PADEK.JAWAPOS.COM-Pagi lalu halaman SMP Harapan Mandiangin di Nagari Katiagan, Pasaman Barat, tak seperti biasanya.
Sinar matahari menerobos celah dedaunan kelapa, menyinari wajah-wajah muda yang duduk bersila di tanah lapang. Mereka menyimak, bukan pelajaran seperti biasa, melainkan cerita kehidupan dari seorang prajurit TNI.
Kapten Infanteri Jarmen dari Kodim 0305 Pasaman berdiri di depan puluhan siswa, berseragam loreng, namun suaranya penuh kehangatan.
Ia datang bukan membawa senjata, melainkan membawa semangat-semangat untuk terus bermimpi, meski di tengah keterbatasan.
“Kami ke sini bukan hanya untuk membangun jalan atau jembatan. Kami juga ingin membangun mimpi, harapan, dan semangat anak-anak bangsa,” ucapnya dengan mantap.
Kehadirannya merupakan bagian dari program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-126, yang menyasar tak hanya pembangunan fisik, tetapi juga pembinaan karakter masyarakat di pelosok negeri.
Bagi siswa-siswi SMP Harapan Mandiangin, momen ini adalah oase di tengah tantangan. Sekolah mereka berdiri di wilayah pesisir, jauh dari hiruk-pikuk kota.
Fasilitas terbatas, ekonomi keluarga pas-pasan, dan kadang, mimpi terasa terlalu tinggi untuk digapai. Namun hari itu, cerita-cerita perjuangan dari seorang prajurit TNI menjadi bahan bakar baru.
Mereka mendengarkan bagaimana seorang anak desa bisa menjadi perwira, bagaimana ketekunan mengalahkan keterbatasan, dan bagaimana semangat bisa melampaui segalanya.
Beberapa siswa memberanikan diri bertanya. Tentang bagaimana menjadi tentara. Tentang bagaimana menghadapi hidup saat semua terasa sulit. Bahkan, beberapa dengan mata berbinar berkata, “Saya ingin jadi TNI, seperti Bapak.”
Kapten Jarmen tak hanya menjawab, ia memotivasi. “Sekolah ini mungkin sederhana, tapi semangat kalian luar biasa. Jangan pernah takut bermimpi,” ujarnya, menatap siswa-siswi yang masih antusias menyimak.
Suyoto, Ketua Yayasan SMP Harapan Mandiangin, menyambut baik kegiatan ini. Ia mengaku tersentuh melihat betapa besar pengaruh kehadiran prajurit TNI terhadap semangat belajar anak-anak.
“Selama TMMD ini, banyak prajurit datang dan berbagi cerita. Anak-anak jadi lebih percaya diri, lebih berani bermimpi. Mereka melihat bahwa masa depan itu mungkin, asal mau berjuang,” ungkapnya dengan mata berkaca.
Sekolah ini, meski berdiri dengan dinding sederhana dan kelas yang terkadang panas oleh angin laut, menyimpan api semangat yang tak mudah padam.
Dan hari itu, api itu disulut kembali oleh tangan-tangan yang biasanya memegang senjata, kini memegang tanggung jawab moral: membangkitkan harapan.
Karena sesungguhnya, membangun negeri bukan semata soal membangun jalan atau jembatan. Tapi juga membangun jiwa-jiwa-jiwa muda yang kelak akan meneruskan estafet bangsa.
Dan di SMP Harapan Mandiangin, hari itu, masa depan seolah mendapat pelita baru. Di bawah langit biru pesisir Pasaman Barat, seragam loreng bukan hanya lambang ketegasan, tetapi juga simbol kasih, harapan, dan pengabdian yang tulus. (ROHIMUDDIN— Pasbar)
Editor : Novitri Selvia