Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Nestapa Korban Banjir Bandang di Tanahtaban, Nagari Pasialaweh: Tempat Tinggal Zona Merah, Mengungsi tak Makan

Aris Prima Gunawan • Rabu, 18 Februari 2026 | 12:10 WIB

BERUSAHA KERAS: Salah seorang warga di Korong Tanahtaban, Nagari Pasia Laweh Lubuak Aluang saat membersihkan rumahnya dari lumpur yang dibawa oleh banjir bandang, kemarin.
BERUSAHA KERAS: Salah seorang warga di Korong Tanahtaban, Nagari Pasia Laweh Lubuak Aluang saat membersihkan rumahnya dari lumpur yang dibawa oleh banjir bandang, kemarin.

PADEK.JAWAPOS.COM-Kondisi dilematis dihadapi warga korban bencana banjir di Korong Tanahtaban, Nagari Pasia Laweh Lubuak Aluang.

Mereka tidak saja kehilangan mata pencarian, tetapi juga pengharapan hidup di masa depan. Pasalnya, tempat tinggal mereka ditetapkan sebagai zona merah becana. Bisakah mereka bertahan?

WARGA Korong Tanahtaban memutuskan untuk masih berkunjung ke rumahnya. Meskipun mereka sudah mengontrak di luar korong itu, guna menghindari ancaman banjir, namun tidak kembali ke rumah, sama saja tidak makan ke depannya.

Sebab, di tempat itulah sumber mata pencarian mereka satu-satunya. Kemarin, tampak beberapa warga yang sibuk mengemasi rumahnya.

Mereka menggunakan cangkul untuk membuang tumpukan lumpur yang dibawa banjir bandang hingga ke dalam rumah mereka.

Banjir tersebut datang berulang. Mereka menyadari bahwa tindakan itu akan sia-sia jika banjir susulan datang. Terakhir kali terjadi, Senin (16/2) lalu.

“Sejauh ini, belum terpikir untuk benar-benar bisa meninggalkan rumah ini untuk saya tinggal di luar,” ujar Amel, 40, salah seorang warga Korong Tanahtabah sembari mengumpulkan puing-puing kayu yang berserakan di sekitar surau dekat rumahnya.

Amel menceritakan, dirinya sudah mendapat bantuan berupa biaya kontrakan rumah dari pemerintah. Ia pun sudah mengontrak rumah di Kasiakputiah, Nagari Singguliang Lubuak Aluang.

“Kontrakan rumah itu Rp 600 ribu per bulan. Janjinya (pemerintah) akan memberi untuk 6 bulan. Tetapi saya baru menerima 3 bulan,” ujarnya.

Bergantung hidup pada bantuan kontrak rumah, baginya tindakan yang sangat berisiko. Mengingat dirinya memiliki dua anak yang bersekolah.

“Anak sulung saya sekarang di bangku SMK. Sedangkan yang bungsu di SD,” ujar single mom tersebut.

Untuk itu, meski dilarang pemerintah untuk kembali ke Tanahtaban, ia masih memutuskan datang ke tempat tinggalnya itu. Meskipun tak ada lagi sawah yang dapat diharapkannya, setidaknya ia bisa menggaet rezeki dari sisa-sisa banjir.

“Ya, apa yang ada dan mungkin bisa dijual. Misalnya kalau masih ada pohon pinang yang berdiri dan buahnya bisa diambil, saya ambil itu. Kalau mengungsi terus, kami bisa tak makan,” ungkapnya.

Sampai saat ini, Amel belum tahu ke mana arah masa depan penghidupan keluarganya. Sebab selama ini ia sepenuhnya bergantung pada hasil pertanian yang kini diporak-porandakan oleh banjir bandang. Banjir yang selalu berulang ketika hujan lebat di wilayah itu.

“Terakhir menerima bantuan sembako itu saat kami masih di posko. Sekarang tidak lagi. Hanya bantuan sewa rumah itu saja. Ya, ia saja yang kami terima. Bagaimana mungkin kami tidak berusaha untuk cari makan dan biaya hidup untuk sekolah anak,” tukasnya.

Apa yang disampaikan Amel dibenarkan Ambo, 45, warga lainnya yang juga memilih basih bolak-balik ke Tanahtaban.

Menurutnya, zona merah sebenarnya bisa diatasi oleh pemerintah dengan menormalisasi aliran Batanganai di sana.

“Banjir di sini kan karena Batang Anai melimpah. Jadi, mestinya aliran sungai itu dibenahi terlebih dahulu sehingga tidak pusing-pusing memaksa kami meninggalkan kampung kami ini,” hematnya.

Terlebih lagi, sambungnya, sampai sekarang belum ada kepastian akan ada hunian untuk mereka.

Terakhir, mereka sudah diminta mencari tanah untuk dibangunkan hunian tetap. Namun, setelah tanah ditemukan belum ada keputusan dari pemerintah.

“Kami diberi bantuan biaya kontrakan itu kan karena belum ada kepastian hunian untuk kami. Kalau di Asampulau, kami tidak mau karena di sana sebenarnya lebih rawan lagi. Kalau jembatan putus kami bisa terisolasi. Kami warga Lubuakaluang bukan 2x11 Kayutanam,” jelasnya.

Stimulus Cepat Paling Dibutuhkan

Salah seorang Ketua Kelompok Tani di Tanahtaban, Hamzah Aulia mengatakan, bantuan pemulihan pertanian memang menjadi kunci bagi warga di sana untuk bertahan dari tekanan ekonomi.

Dari diskusinya terakhir dengan pihak Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Padangpariaman, bakal dilakukan revitalisasi sawah di sana.

“Dari diskusi, baru revitalisasi kerusakan sedang yang nampak gambaran ada anggarannya. Jadi, kita setujui saja itu dulu agar sawah di sini bisa cepat diperbaiki,” ujar Hamzah.

Katanya, revitalisasi itu dijanjikan bakal dilakukan dalam waktu dekat. Targetnya sawah sudah dapat dimanfaatkan sebelum lebaran.

Namun, di sisi lain ia juga membenarkan bahwa yang paling penting pembenahan aliran sungai terlebih dahulu. “Benar juga, kalua sawah direvitalisasi dan banjir datang lagi, tentu sawah tidak bisa juga digunakan,” ucapnya.

Menurutnya, ada solusi lain yang mungkin dapat membantu menopang ekonomi petani di sana jelang pemulihan dan pembenahan untuk mencegah banjir susulan. Yakni stimulus untuk petani agar bisa bertani di luar Tanahtaban itu.

“Kalau pemerintah bisa bantu carikan sawah di sekitar sini yang aman, dan bantu modal awal bertanam itu mungkin lebih membantu dan terjamin bisa menjadi pegangan bagi warga untuk ke depannya,” hematnya.

Kalau warga yang mencari dan menyewa sawah, menurutnya tidak akan mungkin. Sebab bertahan hidup saja dari dampak bencana mereka sudah sangat beruntung.

“Paling pemerintah hanya bantu sewa sawah untuk satu kali tanah hingga panen. Itu akan berlangsung sekitar 4 bulan. Bisa saja pemulihan dampak bencana sudah selesai saat itu,” tukasnya. (ARIS PRIMA GUNAWAN—Padangpariaman)

Editor : Novitri Selvia
#Nagari Pasia Laweh Lubuak Aluang #Korong Tanahtaban #zona merah bencana #korban banjir bandang