Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kisah Menyentuh Hendrizal, Relawan Dompet Dhuafa di Palembayan: Saat Doa Dijawab Lima Kotak Donat di Surau Kecil

Novitri Selvia • Selasa, 30 Desember 2025 | 12:31 WIB

MENGUATKAN: Hendrizal (tengah) menghibur dan menyemangati anak-anak dan penyitas bencana galodo di Palembayan.
MENGUATKAN: Hendrizal (tengah) menghibur dan menyemangati anak-anak dan penyitas bencana galodo di Palembayan.

PADEK.JAWAPOS.COM-Galodo (banjir bandang) yang melanda Sumatera Barat, Aceh, dan Sumatera Utara pada akhir November lalu menyisakan duka mendalam. Lebih dari 200 orang meninggal dunia, puluhan lainnya dilaporkan hilang.

Bencana tersebut tidak hanya merobohkan rumah, jembatan, dan fasilitas umum, tetapi juga mengguncang rasa aman serta menguji ketahanan batin masyarakat terdampak.

Di tengah lumpur, puing bangunan, dan air mata para penyintas, solidaritas kemanusiaan justru tumbuh dalam bentuk paling sederhana. Salah satu kisah datang dari Hendrizal, 32, relawan Dompet Dhuafa yang bertugas di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam.

Hendrizal bergabung bersama 38 relawan lainnya pada hari ke-12 pascabencana. Sejak 10 hingga 21 Desember, ia terlibat langsung dalam berbagai kegiatan kemanusiaan di wilayah yang terdampak parah oleh galodo.

Sejak 2018, Hendrizal memilih jalan hidup sebagai relawan. Tahun ini, ia bergabung dengan Dompet Dhuafa. Ia datang dengan niat membantu, namun pulang membawa pelajaran batin yang mendalam—tentang keyakinan, ketulusan, dan cara Tuhan menjawab doa melalui peristiwa kecil.

Bersama tim Dompet Dhuafa, Hendri—sapaan akrabnya—bahu-membahu membantu apa saja yang bisa dilakukan saat itu. Pemandangan pertama yang tersaji membuat dada sesak. Puing bangunan berserakan di jalanan.

Kondisi di lapangan sangat memprihatinkan. Berdasarkan data yang diperoleh saat itu, jumlah korban jiwa dan korban hilang mencapai 106 orang. Sebanyak 70 rumah hanyut, 23 rumah rusak berat, satu rumah rusak sedang, dan tujuh rumah rusak ringan.

Galodo yang datang tidak hanya menghancurkan permukiman warga, tetapi juga memutus akses tiga nagari di Palembayan, yakni Nagari Salarehaia, Nagari Salarehaia Timur, dan Nagari Tigo Koto Silungkang.

Ada dua posko yang didirikan saat itu. Posko pertama berada tak jauh dari jalan utama atau sekitar tujuh kilometer dari Nagari Salarehaia. Sementara itu, Posko Dompet Dhuafa berada di Nagari Salarehaia Utara.

“Untuk jalan sudah bisa dilalui saat itu, tetapi masih ada beberapa jorong dan kampung yang belum bisa dilewati mobil, seperti Kampung Kunyit. Kalau ke Nagari Tigo Koto Silungkang, material longsor masih ada di bahu jalan. Kadang kalau hujan, material longsor turun lagi ke jalan,” jelas pria yang juga pernah menjadi Cik Ajo Piaman itu.

Akses jalan perlahan mulai terbuka. Warga bersama aparat bergotong royong membersihkan jalur agar relawan bisa masuk. Dari kerja bersama itulah harapan pertama lahir—harapan yang tidak berisik, tetapi nyata.

Menyusuri Medan dan Mendata Kerusakan

Suatu pagi, Hendrizal bersama Fauzan, relawan asal Jambi, menyusuri wilayah terdampak untuk mendata sekolah dan sarana ibadah.

Hujan turun tanpa jeda, jalan rusak, dan kendaraan mereka sempat terperosok ke saluran air. Di Kampung Kunyit, Nagari Salarehaia Timur, sebuah jembatan darurat kembali berdiri—untuk kelima kalinya.

“Jembatan itu dibangun secara swadaya oleh warga dan pemerintah setempat. Saat kejadian, jembatan itu putus, kemudian dibangun kembali oleh masyarakat, relawan, dan polisi. Namun hancur lagi karena diterjang galodo dan hujan yang tidak berhenti, lalu hanyut. Nah, ini yang kelima kalinya dibangun. Alhamdulillah bertahan dan sudah bisa dilalui,” terang pria humoris tersebut.

Lumpur tebal masih menyelimuti rumah dan fasilitas umum. SMA Plus Muhammadiyah hilang tanpa sisa. Sekolah TK dan PAUD terendam lumpur setinggi pinggang orang dewasa, dengan kayu-kayu besar masih terjebak di dalamnya.

Selepas membantu dapur umum, mereka kembali menyeberang. Hujan semakin rapat. Selepas pukul 13.00, perjalanan dilanjutkan menuju Nagari Tigo Koto Silungkang. Sekitar 25 kilometer ditempuh di jalan bekas longsor.

Tanah licin, batu berserakan, dan beberapa kali nyaris tergelincir. Helm kuning di kepala, sepatu bot menahan lumpur, mereka berboncengan di atas sepeda motor CB 150 merah.

Jarum jam menunjukkan pukul 16.30. Rasa lapar datang terlambat, tetapi tak terhindarkan. Hendri dan Fauzan saling tersenyum getir. Relawan kerap disebut pasukan yang tak takut mati, tetapi takut lapar.

Hendri berkata pelan kepada Fauzan, “Bang, nanti makan di warung saja. Apa pun jadilah—sate, bakso, mi ayam. Aku lapar sekali.”

Dalam benaknya, jarak ke posko sekitar 35 kilometer. Ke warung terdekat mungkin 15 atau 20 kilometer. Hujan masih turun. Perut mulai bernegosiasi dengan kesabaran. Namun langkah tetap dilanjutkan.

Di tengah perjalanan, Fauzan tiba-tiba berhenti dan berbalik beberapa meter. Di balik rumah warga yang rusak akibat longsor, berdiri sebuah surau kecil di tepi sawah: Surau Gantiang.

Mereka turun dan mulai mendata. Di dalamnya masih terdapat sisa material longsor. Tempat wudhuk rusak. Sajadah dan karpet lembap. Pembatas saf patah. Al Quran basah oleh air.

Hendri mencatat satu per satu, sementara hatinya berbisik lirih, “Ya Allah, aku lapar sekali. Jika tak sempat makan yang berat, semoga ada kue-kue saja sebagai pengganjal perut.”

Sepasang lansia berusia sekitar 60 hingga 70 tahun menyambut mereka. Mata sendu dan keriput wajah keduanya tak mampu menyembunyikan rasa lelah yang dihadapi.

Namun pembawaan mereka tetap tenang, seolah telah berdamai dengan kehilangan. Mereka berbincang sederhana tentang jumlah jamaah, pengurus surau, dan kebutuhan warga.

Jam menunjukkan pukul 16.45. Hendri menunda makan, menunda keluh, dan tanpa suara melibatkan Allah SWT dalam percakapan batinnya. Tak ada gurat marah atau penyesalan di wajah keduanya. Bahkan senyum masih tersisa, seakan ikhlas dengan ujian yang Tuhan berikan.

Di tengah penat yang menumpuk di pundak, justru semangat masyarakatlah yang membuat langkah terasa ringan. Senyum mereka hadir ketika tubuh mulai menggigil oleh dingin dan lelah. Sapaan hangat mengalir saat tenaga hampir habis.

Bagi Hendri, mereka bukan sekadar korban atau penyintas, melainkan sumber daya hidup yang menyalakan kembali nyala para relawan.

Keramahan masyarakat Palembayan yang sederhana, tulus, dan penuh adab membekas kuat—seolah di tengah duka, mereka mengajarkan cara bertahan dengan hati yang lapang.

“Mereka sangat kuat. Meski sedang tertimpa musibah, mereka masih bisa tersenyum. Itu yang membuat kami para relawan salut dan semangat kembali,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Tak sampai lima menit setelah doa tentang rasa lapar itu terucap dalam diam, sebuah mobil Avanza berhenti. Di kaca depannya terpasang spanduk bertuliskan “Menghantarkan Bantuan” dari Kota Payakumbuh.

Mereka bertanya tentang posko dan kondisi jalan menuju Palupuah. Setelah berbincang singkat, salah satu penumpang turun dan menyerahkan satu kotak kepada masing-masing lansia. Kepada Hendri dan Fauzan, mereka memberikan lima kotak berbungkus cokelat.

Mobil itu lalu pergi, seolah tak ingin menunggu reaksi. Kotak itu dibuka. Donat. Air mata Hendrizal pecah. Bukan semata karena lapar, tetapi karena doa yang terjawab dengan cara tak terduga. Dua kotak ia berikan kepada pasangan lansia, dua kotak dimakan bersama Fauzan, dan satu kotak dibawa ke posko untuk relawan lain.

Baca Juga: Jembatan Bailey Dipasang di Muarobusuak, Akses Warga Solok Pulih Pascagalodo

“Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya kelaparan. Ia mencukupkan lewat tangan-tangan yang tidak kita kenal,” ucap Hendrizal.

Donat itu terasa manis dan hangat. Di sisa perjalanan, mata Hendri terus basah. Syukur mengalir tanpa perlu kata. Ia paham kini bahwa perjalanan terjauh sebagai relawan bukanlah menyusuri longsor atau menyeberangi jembatan rapuh, melainkan melintasi jarak antara ragu dan percaya.

Relawan dan Perjalanan Batin

Hari-hari menjadi relawan, bagi Hendri bukan sekadar daftar tugas dan laporan. Suami dari Yossi Handayani ini menganggap kerelawanan sebagai perjalanan batin.

Di luar pekerjaannya sebagai ASN Asrama Haji Padang dan mahasiswa S3 Studi Kebijakan Unand, kegiatan relawan menjadi ruang untuk “mengisi ulang energi”.

“Rutinitas kerja itu sama setiap hari. Di lapangan, saya menemukan senyuman tulus dari relawan, anak-anak, dan para penyintas,” katanya.

Relawan telah menjadi bagian hidupnya. Ia selalu berusaha terlibat setiap tahun, baik di bidang pendidikan maupun kebencanaan. Ia pernah turun dalam penanganan gempa Pasaman Malampah pada 2022.

Sebagian besar kegiatannya berada di bidang pendidikan, mengajar hingga ke daerah pedalaman bersama berbagai organisasi. Baginya, mengabdi kepada negara tidak cukup dengan duduk di kursi kerja sebagai ASN. Harus ada aksi nyata. Tak jarang, jatah cuti tahunannya habis untuk terjun langsung ke lapangan.

Di Palembayan, Hendri bertugas dalam tim asesmen: mencari titik pengungsian, memetakan dampak, serta membuka jalur aman agar bantuan bisa sampai.

Ia juga menjadi relawan Psychological First Aid, mencoba menguatkan jiwa-jiwa yang retak oleh musibah. Namun pada hari ketiga, ia belajar satu hal yang tak tertulis di buku panduan: bahwa Allah SWT berbicara dengan cara yang paling sederhana.

Kegiatan Dompet Dhuafa di Kabupaten Agam melibatkan 39 relawan dari berbagai daerah, mulai dari Palembang, Kerinci, Jakarta, hingga berbagai wilayah di Sumatera Barat. Ada pula mahasiswa dari Pasaman, Padang, dan Agam.

Erwandi Saputra, Person in Charge (PIC) Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa untuk penanganan bencana Kabupaten Agam, menjelaskan misi kemanusiaan dilakukan dalam dua tahap.

“Pertama adalah tanggap darurat bencana hingga 22 Desember 2025. Setelah itu masuk ke fase pemulihan yang bisa berlangsung hingga enam bulan,” ujar Erwandi.

Selama masa tanggap darurat, Dompet Dhuafa terlibat dalam pencarian korban bersama tim SAR, membuka pos medis dan layanan medis keliling, dapur umum, pos hangat, serta menyalurkan berbagai bantuan. Ambulans Dompet Dhuafa siaga 24 jam untuk kebutuhan kesehatan masyarakat Palembayan secara gratis.

Data korban, anak yatim, sekolah swasta terdampak, dan sarana ibadah yang rusak dikumpulkan sebagai dasar program lanjutan. Saat ini, Dompet Dhuafa telah menyiapkan pembangunan sekolah darurat di Nagari Salareh Aia Timur, lokasi lima sekolah terdampak, termasuk satu SMA Plus yang habis tak bersisa.

Masyarakat Palembayan menunjukkan daya bangkit yang luar biasa. Kantor wali nagari membuka layanan hampir 24 jam selama masa bencana.

Warga berinisiatif membuka sekolah mandiri dan bergotong royong bersama relawan. Di tengah luka, mereka tetap menyambut dengan senyum. (NOVITRI SILVIA—Palembayan)

Editor : Novitri Selvia
#Palembayan #Nagari Salarehaia #Relawan Dompet Dhuafa #Nagari Tigo Koto Silungkang #Galodo Agam #Hendrizal #kisah inspiratif