PADEK.JAWAPOS.COM-CUACA cukup dingin pagi hari itu. Suasana belajar pun tampak tenang di kelas 4B SDN 10 Padangpanjang Timur, Kota Padangpanjang.
Salah seorang guru, terlihat berdiri di sisi salah satu murid sembari menempelkan jari pada suatu buku di atas meja. Yosi Purwasari, Namanya. Salah seorang guru inklusi cukup senior, pindahan dari SDN 7 Padangpanjang Barat.
Sebagai seorang guru, dia mulai menangani murid dengan kebutuhan belajar yang beragam sejak tahun 2013. Namun benar-benar intensif, ketika Padangpanjang menjadi kota Inklusi.
Sejak saat itu, dia terus belajar menyesuaikan pendekatan dan metode mengajar agar dapat memenuhi kebutuhan setiap anak.
Dalam menerapkan pembelajaran, Yosi mengatakan harus menyesuaikan materi dengan karakteristik masing-masing anak berkebutuhan khusus (ABK).
Salah satunya dengan cara menyederhanakan bahasa, menggunakan gambar atau contoh konkret. Selain itu juga memberikan variasi aktivitas seperti membaca, menonton video, praktik langsung, atau diskusi singkat.
Terhadap beberapa murid, diberikan lembar kerja yang dimodifikasi, seperti jumlah soal lebih sedikit atau instruksi yang lebih ringkas.
“Saya juga memberi kesempatan murid menggunakan media bantuan seperti kartu kata, alat peraga, atau perangkat teknologi sederhana,” kata Yosi.
Salah satu pengalamannya, Yosi menyebut, suatu kali seorang murid dengan kesulitan pemusatan perhatian, tidak dapat mengikuti pelajaran saat kelas berlangsung.
Dirinya mengubah strategi secara spontan dengan mengajak seluruh kelas melakukan aktivitas bergerak ringan (brain game) selama dua menit.
“Hasilnya, murid tersebut dapat kembali fokus. Bahkan teman-teman lain yang berada di kelas tersebut, juga ikut menjadi lebih fokus dalam belajar. Saya menyadari bahwa improvisasi kecil terkadang sangat membantu suasana belajar,” tuturnya.
Guna mengukur kemajuan dari murid Inklusi, Yosi mengatakan tidak hanya menilai dari hasil akademik saja, namun juga dari proses. Misalnya, kemampuan mengikuti instruksi sederhana, peningkatan fokus, keberanian berpendapat, atau kemandirian dalam mengerjakan tugas.
“Saya menggunakan catatan harian, observasi perilaku, serta komunikasi dengan orang tua dan guru kelas untuk melihat perkembangan secara menyeluruh,” terangnya.
Walau telah banyak improvisasi dan upaya, Yosi mengaku pernah merasa kewalahan. Terutama ketika beberapa murid membutuhkan perhatian khusus secara bersamaan dengan gradasi dan kebutuhan yang berbeda-beda.
Mengatasi kondisi tersebut, Yosi membiasakan untuk mencoba menenangkan diri, mengatur ulang prioritas, serta meminta bantuan rekan guru atau wali kelas lain bila memungkinkan. Selain itu juga melakukan refleksi, agar dapat memperbaiki strategi di hari berikutnya.
“Sebagian besar rekan guru memberikan dukungan, walaupun ada juga yang masih merasa ragu atau belum terbiasa dengan pendekatan inklusif. Saya berusaha menjalin komunikasi yang baik, agar kita bisa saling memahami dan bekerja sama demi kebaikan murid,” ungkapnya.
Dia menyebut, untuk mendorong kemajuan anak, dirinya inten berkomunikasi dan berkolaborasi dengan orangtua murid. Baik secara langsung maupun melalui pesan.
“Saya menyampaikan perkembangan murid, tantangan yang dihadapi, dan strategi yang digunakan di kelas. Saya juga meminta perkembangan anak di rumah dari orang tua, karena mereka lebih memahami karakter anak. Sehingga kolaborasi guru dan orang tua dalam menangani anak, bisa sejalan,” ulasnya.
Namun demikian, Yosi mengaku pernah mengalami miskomunikasi dengan orangtua murid. Ketika itu ada orang tua yang berharap anaknya yang mengalami gangguan tuna rungu, dapat mengikuti seluruh materi seperti teman-temannya tanpa penyesuaian.
Dia kemudian menjelaskan dengan hati-hati bahwa kebutuhan setiap anak berbeda dan harus melihat perkembangan dari kemampuan masing-masing. Setelah berdiskusi secara terbuka dan memberikan contoh konkret, orang tua akhirnya memahami dan dapat bekerja sama dengan baik.
Bergandeng Tangan
Di Kabupaten Dharmasraya, Sekolah Dasar (SD) Islam Terpadu (IT) Yayasan Andalas Cendekia sudah memulai pembelajaran inklusi sejak awal berdiri tahun 2011. Salah satu gurunya adalah Yunia Putri.
Dia menjelaskan, proses belajar terhadap ABK disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak. Siswa diberikan treatment sesuai dengan kemampuan masing-masing. Jika kemampuan siswa baru bisa mengenal huruf berarti proses belajarnya mengacu kepada belajar huruf.
Di sisi lain, diadakan treatment rutin tiap hari satu jam per siswa. Itu merupakan asesmen awal. Dalam upaya mengidentifikasi kebutuhan siswa dan program sosialisasi kepada wali kelas tentang bagaimana menghadapi ABK.
Dia mengatakan, ada juga modifikasi materi atau metode agar bisa diikuti semua murid. Hal tersebut berdasarkan kepada kemampuan siswa.
Bagi siswa atau anak autis, di mana secara kemampuan bisa mengikuti siswa lain, berarti bisa ikut pembelajaran di kelas, tapi pakai guru pendamping.
Untuk siswa yang secara kemampuan memang lambat atau IQ di bawah rata-rata, bisa jadi soal yang diberikan tidak sama dengan siswa yang lain.
Misalkan siswa lain di berikan soal sebanyak 10 buah, anak tersebut di berikan soal kurang dari 10. Atau siswa lain dalam menjawab soal dengan cara menjelaskan, maka anak yang bersangkutan hanya dengan menjawab dengan menyebutkan.
“Artinya dalam menjawab soal tidak harus sama dengan anak-anak yang lain,” ulasnya.
Dikatakannya, salah satu cara menilai kemajuan ABK, lebih kepada perkembangan individual. Bagaimana perkembangan kemampuan bina diri, sosial dan lain sebagainya.
Itu dilaporkan kepada orang tua atau wali murid. Ada rapor khusus dari tim inklusi berkenaan dengan program pembelajaran tentang individual anak.
“Yang perlu digaris bawahi seluruh guru-guru yang ada, baik tim guru inklusi maupun tidak, semuanya bergandengan tangan, saling mendukung dalam memberikan yang terbaik kepada anak didik,” tegasnya.
Guru inklusi di sekolah sama, Epi Setyawati menjelaskan, komunikasi dengan wali murid selalu dilakuka untuk membicarakan perkembangan anak. Bisa via WA dan lainnya.
Artinya komunikasi dan koordinasi harus selalu jalan sehingga jika ada hal-hal yang berhubungan dengan anak, baik wali murid maupun pihak sekolah saling memberitahu. Sehingga terjalin hubungan yang sinergis, tidak hanya pada jam sekolah tapi juga di luar jam sekolah.
Baca Juga: Fadly Amran Pantau Banjir Padang Dini Hari, Langsung Instruksikan Bantu Cepat Warga Terdampak
Selama menjadi guru inklusi, momen saat di mana anak-anak inklusi bisa tampil sebagaimana mana anak-anak pada umumnya, menjadi sesuatu yang bernilai baginya. “Bersama ABK intinya harus ikhlas membersamai mereka,” tukas dia. (wrd/ita)
Editor : Novitri Selvia