PADEK.JAWAPOS.COM-Bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan Senin (10/11) lalu, Rahmah El Yunusiyyah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Salah satu tonggak sejarah kepahlawannya adalah Perguruan Diniyyah Puteri Padangpanjang. Sejak berdiri pada November 1923 masih eksis hingga kini.
ARIFA Syarif bersyukur bisa menikmati pendidikan di Perguruan Diniyyah Puteri Padangpanjang. Sebab berada diasuh tenaga pendidik dengan bahasa “cinta”.
Ia kini menuntu ilmu di Madrasah Aliyah Kulliyyatul Mu’allimaat el-Islamiyyah, program pendidikan yang kedua berdiri di perguruan tersebut pada tahun 1937.
Terlahir dari ibu yang merupakan dosen pada STIT Diniyyah Puteri, Arifa telah mengecap pendidikan di perguruan tersebut sejak tingkat kanak-kanak (TK).
Kenyamanan lingkunan pendidikan di Diniyyah Puteri, merupakan salah satu alasan Arifa terus melanjutkan hingga saat ini di MAS KMI.
“Kami merasa sangat disayang sebagai santri. Semua bakat dan minat kami digali, disalurkan dan didorong,” katanya kepada Padang Ekspres, kemarin. Meski baru duduk di Kelas X, Arifa sudah mengerjakan lebih dari tiga projek.
Dua di antaranya yang telah selesai, yakni projek robotik dan alat deteksi gempa,” beber Arifa yang merupakan anak asli kota berjuluk Serambi Mekkah itu.
Arifa dengan minatnya tersebut melalui program My be Dream, dirinya bertekat melanjutkan studi ke Institut Teknologi Surabaya (ITS) untuk mengambil jurusan Teknik Informatika.
Hampir serupa diungkapkan Najma Aurelia yang juga duduk di Kelas X MAS KMI Diniyyah Puteri. Gadis belia asal Bali keturunan Batusangkar dan Payakumbuh itu, memilih masuk ke Diniyyah Puteri berkat rekomendasi dari keluarga saudara ibunya.
Najma menyebut, Diniyyah Puteri merupakan sekolah berbasis pondok pesantren yang menerapkan pendidikan akademik dan nonakademik secara seimbang, serta mengedepankan porsi seimbang sebagai perempuan dalam hak dan kewajiban.
Mendengar penjelasan dari keluarga ibunya, Najma memutuskan setelah selesai mondok di Bukittinggi melanjutkan ke Diniyyah Puteri. Dan selama setahun pertama ini, dia sudah begitu banyak mendapatkan pembelajaran.
Selain imbas program ekskul seperti Kampung Inggris, kolaborasi musik dan robotik dari kegiatan kakak kelas, juga mendapat pembentukan karakter dalam kodrat sebagai perempuan.
Terbaru, kata Najma, dirinya sudah mendapat bimbingan penelitian membuat obat luka herbal yang disertai dengan makalah. Selain itu juga melakukan pengembangan sejumlah produk yang telah dibuat kakak kelas.
“Dengan cikal bakal minat dan bakat, Najma bercita-cita melanjutkan sekolah kedokteran ke Kairo atau Inggris. Namun tidak hanya sekadar dokter, tapi golnya masuk ke lembaga WHO agar menjadi dokter yang mampu memberikan peran lebih luas bagi masyarakat dalam pelayanan kesehatan,” kata Najma.
Berbeda halnya dengan Sabrina Cessa Aprilia asal Bandung yang saat ini duduk di Kelas 7 DMP Diniyyah Puteri. Anak sulung dari 9 bersaudara ini, awalnya menolak karena tidak ingin jauh dari kenyamanan tinggal bersama orangtua.
Namun berkat cerita dari sang kakak sebagai alumni Diniyyah Puteri Padangpanjang yang saat ini berkuliah di Undip, Cessa akhirnya tertarik karena mendengar pola pendidikan yang menggunakan bahasa cinta.
Kebahagiaannya bersekolah di Diniyyah selain karena lingkungan pendidikan yang nyaman, Cessa juga menyebut adanya program studi tour hingga ke luar negeri.
Program ini disebutkan, sangat menyenangkan karena dirinya juga hobi dengan traveling dan bahasa Inggris. Saat ini dirinya mengaku tengah mengerjakan buku saku Arab-Inggris, yang ditargetkan selesai Desember mendatang.
“Dengan pembelajaran yang Cessa dapatkan di Diniyyah ini, nantinya bercita-cita ingin menjadi guru TK. Memilih itu karena ingin berkontribusi dalam membentuk karakter anak bangsa, yang tumbuh menjadi pemimpin, dan kuat dalam akidah Islam,” ucap Cessa.
Kepercayaan Orang Tua
Selain beberapa santri, dua wali santri yang berhasil dihubungi juga menyebutkan Perguruan Diniyyah Puteri Padangpanjang juga sangat baik dan jauh labih maju dibandingkan dengan pesantren lainnya.
Di antaranya seperti disampaikan Ola Piranti, satu anak dan dua ponakannya di antarkan ke Diniyyah Puteri Padangpanjang. Ola menyebut, anaknya masuk ke Diniyyah Puteri bermula dari keinginan sang anak untuk masuk pondok pesantren.
Namun saat itu dirinya belum tahu tentang Diniyyah Puteri. Beberapa pondok pesantren yang disinggahi, tidak satu pun yang diminati anaknya.
“Karena anak yang mau, kami ajak keliling mengunjungi sejumlah pondok pensantren. Dari sekian banyak yang disinggahi, terakhir saat mampin di Diniyyah Puteri, anak saya langsung mau. Hasilnya setahun pertama di DMP (SMP) terjadi perubahan besar pada karakter Siti Rahmah Zata Dini,” ungkap Ola.
Disebutkannya, Siti yang semula merupakan anak yang tergolong pendiam, berubah menjadi anak yang aktif dan kreatif. Bahkan anaknya yang sudah berstatus alumni MAS KMI Diniyyah Puteri sejak 2024 lalu itu, berhasil melanjutkan kuliah di Australia.
“Hebatnya saat di bangku kuliahnya, Siti bercerita bahwa pola pembelajaran itu sudah dijalaninya sejak di Diniyyah Puteri. Dalam pandangan saya setelah anak tamat tujuh setengah tahun lalu, Diniyyah Puteri Padangpanjang telah memiliki kurikulum yang matang,” tutur Ola.
Demikian juga halnya disampaikan Ade Khayatun Nufus. Ibu asal Tanggerang ini juga mempercayakan dua anaknya bersekolah di Diniyyah Puteri Padangpanjang. Satu di antaranya telah tamat pada 2024 lalu dan satu lainnya saat ini masih duduk di Kelas IX DMP.
Bermula dari pertemuannya dengan pimpinan Perguruan Diniyyah Puteri (Fauziah Fauzan El Muhammady) di Jakarta pada 2015 silam. Ade mengaku dari penjelasan yang diterimanya, 10 tahun kemudian memutuskan untuk mengantarkan anaknya ke Diniyyah Putri.
Saat itu diketahuinya Diniyyah Puteri memberikan pendidikan yang sangat komprehensif, membentuk karakter perempuan menjadi calon pemimpin yang berakhlak kuat.
Melihat perkembangan karakter anak sulungnya yang sangat baik, Ade kemudian mengikutkan anak keduanya masuk ke Diniyyah Puteri.
“Sedikit banyak juga mengetahui tentang Bunda Rahmah el Yunisiah, saya melihat spirit itu telah menginspirasi dan bahkan merasuki anak saya. Dia mampu konsisten menjaga kodrat perempuannya dalam ikatan akhlak yang baik dengan prinsip yang kuat, tanpa menghalanginya dalam mengapai impian dunia,” kata Ade melalui selulernya.
Dikatakan Ade, sosok Rahmah el Yunusiah telah membuat simpul program kurikulum kekinian dalam menciptakan pendidikan sesuai zaman. “Kurikulmnya berbasis kebutuhan anak, dan sangat relevan dengan kebutuhan generasi,” pungkas Ade. (WARDI TANJUNG
—Padangpanjang)