PADEK.JAWAPOS.COM-Warisan orang tua kepada anaknya, tak sekadar harta benda. Tak pula selalu mudah untuk diterima. Apalagi bila itu menyangkut nama baik yang harus dijaga dan dilanjutkan.
PANGGUNG gelap itu tiba-tiba diterangi dengan cahaya biru yang berkedip dan berputar-berputar. Seorang anak kecil duduk bersimpuh di bagian tengah depan pun terlihat. Sekitar lima detik kembali gelap.
Sesaat kemudian berganti dengan cahaya putih dingin. Lalu mati. Hidup lagi. Diselingi warna biru tipis dan mati lagi. Demikian, berulang hingga beberapa kali.
Di antara itu, vocalizing dari luar panggung terdengar bertenaga tapi tenang. Mengiringi sorot warna kuning keemasan yang memperjelas sosok anak kecil bergaun putih setinggi lutut itu.
Kedua tangannya menempel di atas paha. Perlahan terangkat agak menggigil hingga telapak-telapaknya menyapu wajah, rambut, dan kembali ke bawah hingga menyentuh lantai.
Perlahan ia berdiri. Membuka lebar kedua tungkai kaki. Kuda-kuda seperti seorang pesilat pun dipersiapkan untuk gerak dan langkah berikutnya.
Pada saat yang hampir bersamaan, seorang lelaki dewasa dengan hanya memakai celana putih panjang sudah berada di tengah panggung.
Datang menghampirinya yang sedang berputar-putar. Lalu merengkuh dan mendaratkan sebuah kecupan dengan lembut di kepala. Meskipun pada akhirnya kembali ia lepas. Anak perempuan itu pun pergi.
Begitulah kira-kira komposisi awal dalam pertunjukan tari kontemporer berjudul The Next karya Rio Mefri dari Nan Jombang Dance Company, Sabtu (1/11) malam lalu. Dua penari tersebut adalah Rio dan anaknya Hawa Mefri.
Tapi karya pembuka KABA Festival 2025 di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang, Kota Padang itu bukan bercerita tentang hubungan ayah dan anak tersebut.
Anak kecil itu dimaksudkan sebagai Rio Mefri yang tengah asyik bermain. Masa di mana ia belum mengerti dan tak peduli dengan tari.
Sosok dewasa adalah ayahnya, Ery Mefri, maestro tari kontemporer dari Sumbar sekaligus pendiri dan pimpinan Nan Jombang Dance Company.
Dari rangkaian komposisi gerak tari selama kurang lebih 18 menit, The Next pun bercerita tentang pewarisan ilmu dari Ery Mefri kepada Rio. Untuk melanjutkan apa yang telah ia bangun bersama Nan Jombang Dance Company sejak tahun 1983.
Di tengah-tengah pementasan, lelaki penari itu sempat memakai baju putih berlengan buntung dengan motif guntiang cino. Memasuki bagian akhir, ia melepasnya dan pergi meninggalkannya di tengah panggung. Penari kecil kembali dan mengambilnya.
“Baju itu sebagai simbol ilmu yang diwariskan Papa (Ery Mefri, red) kepada saya,” ungkap Rio kepada Padang Ekspres seusai pementasan.
Di dunia tari kontemporer Indonesia, lelaki kelahiran 1 Maret 1983 ini dikenal sebagai salah seorang penari utama Nan Jombang Dance Company.
Ia telah menekuninya sejak duduk dibangku kelas 2 SMP. Sebagai koreografer, The Next yang lahir karena desakan lingkungan sekitar dan para penonton setianya adalah karya kedua setelah Tangka.
Kenapa desakan? Nama besar Ery Mefri sebagai maestro tari yang telah melalang buana di berbagai panggung dunia, beban bagi Rio untuk menjadi koreografer.
Ada ketakutan bila karya yang dibuat tak sebaik ayahnya. Sehingga merusak apa yang telah dibangun sejak berpuluh-puluh tahun lalu.
Tapi, pada 23 Juni lalu, Ery Mefri sudah berusia 67 tahun. Sejak beberapa tahun terakhir, kondisi kesehatannya terus menurun.
Maka, pertanyaan tentang siapa pelanjut Ery Mefri di Nan Jombang yang telah muncul sejak bertahun-tahun lalu, kembali ramai. Inilah yang makin mendesak Rio.
Dalam perenungan, ia akhirnya memekatkan hati untuk menjawab tantangan itu. “Saya akan melanjutkannya. Apakah hasilnya akan buruk atau baik,” sebut Rio.
The Next yang lahir dari keterpaksaan, kemudian muncul dengan sederhana. Tidak neko-neko untuk mengejar gaya ungkap atau tawaran artistik baru, serta tema dengan isu besar.
Rio juga tak berusaha keluar dari yang selama ini menjadi identitas Nan Jombang lewat karya-karya Ery Mefri. Seperti gerak dari akar silek. Meskipun demikian, ada beberapa ciri yang coba untuk dibelokkannya. Misal, dalam komposisi musik.
Penonton Nan Jombang akan sangat tahu, grup tersebut kerap tampil dengan musik-musik tetabuhan secara atraktif, langsung di atas panggung. Menjadi bagian yang lebur dengan komposisi tarinya.
Di The Next, Rio tak menggunakan alat musik sama sekali. Kalaupun ada unsur musiknya, hanya pada vocalizing di bagian awal dan akhir pertunjukan.
Tapi, beberapa geraknya, terkhusus dari tangan, memvisualkan tengah bermain alat musik. Gerak tangan yang ritmis itu memang tak mengeluarkan bunyi tapi masih dapat dirasakan.
Selain itu, dia juga tidak menggunakan galembong dari sisi kostum. “Maksud saya tidak untuk mencoba menghilang jejak dari Papa. Tapi saya ingin punya jati diri sendiri pula,” ucapnya.
Untuk Masa Depan
Meskipun sederhana, ada kejutan kecil yang disajikan. The Next tak sekadar penanda kalau Rio akan melanjutkan Nan Jombang Dance Company sebagai koreografer. Tapi generasi ketiga Mefri pun diperkenalkan, lewat Hawa yang kini baru berusia lima tahun.
Bila cucu Ery Mefri itu benar-benar memilih tari sebagai jalan hidupnya serta mau tekun, Rio memiliki keyakinan akan bisa lebih baik dari dirinya. Mungkin pula bisa menyamai atau lebih dari kakeknya.
Sebab, sejak ia lahir, Hawa telah berada di lingkungan tari. Dibesarkan dari panggung-panggung yang disinggahi Nan Jombang Dance Company.
Rio pun melihat Ery kecil pada sosok Hawa. Ery juga sudah dekat dengan kesenian sejak dari lahir. Sebab ayahnya, Manti Menuik, maestro tari tradisi dari Kabupaten Solok.
Ia kerap menyaksikan latihan dan penampilan Manti Menuik dan kawan-kawan. Bahkan sering tertidur di pangkuan ayahnya ketika latihan.
Hawa, pada usia empat tahun saja, sudah menyaksikan proses latihan Nan Jombang Dance Company. Duduk di samping Ery Mefri. Tak jarang pula ikut-ikutan saja menari. Dia sudah mengenal apa yang dilakukan kakeknya, neneknya, ayahnya, tante-tantenya.
Baca Juga: Dari Vespa Tua hingga Honda CB, Bengkel Aciek Padang Jadi Incaran Kolektor Motor Lawas
“Dia telah memperhatikan kami sejak bangun pagi dan masuk untuk latihan. Bahkan suka bertanya pada kakeknya tentang banyak hal. Ini berbeda dengan saya yang awalnya terpaksa untuk menari. Dan baru sadar tari sebagai jalan hidup, setelah belasan tahun kemudian,” katanya
Rio sebenarnya tak berminat untuk menari. Tapi sewaktu SMP, saat pulang sekolah selalu dijemput anggota sanggar dan dibawa ke Taman Budaya Sumbar, tempat ayahnya latihan tari. Ery kerap mengajak untuk ikut latihan. Tapi selalu ditolak.
Ketika itu Rio sudah punya pilihan. Dia ingin melanjutkan sekolah ke STM. Sebab itu, dia tak mau menari. Tak ingin belajarnya terganggu.
Tapi entah kenapa, ajakan demi ajakan yang datang, akhirnya mampu memaksanya untuk ikut latihan. Sejak saat itu hingga kini, maka jadi penari lah Rio.
“Saya baru merasakan lepas, kalau menari adalah pilihan saya, jalan hidup saya, pada tahun 2007. Pas saat momen anak saya meninggal. Ketika itu saya juga baru sadar kalau Papa itu butuh kawan untuk saling berbagi cerita di rumah,” tukasnya.
Nah, sebagai koreografer, apakah Rio bisa lepas dari beban nama besar Ery Mefri? Lalu punya identitas sendiri untuk capaian yang paling tidak sama baiknya dengan sang ayah. Seiring waktu, jawabannya sama-sama kita nantikan. (GANDA CIPTA—Padang)
Editor : Novitri Selvia