Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Sisa Luka dan Duka dari Ujung Galodo di Palembayan: Tak Berhenti Menelepon, Datangi Posko demi Posko

Putra Susanto • Jumat, 5 Desember 2025 | 12:22 WIB

PILU: Adeni Ardiles, korban selamat pascagalodo di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, menjalani perawatan di RSUD Lubukbasung, beberapa hari lalu.
PILU: Adeni Ardiles, korban selamat pascagalodo di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, menjalani perawatan di RSUD Lubukbasung, beberapa hari lalu.

PADEK.JAWAPOS.COM-Bencana tak pernah memberi tanda. Tiada yang tahu kapan ia datang, tiada yang tahu apa yang akan direnggutnya. Dan Adeni Ardiles, satu-satunya yang selamat dari keluarganya yang tersapu galodo.

GALODO yang menghantam Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Kamis (30/11) lalu, menyeret banyak kisah. Bencana ini bukan hanya meruntuhkan bangunan.

Ia meruntuhkan rutinitas, memutus garis hidup keluarga, dan menyisakan orang-orang yang kini harus melanjutkan langkah tanpa mereka yang biasanya berjalan di samping.

Selasa (2/12) malam, Adeni Ardiles, 34, memandangi langit-langit ruang perawatan RSUD Lubukbasung dengan tatapan kosong.

Seakan tak ada lagi yang bisa ia fokuskan selain kepedihan yang membebani dadanya. Luka jahitan yang memanjang di tubuhnya hanyalah bukti paling terlihat dari tragedi yang merenggut hampir seluruh hidupnya.

Adeni, satu dari puluhan korban yang selamat yang saat ini tengah terbaring dan dirawat di RSUD Lubukbasung. Ia ditemukan sekitar 300 meter dari rumahnya di Jorong Subarangaia, Nagari Kotoalam, Kecamatan Palembayan.

Tubuhnya terjepit balok kayu besar, terseret arus galodo yang menghantam kampung mereka tanpa ampun. Namun semua memar dan sobekan kulit itu tak sebanding dengan kehilangan yang harus ia tanggung.

Istrinya. Ketiga anaknya yang masih berusia 7 tahun, 3 tahun, dan yang bungsu baru 9 bulan. Mertuanya. Semuanya tersapu tanpa jejak. Hingga kini, sang anak yang berusia tiga tahun masih belum ditemukan.

“Yang tinggal hanya saya sendiri,” ucapnya lirih, sebaris kalimat yang runtuh sebelum benar-benar selesai.

Suara itu seperti datang dari tempat yang jauh, dari seseorang yang sudah kehabisan air mata. Satu-satunya keluarga yang selamat hanyalah adik iparnya, 23 tahun, yang luput dari maut karena saat kejadian sedang berada di ladang, menggembala kerbau.

Adeni masih ingat dengan jelas detik-detik bencana itu. Sore sekitar pukul 17.15, ia berada di kamar ketika mendengar suara gemuruh. Gemuruh panjang yang menggetarkan lantai rumah.

Mirip deru truk, katanya. Namun ketika ia menoleh ke jendela, ia melihat dinding air hitam, tinggi, cepat, berlari ke arahnya seperti gelombang tsunami. “Airnya hitam sekali, dekat cuma sekitar 50 meter,” katanya.

Insting seorang ayah membuatnya bergegas memeluk anak-anak dan menggendong si bungsu. Namun belum sempat membawa mereka keluar, gelombang pertama sudah menyapu rumah itu. Dinding runtuh.

Atap tercerabut. Dan dalam satu kedipan, keluarga kecil itu terseret dalam gulungan air bercampur batu dan kayu besar. Di tengah hiruk-pikuk maut itu, anak-anaknya terlepas dari dekapannya.

“Saya berusaha menarik mereka, tapi airnya kuat sekali, saya tidak sanggup,” ucapnya sangat pelan.

Adeni hanyut ratusan meter sebelum tersangkut tumpukan kayu besar. Malam turun pelan-pelan, sementara ia terjebak di antara lumpur dan batang pohon. Kakinya tak bisa digerakkan.

Seluruh tubuhnya gemetar, bukan hanya karena dingin, tapi karena ketakutan akan tidak ada lagi suara yang menunggunya pulang.
Saat magrib, warga menemukannya tergeletak tanpa daya.

Mereka mengevakuasinya dan membawanya ke RSUD Lubukbasung. Di ranjang perawatan itu, Adeni hanya punya satu keinginan, pulang ke Rambatan, Tanahdatar. Pulang kepada orang tuanya, kepada satu-satunya sisa rumah yang masih mungkin ia miliki.

“Saya mohon, kalau nanti boleh pulang, tolong antarkan saya ke Rambatan, Tanahdatar,” bisiknya.

Adeni adalah satu dari 36 korban dari Kecamatan Palembayan yang masih dirawat intensif. Banyak di antara mereka tak punya lagi pakaian, rumah, atau keluarga untuk dituju. Mereka kini hidup dari bantuan selimut, pakaian ganti, perlengkapan mandi, hingga jilbab untuk pasien perempuan.

Di tempat lain, rasa kehilangan juga merayap, menyelimuti hari-hari Id Mulyadi, 39, warga Garagahan. Sudah sepekan ia tak tahu kabar orang tuanya, adik, dan dua kemenakannya di Jorong Kayupasak, Nagari Salarehaia, salah satu titik paling parah dilanda bencana di Palembayan.

Saat ditemui Selasa (2/12), Id tampak seperti seseorang yang sudah terlalu lelah untuk menangis, namun terlalu cemas untuk berhenti mencari.

Sejak hari pertama bencana, teleponnya tak berhenti mencoba menghubungi keluarga. Ia mendatangi posko demi posko, bertanya ke siapa pun yang mungkin tahu.

Id Mulyadi memang tak terluka secara fisik, tetapi sejak Kamis (30/11) lalu, hatinya seperti direnggut deras arus yang sama. Sudah enam hari ia tidak mendengar kabar keluarganya. Jejak mereka hilang bersama rumah-rumah yang hanyut.

“Setiap pagi, saya berharap ada kabar. Apa saja, yang penting kabar,” ujarnya dengan mata yang tak lagi menyimpan tidur.

Kelima anggota keluarganya, ayahnya Karim, 65, ibunya Maryunis, 60, adiknya Novalinda, 37, serta dua kemenakan, Khairunnisa, 10, dan Aska, 7, tinggal di Sawahlaweh, wilayah yang kini porak-poranda. Id hanya bisa berharap masih ada tanda kehidupan dari sana.

Di tengah upayanya, ia bertemu Bupati Agam yang berjanji akan menindaklanjuti setiap laporan orang hilang. Ketika bertemu Bupati Agam, ia hanya meminta satu hal, bantu temukan keluarganya.

Tim pencarian terus bergerak, tetapi bagi Id, tak ada hari yang lebih panjang daripada hari-hari seseorang yang menunggu kabar keluarga di tengah bencana. Id Mulyadi masih menunggu kabar apa pun. Kabar sekecil apa pun, tentang keluarganya.

Dengan doa yang tak pernah putus, ia berharap suatu hari nanti seseorang akan menyebutkan nama orang-orang tersayangnya dan mengatakan bahwa mereka ditemukan, masih bernyawa. (PUTRA SUSANTO—Agam)

Editor : Novitri Selvia
#Adeni Ardiles #Nagari Kotoalam #Palembayan Agam #Galodo Agam #rsud lubukbasung