Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Tak Lagi Jadi Fotografer, Pak Nurman Temukan Arti Hidup dari Sepeda Mainan

Fadli Zikri • Selasa, 4 November 2025 | 20:55 WIB

 

Di belakang sepeda Pak Nurman, bergoyang lembut aneka mainan berwarna cerah—mobil-mobilan, balon, dan kipas kecil—yang tergantung rapi di rak kayu.
Di belakang sepeda Pak Nurman, bergoyang lembut aneka mainan berwarna cerah—mobil-mobilan, balon, dan kipas kecil—yang tergantung rapi di rak kayu.
PADEK.JAWAPOS.COM—Di tengah hiruk-pikuk Kota Padang yang kian modern, seorang pria lanjut usia tampak mengayuh sepeda tuanya perlahan di sekitar Lapangan Imam Bonjol.

Di belakang sepedanya, bergoyang lembut aneka mainan berwarna cerah—mobil-mobilan, balon, dan kipas kecil—yang tergantung rapi di rak kayu.

Dialah Pak Nurman (76), pedagang mainan keliling yang masih setia meniti roda kehidupannya di usia senja.

Sudah sebelas tahun ia menjalani profesi itu. Tak pernah terbayang sebelumnya, lelaki yang dulu bekerja sebagai fotografer ini akan beralih menjadi penjual mainan.

Baca Juga: Dari Rasa Malu Jadi Bangga: Kisah Irwan Pemuda Padang Penjual Telur Gulung

Namun, sejak kemunculan smartphone pada 2013, pekerjaannya sebagai fotografer perlahan kehilangan peminat. Orang-orang mulai bisa memotret sendiri dengan telepon genggamnya.

“Dulu saya hidup dari foto-foto acara. Tapi waktu HP mulai canggih, jarang yang pakai jasa saya lagi,” kenang Pak Nurman sambil menata gantungan mainan di sepedanya, Selasa (4/11/2025).

Setiap pagi, ia meninggalkan rumahnya menuju Lapangan Imam Bonjol. Dengan langkah pasti, ia memulai rutinitas sejak pukul 08.00 hingga sekitar pukul 13.00 siang.

Meski lelah sering datang, ia jarang mengeluh. “Yang penting tidak diam saja di rumah,” ucapnya lirih, menahan napas di antara kayuhan.

Baca Juga: Dari Artefak ke Akses Digital: Wajah Baru Museum Adityawarman Padang

Baginya, berjualan bukan hanya soal mencari uang, tetapi juga cara mengisi kesepian.

“Kalau di rumah saja rasanya sepi. Anak-anak sudah besar, punya kesibukan masing-masing. Jadi saya jualan saja, itupun tidak jauh dari rumah,” tuturnya.

Sebelum pandemi, roda sepedanya lebih ringan digerakkan oleh semangat dan penghasilan yang cukup. Ia bisa membawa pulang hingga Rp100 ribu per hari—terutama saat musim libur sekolah atau setelah ujian.

Kini, keadaan berbeda. “Sekarang anak-anak lebih suka main HP, jarang beli mainan,” ujarnya dengan senyum kecil yang menyembunyikan getir.

Baca Juga: Sabirin, Kusir Bendi Terakhir yang Bertahan di Tengah Deru Modernisasi Kota Padang

Sejak pandemi COVID-19, penghasilannya menurun drastis. Kadang ia hanya memperoleh Rp30 ribu sehari, bahkan pernah pulang tanpa satu pun barang terjual.

Meski begitu, ia tetap bersyukur. “Kadang tidak ada yang beli sama sekali, tapi alhamdulillah anak-anak juga masih bantu tiap bulan,” katanya.

Bagi Pak Nurman, setiap kayuhan sepedanya adalah simbol keteguhan hati. Bukan sekadar perjalanan mencari nafkah, melainkan juga menjaga semangat hidup agar tak padam.

“Selama masih kuat, saya ingin tetap berjualan. Yang penting sehat,” ujarnya menutup pembicaraan.

Di tengah zaman digital yang serba cepat, sosok Pak Nurman menjadi pengingat bahwa kerja keras dan kemandirian tidak mengenal usia. Dari balik senyum dan sepeda tuanya, ia menunjukkan makna sejati dari ketulusan dan keberdayaan.(Fadli Zikri/cr6)

Editor : Hendra Efison
#pedagang mainan keliling #lapangan imam bonjol padang #kisah inspiratif