Kisah Rofi, Anak Pedagang Ikan Keliling yang Diterima Psikologi UGM Lewat SNBP dan Raih UKT 0

Heri Sugiarto • Dipublikasikan Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:07 WIB
Rofi Arif Robbani, mahasiswa baru Fakultas Psikologi UGM jalur SNBP 2026 yang memperoleh UKT 0 berkat prestasi akademik dan kompetisi.(Foto: UGM)
Rofi Arif Robbani, mahasiswa baru Fakultas Psikologi UGM jalur SNBP 2026 yang memperoleh UKT 0 berkat prestasi akademik dan kompetisi.(Foto: UGM)

PADEK.JAWAPOS.COM – Mimpi yang dirawat dengan kerja keras akhirnya mengantarkan Rofi Arif Robbani diterima di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Lulusan SMA Negeri 1 Maos, Cilacap, Jawa Tengah, itu juga memperoleh UKT 0 (subsidi UKT 100 persen) sehingga dapat menempuh pendidikan tanpa biaya kuliah.

Sejak duduk di bangku SMA, Rofi mengisi hari-harinya dengan belajar, berorganisasi, melakukan penelitian, serta mengikuti berbagai kompetisi. Baginya, setiap tanggung jawab harus diselesaikan dengan sebaik mungkin melalui skala prioritas yang jelas.

Ketika harus menyelesaikan penelitian untuk Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) di tengah persiapan ujian akhir sekolah, ia memilih menuntaskan penelitian tersebut sebagai bentuk komitmen terhadap apa yang telah dimulai.

Baca Juga: Joshua Sababalat, Putra Mentawai Pertama Lolos ITB Jalur Prestasi, Terima Beasiswa 4 Tahun

Kerja keras itu membuahkan hasil. Rofi berhasil mengoleksi delapan penghargaan mulai dari tingkat kabupaten, nasional, hingga internasional. Prestasi tersebut meliputi Juara Harapan 1 Tour Guide Competition Cilacap English Festival 2025, Juara 2 KRENOVA Masyarakat Kabupaten Cilacap, Juara Harapan 2 Lomba Karya Tulis Ilmiah Pelita Fair 2023 Universitas Tidar, Rofi bersama timnya meraih Juara 1 Festival ELINS FMIPA UGM 2024, Silver Medal Indonesia International Applied Science Project Olympiad (I2ASPO) 2023, serta Bronze Medal International Science and Invention Fair (ISIF) 2023, Youth International Science Fair (YISF) 2024, dan International Youth Business Competition (IYBC) 2024.

Selain aktif mengikuti kompetisi, ia juga memimpin Duta Literasi Perpustakaan Griya Pasinaon dan menjadi anggota Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) di sekolahnya.

Di antara seluruh pencapaian tersebut, pengalaman menjadi finalis Festival Elektronika dan Instrumentasi (ELINS) FMIPA UGM 2024 menjadi salah satu momen yang paling membekas dalam ingatan Rofi. Jauh sebelum mengenakan jaket almamater UGM, ia lebih dulu menginjakkan kaki di kampus tersebut sebagai finalis kompetisi.

Baca Juga: Kisah Asyifa Rahma Fiandra, Siswa Pariaman Lolos ITB usai Belajar 5 Jam Sehari

Saat berdiri di lingkungan kampus, ia berulang kali berkata dalam hati bahwa suatu hari nanti harus kembali ke tempat itu, bukan lagi sebagai peserta lomba, melainkan sebagai mahasiswa. Tekad itu semakin kuat ketika timnya berhasil meraih Juara 1.

"Waktu datang ke FMIPA UGM saya benar-benar bilang ke diri sendiri, pokoknya saya harus keterima UGM bagaimana pun caranya," tuturnya ketika ditemui Tim Pemberitaan Humas UGM, Jumat (17/7).

Memilih Psikologi untuk Tingkatkan Kesadaran Kesehatan Mental

Banyak teman sekolahnya mengira Rofi akan melanjutkan pendidikan di bidang sains atau rekayasa. Namun, ia justru memilih Fakultas Psikologi UGM.

Ketertarikannya pada bidang tersebut lahir dari keinginan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental. Menurutnya, kesadaran mengenai kesehatan mental memang mulai tumbuh di kalangan generasi muda, tetapi masih diperlukan pemahaman yang lebih luas agar dapat diterima lintas generasi.

Karena itu, setelah lulus nanti ia bercita-cita melanjutkan pendidikan profesi psikolog atau studi magister agar dapat berkontribusi meningkatkan mental health awareness serta membantu mengurangi konflik yang sering muncul akibat perbedaan cara pandang dalam keluarga.

Tangis Haru Saat Lolos SNBP

Momen pengumuman SNBP menjadi pengalaman yang tidak terlupakan bagi Rofi. Sebelum membuka hasil seleksi, ia sengaja meminta ibunya segera pulang agar mereka dapat melihat pengumuman bersama di rumah mereka di Adipala, Cilacap.

Di ruang tamu rumah, rasa cemas lebih dulu mengalahkan rasa percaya dirinya. Bahkan sebelum laman pengumuman terbuka, air matanya sudah mengalir karena membayangkan kemungkinan tidak diterima.

Baca Juga: Satgas PPK UNP Perluas Gerakan Kampus Aman

Perasaan itu seketika berubah menjadi haru ketika layar menampilkan tulisan bahwa dirinya diterima di Fakultas Psikologi UGM.

"Yang pertama saya bilang waktu itu cuma, 'Hah, keterima'," kenangnya.

Beberapa waktu setelah dinyatakan diterima di UGM, kebahagiaan keluarga kembali bertambah ketika Rofi mengetahui dirinya memperoleh UKT 0 (subsidi UKT 100 persen).

Saat itu ia sedang berkumpul bersama teman-temannya dan sempat dibuat bingung ketika melihat nominal subsidi yang diberikan UGM. Setelah memastikan bahwa biaya kuliahnya benar-benar menjadi nol rupiah, ia langsung menghubungi ibunya melalui panggilan video.

Baca Juga: Unand Kembangkan Inovasi Pangan Berbasis Komoditas Lokal 

"Itu benar-benar sebuah berkah bagi kami. Saya jadi bisa kuliah dengan lebih tenang tanpa harus terlalu memikirkan biaya," ucapnya.

Perjuangan Orang Tua

Di balik perjalanan tersebut, ada sosok Hasan Ismail, ayah Rofi, yang setiap pagi berkeliling dari rumah ke rumah membawa dagangan ikan di wilayah Cilacap. Ada hari ketika dagangannya habis terjual, ada pula hari ketika sebagian harus dibawa pulang. Namun, ia tidak pernah berhenti berangkat.

Baginya, bekerja adalah ikhtiar untuk memastikan anak-anaknya memperoleh kesempatan pendidikan yang lebih baik.

"Yang penting saya usaha. Berapa pun hasilnya, itu rezeki kami," katanya.

Hasan mengaku sempat heran ketika putranya yang masih kecil bercita-cita kuliah di UGM. Meski demikian, ia memilih mendukung mimpi tersebut sepenuh hati karena meyakini pendidikan dapat membuka kesempatan yang lebih luas bagi masa depan anak-anaknya.

"Saya tidak menyangka anak saya bisa diterima di UGM. Harapan saya, Rofi bisa kuliah dengan baik, terus berprestasi, dan memiliki masa depan yang lebih baik," ungkapnya.

Perjalanan Rofi juga tidak lepas dari peran Suharti yang selama ini menjadi tempat pertama bagi putranya untuk berbagi cerita. Dukungan emosional yang diberikan sang ibu membuat Rofi mampu bangkit setiap kali menghadapi tekanan saat belajar maupun mengikuti kompetisi.

Baca Juga: SUP M. Djamil dan UNP Luncurkan Djamil Hospital Schooling untuk Anak Rawat Inap

Karena itu, ketika mengetahui putranya memperoleh subsidi UKT 100 persen, rasa syukur yang ia rasakan bukan semata karena terbantu secara finansial, melainkan karena Rofi dapat melangkah lebih tenang mengejar cita-citanya.

"Saya sangat bersyukur, terima kasih UGM. UKT nol ini sangat membantu sehingga Rofi bisa lebih fokus belajar," ujarnya.

Kini, kesempatan belajar di UGM dimaknai Rofi sebagai awal dari perjalanan baru. Ia ingin aktif mengikuti berbagai kegiatan kemahasiswaan, memperluas jejaring, sekaligus menemukan cara terbaik agar ilmu yang dipelajarinya dapat memberi manfaat bagi masyarakat.

Baginya, kuliah bukan sekadar mengejar gelar, tetapi kesempatan untuk bertumbuh menjadi pribadi yang mampu membawa dampak positif bagi orang lain.

Baca Juga: Pascasarjana UIN IB Padang Gandeng Bank Nagari, Perkuat Ekosistem Ekonomi Syariah di Sumbar

Dua belas tahun lalu, seorang anak kelas satu SD pernah mengucapkan kalimat sederhana tanpa benar-benar memahami maknanya. Hari ini, kalimat itu bukan lagi sekadar mimpi. Bagi Rofi, UGM menjadi bukti bahwa mimpi tidak pernah ditentukan oleh latar belakang keluarga, melainkan oleh keberanian untuk menjaganya tetap hidup.

Karena itu, kepada anak-anak muda yang masih ragu mengejar cita-cita, ia menitipkan satu pesan.

"Jangan pernah merasa mimpi kalian ketinggian. Jangan pernah merasa tidak punya kesempatan. Kesempatan itu akan selalu ada selama kita mau berusaha. Apa pun tantangannya, mulai saja dulu. Insyaallah apa yang dimulai dengan niat baik pasti akan mendapatkan hasil yang baik juga," tutup Rofi, dikutip dari laman resmi UGM.(*)

Editor : Heri Sugiarto
Rofi Arif Robbani Psikologi UGM SNBP UGM 2026 UKT 0 UGM Anak pedagang ikan lolos UGM