Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Sabirin, Kusir Bendi Terakhir yang Bertahan di Tengah Deru Modernisasi Kota Padang

Mengki Kurniawan • Selasa, 4 November 2025 | 20:20 WIB

Di tengah gempuran transportasi daring, Sabirin (69), kusir bendi asal Padang, tetap bertahan menghidupi keluarga dan kudanya dengan penuh kesetiaan.
Di tengah gempuran transportasi daring, Sabirin (69), kusir bendi asal Padang, tetap bertahan menghidupi keluarga dan kudanya dengan penuh kesetiaan.
PADEK.JAWAPOS.COM—Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya naik di langit Kota Padang, derap langkah kaki kuda terdengar pelan dari arah Bundaran Balai Kota Lama Pasar Raya.

Di atas bendi tua berwarna cokelat yang sudah mulai pudar catnya, duduk seorang pria berusia senja dengan sorot mata tenang — Sabirin (69), kusir bendi yang telah mengabdikan hidupnya untuk roda kayu dan tali kekang sejak 1987.

Ia tak pernah absen mangkal dari pukul tujuh pagi hingga waktu Zuhur. Di tengah panas, debu, dan jalanan kota yang kini lebih ramai oleh kendaraan bermotor dan transportasi daring, Sabirin tetap bertahan dengan profesi yang kian jarang dijumpai.

“Sekarang usaha bendi ini makin seret. Banyak orang lebih memilih ojek online. Beda sekali dengan dulu, tahun 80-an sampai 90-an, ramai sekali,” ujarnya sambil menepuk pelan leher kudanya, Selasa (4/11/2025).

Dari Bayang ke Padang: Merantau dan Menyambung Hidup

Sabirin adalah perantau asal Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan. Ia datang ke Padang pada tahun 1970-an, bermodal keberanian dan tekad untuk mencari penghidupan.

Awalnya, ia bekerja sebagai pedagang cabai dan bawang di Pasar Raya selama lima tahun. Namun, nasib kemudian membawanya ke profesi kusir bendi—pekerjaan yang lebih dekat dengan jalanan dan interaksi langsung dengan orang banyak.

Meski hanya lulusan Sekolah Teknik di Simpang Haru, Sabirin tidak pernah kekurangan semangat.

Kini, setelah hampir empat dekade menjadi kusir, ia tinggal di Kelurahan Koto Baru Nan XX, Kecamatan Lubukbegalung, bersama anak perempuannya dan dua anak laki-lakinya yang belum menikah.

Istrinya telah berpulang lebih dulu, meninggalkan kenangan panjang tentang perjuangan mereka membesarkan lima orang anak.

Kuda sebagai Sahabat Setia

Dalam hidupnya, Sabirin sudah empat kali mengganti kuda. Kuda yang kini menemaninya berusia sekitar 10 tahun, ia beli dari Kampung Kalawi, Lubuk Lintah, dengan harga sekitar Rp15 jutaan.

Baca Juga: Kebakaran di Jalan Banjir Kanal Padang Tewaskan Ibu dan Anak, Tiga Bangunan Ludes Dilalap Api

Setiap hari, ia mengeluarkan biaya perawatan tak kurang dari Rp20 ribu untuk sagu dan Rp5 ribu per kilogram untuk dedak. Sisanya, rumput ia cari sendiri di sudut-sudut kota yang kini makin sulit ditemukan.

“Untuk rumput, biasanya saya cari sendiri. Kadang jauh, tapi kalau tidak dicari, kuda bisa kurus,” tuturnya.

Jika kuda sakit, biaya pengobatan bisa membengkak. Namun, bagi Sabirin, kudanya bukan sekadar hewan peliharaan, melainkan rekan kerja sekaligus teman seperjalanan hidup.

Menolak Menyerah pada Zaman

Bagi sebagian orang, profesi kusir bendi mungkin sudah tidak relevan. Namun bagi Sabirin, inilah satu-satunya pekerjaan yang ia kuasai sepenuhnya.

Ketika ditanya mengapa tidak beralih profesi, ia hanya tersenyum kecil. “Usia saya sudah tua, tidak bisa bersaing lagi dengan anak muda. Saya juga tidak kuat naik motor,” ujarnya pelan.

Setiap perjalanan bendinya dihargai berdasarkan jarak tempuh, cukup untuk memenuhi kebutuhan harian dan membeli pakan kuda.

Meski pendapatan kian menipis, Sabirin enggan menyerah. Ia memilih bertahan dengan kebanggaan pada profesi yang kini mulai dilupakan.

Tanggung Jawab di Tengah Kota

Sabirin bukan hanya kusir, tapi juga sosok yang peduli pada lingkungan. Ia melengkapi bendinya dengan penampung kotoran kuda, agar tidak mengotori jalanan kota.

Jika ada kegiatan di sekitar Bundaran Balai Kota Lama, ia akan segera memindahkan bendi ke lokasi lain agar tidak mengganggu.

Langkah kecil itu mencerminkan tanggung jawab dan rasa hormatnya terhadap ruang publik — sesuatu yang kian jarang di tengah hiruk-pikuk modernisasi.

Warisan dari Masa Lalu

Kini, di usianya yang ke-69, Sabirin menyadari bahwa bendi bukan lagi alat transportasi utama. Namun baginya, bendi tetap memiliki nilai budaya dan sejarah.

Ia berharap, meski perlahan menghilang, tradisi bendi tidak benar-benar lenyap dari wajah Kota Padang.

“Bendi ini sudah seperti hidup saya. Selama saya masih kuat, saya akan tetap menariknya,” katanya mantap.

Jejak Terakhir di Jalur Tradisi

Kisah Sabirin adalah potret nyata perjuangan manusia di persimpangan zaman. Di saat teknologi menelan profesi tradisional satu per satu, masih ada sosok-sosok seperti dia yang memilih bertahan — bukan karena terpaksa, tetapi karena cinta terhadap pekerjaannya.

Di balik derap langkah kudanya yang perlahan menua, tersimpan nilai tentang kesetiaan, kerja keras, dan kehormatan dalam menjalani hidup sederhana di tengah perubahan dunia.(Mengki Kurniawan/CR3)

Editor : Hendra Efison
#bendi Pasar Raya Padang #Sabirin Pesisir Selatan #transportasi tradisional #kusir bendi Padang