indonesia.
Di Sumatera Barat, mereka punya misi menguji ketahanan fisik pendakian Gunung Talang. Maklum, para veteran penakluk gunung tertinggi di berbagai belahan dunia ini sedang bernostalgia, bersantai di gunung aktif ketinggian 2.597 MDPL itu.
Fuad, Dr. Husin, Hakim, dan Zaini, menginap semalam di Kota Bukitinggi. Selanjutnya ke Sawahlunto melewati Istano Pagaruyung, istananya Raja Minangkabau.
Sekilas Sawahlunto Heritage
Sawahlunto, merupakan kota kecil warisan tambang batubara Ombilin telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO di Azerbaijan, 6 Juni 2019.
Penduduknya hanya sekitar 56 ribu jiwa, terdiri dari berbagai etnis, Minang, Jawa, Batak, Nias, Sunda, Tionghoa, dan lainnya yang hidup dalam kerukunan penuh toleransi. Dikota ini terdapat dua gereja peninggalan Belanda yaitu Katolik dan Protestan.
Sawahlunto tidak seperti kota lain di Sumbar. Setelah jadi kota industri penting di era kolonial Belanda, kini Sawahlunto berubah wajah sebagai destinasi wisata tambang bawah tanah tertua di Asia dibalut berbagai bangunan peninggalan berarsitektur Eropa yang masih terpelihara sebagai bangunan cagar budaya dan dilindungi undang-undang.
Menikmati Makan Siang Gulai Tunjang
Tiba di Sawahlunto, tamu ini makan siang di Rumah Makan Siti Nurbaya menikmati hidangan spesifik hangat gulai tunjang, rendang, ikan palai, dendeng basah, sambalado merah dan hijau, telur dadar, rebusan pucuk ubi, dan lainnya.
“Rumah Makan Siti Nurbaya kampong cooking terbaik. Sederhana, hangat, dan benar-benar lezat. Makanannya sangat enak sehingga semua keluhan tentang lubang dan jalan yang berliku dari Bukittinggi menghilang seketika,” ungkap Zaini dengan nada bangga.
Setelah makan siang, tamu salat dan berdoa di Masjid al-Mujahidin Santur, lalu perjalanan dilanjutkan menuju Puncak Cemara menyaksikan panorama alam indah menawan dan asri ke pusat kota tua Sawahlunto yang terletak dalam lembah dilingkari bukit barisan oleh Belanda disebut Loento kloof.
“Ini adalah tempat favorit bagi pengunjung untuk bernafas di udara yang sejuk dan menikmati pemandangan yang menakjubkan. Berdiri di sana, angin di wajah kami, kami merasakan pesona masa lalu Sawahlunto dan janji masa kini sebagai surga wisata,” tambahnya.
Uji Nyali Masuk Situs Lubang Soero
Turun dari Puncak Cemara, tim kecil ini langsung menuju Situs Lubang Tambang Batubara Soero di Kelurahan Tanahlapang. Mereka masuk ke lubang tambang dikawal pemandu Afrizon alias Jhon. Kelima tamu hanya turun ke level 2 saja.
“Itu keren, lembab, dan sedikit menakutkan, jenis tempat di mana anda mulai memeriksa siapa yang memegang lampu obor. Namun, kelompok kami bukan orang yang mudah ketakutan. Pak John’s Lively Story telling membuat kami fokus pada sejarah daripada mengkhawatirkan siapa yang mungkin tertinggal jika lampu padam,” ucap Fuad, dalam dialeg Melayu.
Sebenarnya, mereka tergoda turun ke level 6, level terowongan terendah di situs Lubang Soero. Namun karena ingin mempertahankan energi untuk mendaki Gunung Talang keesokan harinya, dengan rasa menyesal akhirnya mereka membatalkan petualangan besar ke perut bumi Sawahlunto ini.
Setelah menghabiskan waktu beberapa menit, kelima pendaki ini melanjutkan perjalanan menuju Nagari Alahan Panjang dengan waktu tempuh sekitar dua jam. Dijalan, mereka berhenti sejenak di warung melepas dahaga sambil menikmati minum air kelapa muda.
Mereka mengakui, disepanjang jalan dihiasi pemandangan indah dan jalan berliku, menanjak dan menurun, dihiasi lautan padi menguning keemasan, perkebunan sayur mayur di ladang petani dengan lukisan kontur tanah bertingkat-tingkat.
Perjalanan Menuju Puncak Talang
Mereka di Bukit Bulek melalui jalan setapak sekitar jam 08.20 WIB. Lalu naik Ojeks atau sepeda motor sewa melalui tanjakan jalur beton sempit dan bergelombang sejauh 2,5 km.
Driver ojek disini sangat terampil mengendarai motor ditikungan dan tanjakan hingga sampai sekitar 15 menit di jalur pendakian.
Pendakian di mulai pukul 08.45 WIB, melalui tanjakan ditengah hutan gersang dengan akar merayap licin.
Tantangan signifikan mulai muncul saat melewati medan berawa sepanjang 200 meter. Untungnya, ada susunan kayu dan batu sebagai pijakan sehingga tidak sampai membuat sepatu mereka dilumuri lumpur.
Tak lama kemudian, mereka berhasil mencapai area luas dan terbuka disebut Cada. Zona ini, sekarang di atas garis pohon, adalah lanskap berbatu didominasi semak belukar dan terlihat para pendaki lainnya memanfaatkan area ini untuk pendirian tenda tenda-tenda mereka.
Tinggal sekitar 1,5 km lagi untuk sampai ke puncak, mereka berjalan tanpa henti menaiki tanjakan tajam sekitar 500 meter. Jika tak hati-hati bisa celaka karena jalannya sangat berbahaya di tengah hamparan batu-batu besar dan kerikil yang bisa bergerak saat diinjak.
Semua harus fokus dan terkonsentrasi saat menginjakan kaki dan pegangan tangan secara konstan agar ada keseimbangan.
“Kemiringan pendakian diperkirakan sekitar 60 derajat bahkan lebih dibeberapa tempat. Sementara nafas kami mulai tersengal-sengal sehingga energi kami terkuras dan melambat, tapi pemandangan yang indah dan menawan menjadi obat,” ucap mereka.
Dipuncak mereka beristirahat, sembari mengambil foto-foto panorama alam yang luar biasa indah. Ditengah aroma keras asap membakar tenggorokan sehingga menyebabkan batuk-batuk, sebab Gunung Talang merupakan salah satu gunung aktif di Indonesia.(rpg)
Editor : Novitri Selvia