Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Dari Teluk Bayur ke Mimbar Dakwah: Kisah Buya Ristawardi, Buruh Semen yang Kini Viral di Media Sosial

Hendra Efison • Rabu, 11 Maret 2026 | 13:54 WIB

Perjalanan inspiratif Buya Ristawardi Dt. Marajo Nan Batungkek Ameh, dari buruh angkat semen Teluk Bayur hingga menjadi mubaligh berpengaruh di Sumatera Barat.
Perjalanan inspiratif Buya Ristawardi Dt. Marajo Nan Batungkek Ameh, dari buruh angkat semen Teluk Bayur hingga menjadi mubaligh berpengaruh di Sumatera Barat.
PADEK.JAWAPOS.COM–Suara adzan magrib sering menjadi penanda berakhirnya aktivitas di berbagai sudut Sumatera Barat. Namun di banyak majelis taklim dan masjid, masyarakat juga menanti suara lain yang tak kalah akrab: ceramah Buya H. Ristawardi Dt. Marajo Nan Batungkek Ameh.

Gaya bicaranya hangat, diselingi humor khas Minangkabau, tetapi selalu berujung pada pesan yang mengendap lama di benak jamaah. Tak heran, potongan ceramahnya kini kerap muncul di beranda media sosial dan menjadi tontonan yang ramai dibagikan.

Di balik kepopuleran itu, perjalanan hidup Buya Ristawardi menyimpan kisah panjang tentang kerja keras dan keteguhan yang ditempa sejak muda.

Peluh di Pelabuhan Teluk Bayur

Tahun 1974, Ristawardi muda memulai pekerjaannya sebagai buruh angkat semen di Pelabuhan Teluk Bayur, Padang. Setiap hari ia bekerja selama delapan jam memindahkan karung-karung berat produksi PT Semen Padang dari lori menuju gudang sebelum dimuat ke kapal.

Pekerjaan itu menguras tenaga.

Karung-karung semen dipanggul satu per satu, sementara debu halus sering menempel di pakaian dan wajah. Saat hari beranjak sore, tubuhnya kerap terasa kaku setelah seharian bekerja.

“Kalau sudah selesai bekerja, badan rasanya kaku. Dipanggil orang tak bisa menoleh, harus memutar seluruh badan,” kenangnya suatu ketika.

Namun dari rutinitas berat itu, ia belajar tentang kesabaran, disiplin, dan keteguhan hati. Nilai-nilai yang kelak menjadi napas dalam setiap ceramah yang ia sampaikan.

Beberapa tahun kemudian, ia diangkat menjadi karyawan tetap PT Semen Padang. Karena tidak memiliki ijazah formal tinggi, ia ditempatkan sebagai cleaning service.

Bagi sebagian orang, posisi itu mungkin dianggap biasa saja. Bagi Ristawardi, justru di sanalah jalan hidupnya mulai berubah.

Sebuah Momen yang Mengubah Arah

Di tengah kesibukan bekerja, ia tetap aktif mengisi pengajian dan kegiatan pembinaan rohani. Kemampuannya berbicara di depan jamaah perlahan dikenal, baik di lingkungan masyarakat maupun di dalam perusahaan.

Sebuah peristiwa kemudian menjadi titik balik.

Saat itu penasihat rohani PT Semen Padang, Buya Haji Sayuti Khatab, sedang mendampingi Semen Padang FC ke Thailand. Di waktu yang hampir bersamaan, seorang pimpinan perusahaan wafat.

Ristawardi diminta menyampaikan pidato pelepasan jenazah.

Ia berdiri di hadapan para pimpinan perusahaan dan keluarga almarhum tanpa gelar dan tanpa atribut khusus. Hanya kata-kata yang disusun dengan tenang dan penuh empati.

“Usai acara, para pimpinan PT Semen Padang bertanya siapa ustaz tadi. Mereka terkejut ketika mengetahui bahwa yang menyampaikan tausiah itu seorang cleaning service,” ujarnya.

Pimpinan perusahaan kemudian menilai bakatnya tidak seharusnya berhenti di pabrik.

“Pimpinan kemudian mengatakan saya tidak cocok di pabrik dan harus dipindahkan ke kantor,” kenangnya.

Sejak saat itu ia diminta membantu bagian personalia sekaligus pembinaan rohani hingga akhirnya dipercaya menjabat Kepala Urusan Konseling Rohani.

Tumbuh Bersama Perusahaan

Selama 35 tahun mengabdi di PT Semen Padang, Buya Ristawardi tidak hanya menjalankan tugas administratif. Ia menjadi pembimbing spiritual bagi para pekerja yang setiap hari berhadapan dengan dinamika industri.

Perusahaan juga membuka ruang bagi penguatan nilai-nilai keislaman melalui berbagai program pembinaan rohani.

Pada 1982, ia mengikuti pelatihan Dewan Masjid dan resmi menjadi kader mubaligh. Setahun kemudian, namanya mulai dikenal di berbagai daerah.

Tahun 1986, ia sudah rutin berceramah di Bukittinggi dan sejumlah wilayah lain di Sumatera Barat.

Langkahnya dari ruang pabrik menuju mimbar masjid berlangsung perlahan, tetapi konsisten.

Dakwah yang Menyatu dengan Budaya

Buya Ristawardi lahir di Baso, Bukittinggi, pada 10 Juni 1952. Ia tumbuh dalam lingkungan budaya Minangkabau yang kuat.

Gelar adat “Dt. Marajo Nan Batungkek Ameh” yang disandangnya menegaskan kedudukannya dalam struktur adat.

Dalam ceramahnya, ayat Al-Qur’an dan hadis sering dipadukan dengan pepatah Minang. Ia juga kerap mengangkat filosofi “karambia” sebagai simbol keteguhan dan kemanfaatan hidup.

Pendekatan ini membuat dakwah terasa dekat dan mudah dipahami berbagai kalangan.

Nilai falsafah Minangkabau “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” menjadi landasan yang terus ia gaungkan.

Dukungan Pengkaderan Mubaligh

Buya Ristawardi juga mengingat program pengkaderan mubaligh yang difasilitasi PT Semen Padang sekitar 1992.

Program itu diprakarsai Buya Sayuti Khatab dengan menghadirkan pengajar khusus untuk melatih kemampuan dakwah.

Peserta pelatihan antara lain Zhafrul Jamal, Yohannis, Sensurianus, Warmen Jamil, dan Marwan Bermawi.

“Namanya Pengkaderan Mubaligh. Mereka dilatih retorika dakwah, psikologi dakwah, dan berbagai materi lainnya,” ujarnya.

Pelatihan tersebut berlangsung di Masjid Raya Al Ittihad Indarung dengan dukungan penuh dari perusahaan.

Kisah yang Menjadi Teladan

Sekretaris Perusahaan PT Semen Padang, Win Bernadino, menyatakan perusahaan merasa bangga memiliki sosok pensiunan seperti Buya Ristawardi.

Menurutnya, perjalanan hidup mubaligh tersebut menunjukkan bahwa nilai kerja keras, integritas, dan spiritualitas dapat tumbuh berdampingan dalam lingkungan industri.

Kisah Buya Ristawardi menjadi pengingat bahwa jalan pengabdian bisa berawal dari mana saja.

Dari pelabuhan tempat karung-karung semen dipanggul setiap hari, hingga mimbar dakwah yang kini menerangi banyak hati di Sumatera Barat.(*)

Editor : Hendra Efison
#dakwah budaya Minangkabau #mubaligh Sumatera Barat #kisah Buya Ristawardi Semen Padang #Buya Ristawardi Dt Marajo Nan Batungkek Ameh