Tandikek 2.438 Mdpl: Jejak Letusan, Rumah Anggrek, dan Kelinci Belang di Etape Terakhir Seven Summit

Two Efly • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:01 WIB
Tim Ekspedisi Seven Summit West Sumatra berfoto bersama bendera Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumatera Barat saat mencapai MT Tandikek 2.438 Mdpl, dalam rangkaian pendakian Seven Summit West Sumatra.
Tim Ekspedisi Seven Summit West Sumatra berfoto bersama bendera Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumatera Barat saat mencapai MT Tandikek 2.438 Mdpl, dalam rangkaian pendakian Seven Summit West Sumatra.

Gunung Tandikek tidak setinggi Kerinci. Tidak pula setenar Marapi atau Singgalang. Namun, jangan pernah menganggapnya ringan.

 

Oleh: Two Efly & Azib Fattah MP

Ketinggian 2.438 meter di atas permukaan laut ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat kesulitan sebuah pendakian. Tandikek memiliki trek yang panjang, tanjakan yang menguras tenaga, hutan yang rapat, serta medan yang menuntut stamina dan ketahanan mental.

Ada satu hal yang membuat Tandikek berbeda. Gunung ini masih menyimpan wajah alam yang relatif lestari. Di sepanjang perjalanan, pepohonan berdiameter besar masih berdiri kokoh. Rotan tumbuh liar di kiri-kanan jalur. Hutan pegunungan masih menjadi rumah bagi berbagai flora dan fauna.

Tidak berlebihan rasanya jika Tandikek disebut sebagai gunung penyambung sekaligus gunung penutup. Penyambung karena ia mempertemukan bentang alam, hutan, masyarakat, dan sejarah kawasan pegunungan Sumatera Barat yang membuat pendaki bertualang ke gunung lain. Penutup karena di sinilah perjalanan panjang Seven Summit West Sumatra akhirnya menemukan garis finis.

Gunung di Tiga Kabupaten

Secara administratif, kawasan Suaka Alam Singgalang–Tandikat membentang di Kabupaten Tanah Datar, Agam, dan Padang Pariaman. Kawasan ini telah ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam melalui Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SK.600/Menlhk/Setjen/PLA.2/8/2016 dengan luas sekitar 9.803,50 hektare.

Gunung Tandikek sendiri merupakan gunung api tipe stratovolcano dengan ketinggian 2.438 mdpl. Badan Geologi menyebut Tandikek sebagai “kembaran” Gunung Singgalang.

Di sepanjang jalur pendakian yang kami lewati, hutan masih terasa begitu kuat. Pohon-pohon besar tumbuh di kiri dan kanan jalur. Rotan menjalar di antara pepohonan. Semak dan tumbuhan bawah menutup sebagian lantai hutan.

Bagi kami, itu bukan sekadar pemandangan. Itu adalah pesan. Bahwa sebuah gunung tidak hanya diwariskan melalui cerita, tetapi juga melalui hutan yang tetap berdiri.

Nama dan Cerita

Di balik kokohnya Gunung Tandikek, tersimpan pula cerita tentang asal-usul namanya.

Gunung yang dalam sejumlah dokumen dikenal sebagai Tandikat atau Tandikai ini oleh masyarakat Minangkabau lebih akrab disebut Tandikek.

Tentang asal-usul nama tersebut, cerita yang berkembang di masyarakat memiliki beragam versi. Salah satu cerita turun-temurun mengaitkannya dengan ungkapan “tahan diikat”.

Konon, dahulu terdapat seorang tokoh bernama Kalik-kalik Jantan yang memiliki kesaktian luar biasa. Ia pernah diikat menggunakan kawat besi, tetapi mampu melepaskan diri. Dari ungkapan “tahan diikat” itulah nama Tandikek kemudian dipercaya berasal.

Ada pula cerita lain yang mengaitkan Tandikek dengan kata tandik, yang dalam cerita masyarakat disebut bermakna terbang. Konon, kawasan puncaknya dahulu dikaitkan dengan keberadaan burung besar yang terbang di sekitar gunung.

Mana yang paling benar?

Tidak mudah menjawabnya. Belum ditemukan sumber sejarah tertulis yang cukup kuat untuk memastikan salah satu versi tersebut sebagai asal-usul definitif nama Tandikek. Karena itu, cerita tersebut lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari ingatan kolektif masyarakat.

Yang pasti, nama Tandikek telah hidup jauh lebih lama daripada sekadar menjadi nama sebuah destinasi pendakian. Ia telah menjadi bagian dari identitas geografis dan budaya masyarakat di kaki gunung.

Jejak Letusan

Tandikek hari ini memang terlihat tenang. Namun, sejarahnya tidak selalu demikian. Badan Geologi mencatat Gunung Tandikat pernah mengalami dua letusan utama yang bersifat magmatis, yakni pada 1889 dan 1914.

Letusan 1889 merupakan catatan yang cukup panjang. Pada 19 Februari 1889, aktivitas di Kawah B dilaporkan menghasilkan tiang asap tinggi dan nyala api. Aktivitas disertai gempa, suara letusan, dan hujan abu.

Keesokan harinya, 20 Februari, aktivitas masih berlangsung. Bahkan hingga 17 April 1889, asap masih terlihat dan sesekali disertai hujan abu.

Aktivitas kembali teramati pada 3 dan 4 Desember 1889 ketika tiang asap Tandikek terlihat jelas dari Bukittinggi. Artinya, letusan 1889 bukan sekadar sebuah ledakan sesaat. Ia merupakan rangkaian aktivitas vulkanik yang tercatat dalam beberapa periode sepanjang tahun.

Dua puluh lima tahun kemudian, Tandikek kembali menunjukkan aktivitas. Pada 31 Mei 1914 sekitar pukul 21.00, material letusan dilaporkan berjatuhan di sekitar puncak.

Laporan ilmiah lama bahkan menyimpan perbedaan interpretasi. Administratur Veen melaporkan adanya material yang dianggap sebagai lelehan lava di kawasan puncak. Namun, Kemmerling kemudian menafsirkan material tersebut bukan lava, melainkan lontaran bom vulkanik pijar. Smithsonian Global Volcanism Program mencatat letusan 1914 sebagai erupsi kecil dengan VEI 1.

Lalu, bagaimana dengan 1924?

Di sinilah sejarah Tandikek menjadi menarik. Dokumen Badan Geologi yang lebih lama menyebut dua letusan utama, yakni 1889 dan 1914.

Smithsonian Global Volcanism Program mencatat tiga periode erupsi yang terkonfirmasi, termasuk aktivitas pada April 1924 dengan VEI 1. Smithsonian menempatkan 1924 sebagai last known eruption Tandikat.

Untuk kepentingan penulisan sejarah, lebih tepat dikatakan: Badan Geologi mencatat dua letusan utama pada 1889 dan 1914, sedangkan basis data Smithsonian mencatat aktivitas erupsi tambahan pada 1924 sebagai aktivitas terakhir yang diketahui. Setelah itu, Tandikek memasuki masa panjang tanpa letusan. Gunung itu seperti tidur. Tetapi ia tidak benar-benar mati.

Siapa Pendaki Pertama?

Sangat minim referensi yang mengungkap siapa penjelajah yang pertama menjejakkan kaki di puncak Gunung Tandikek.

Nama Kemmerling sempat muncul dalam literatur lama. Namun, informasi tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa ia adalah orang pertama yang mencapai puncak.

Jalur Menuju Puncak

Tandikek memiliki sejumlah akses pendakian. Salah satu jalur yang populer dan kami gunakan adalah jalur Jorong Gantiang, Nagari Singgalang, Kecamatan X Koto, Tanah Datar.

Jalur ini membawa pendaki memasuki hutan pegunungan melalui Pintu Rimba, kemudian melewati rangkaian shelter hingga mendekati kawasan puncak.

Dalam perjalanan kami, titik-titik yang dilewati antara lain Pintu Rimba, Shelter 1, Shelter 2, Shelter 3, Batu Surya, bibir kawah, dan area camp.

Jalur ini bukan jalur yang bisa dianggap ringan. Dari Pintu Rimba, karakter medan berubah menjadi lebih rapat dan menanjak. Semakin mendekati puncak, medan semakin menuntut tenaga dan konsentrasi.

Setelah melewati Shelter 3, perjalanan menuju kawasan summit menjadi semakin berat. Batu Surya menjadi salah satu penanda sebelum pendaki menghadapi tanjakan menuju bibir kawah.

Bagi kami, perjalanan menuju kawah membutuhkan sekitar delapan jam dengan jarak kurang lebih 10 kilometer.

Angka itu cukup untuk menjelaskan bahwa Tandikek bukan gunung yang boleh diremehkan hanya karena ketinggiannya “hanya” 2.438 mdpl.

Selain jalur Gantiang, terdapat pula akses dari kawasan Malalak dan kawasan Lembah Anai. Namun, karakter jalur tersebut tidak sama dengan jalur Gantiang dan membutuhkan penguasaan medan serta navigasi yang lebih baik.

Karena itu, bagi pendaki yang belum mengenal Tandikek, jalur Gantiang lebih masuk akal untuk dipilih dengan tetap menggunakan pemandu atau pendamping yang memahami kondisi lapangan.

Hutan yang Menyimpan Kehidupan

Tandikek bukan hanya tentang kawah. Di balik tanjakan dan lebatnya hutan, tersimpan kekayaan hayati yang membuat kawasan ini memiliki arti penting bagi konservasi.

BKSDA Sumatera Barat mencatat kawasan Suaka Alam Singgalang–Tandikat sebagai ekosistem hutan hujan pegunungan campuran non-Dipterocarpaceae. Vegetasinya terbagi menurut ketinggian, mulai dari hutan dataran rendah, submontana, montana hingga subalpin.

Eksplorasi LIPI pada 1996 menemukan beragam tumbuhan bawah dan anggrek, termasuk Eria pilifera, Eria iridifolia, Trichotosia sp., Epigenium cymbidiodes, Eria pannea, Phaius tankervilleae, Bulbophyllum odoratum, Goodyera sp., Malaxis sp., Liparis latifolia, dan Cryptostylis arachnites. Kantong semar juga tercatat di kawasan ini.

Yang menarik, jumlah anggrek di kawasan Tandikat yang tercatat dalam eksplorasi tersebut mencapai 51 jenis dari 31 suku. Kekayaan itu menunjukkan bahwa Tandikek bukan sekadar tempat untuk mengejar ketinggian. Ia adalah rumah. Rumah bagi tumbuhan, satwa, dan ekosistem yang selama ini bekerja dalam diam.

Kelinci Belang di Balik Hutan Tandikek

Ada satu penghuni Tandikek yang membuat cerita tentang gunung ini menjadi semakin menarik.

Namanya kelinci belang Sumatera (Nesolagus netscheri). Satwa ini merupakan kelinci langka yang hanya ditemukan secara alami di Sumatera. Pada 2025, tim peneliti Universitas Negeri Padang berhasil merekam keberadaannya di kawasan Gunung Tandikek menggunakan kamera pengintai.

Kelinci ini sangat sulit dijumpai secara langsung karena hidup di kawasan hutan pegunungan yang lebat. Penelitian UNP juga mengidentifikasi 49 spesies tumbuhan bawah pada lokasi yang diperkirakan menjadi habitat Nesolagus netscheri di kawasan Singgalang dan Tandikat.

Bagi kami, fakta itu memberi perspektif baru. Pendaki mungkin datang untuk mencari kawah. Datang untuk mengejar puncak. Datang untuk mendapatkan foto. Tetapi jauh di dalam hutan, ada kehidupan yang tidak pernah peduli pada foto, sertifikat, atau pencapaian pendakian. Mereka hanya membutuhkan satu hal: hutan yang tetap hidup.

Tiga Kawah di Puncak Tandikek

Tidak banyak pendaki yang mengetahui bahwa Gunung Tandikek memiliki kompleks kawah. Sejumlah sumber mencatat tiga kawah yang dikenal sebagai Kawah A, Kawah B, dan Kawah K.

Kawah B memiliki catatan sejarah aktivitas vulkanik dan menjadi bagian penting dari sejarah letusan Tandikek. Di bibir kawah inilah kami berdiri. Setelah delapan jam berjalan. Setelah melewati tanjakan demi tanjakan.

Bagi kami, tim Seven Summit West Sumatra, Tandikek terasa berbeda. Puncaknya tidak hanya menutup satu etape perjalanan. Di Gunung Tandikek inilah perjalanan panjang satu tahun 10 bulan mencapai garis finis.

Sari pati perjalanan satu tahun 10 bulan ini akan kami rajut menjadi sebuah buku berjudul Seven Summit West Sumatra (Kisah Petualangan Ayah dan Anak Menapak Atap Langit Sumatera Barat). Buku ini juga akan menjadi kado spesial dalam menyambut HUT Provinsi Sumatera Barat ke-81 pada 1 Oktober 2026 dan HUT ke-42 Hari Pers Nasional (HPN) pada Februari 2027 mendatang. (Tamat)

Editor : Hendra Efison
Seven Summit West Sumatra pendakian Gunung Tandikek letusan Gunung Tandikek Kelinci Belang Sumatera Gunung Tandikek