Terbang Bersama Sapi dan Semburan Lumpur, Menyingkap Tradisi serta Ekonomi Pacu Jawi Tanahdatar

Safrizal Putra • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 15:40 WIB
Aksi joki dalam tradisi Pacu Jawi melaju di tengah sawah berlumpur, dengan semburan lumpur mengiringi lari sapi dalam atraksi khas Tanahdatar. (Dok Disparpora Kabupaten Tanahdatar)
Aksi joki dalam tradisi Pacu Jawi melaju di tengah sawah berlumpur, dengan semburan lumpur mengiringi lari sapi dalam atraksi khas Tanahdatar. (Dok Disparpora Kabupaten Tanahdatar)

Lebih dari sekadar atraksi penunggang sapi di atas hamparan lumpur tebal yang memicu adrenalin, Pacu Jawi di Kabupaten Tanahdatar merupakan manifestasi luhur dari tradisi Mambasuik dari Bumi, sebuah seni diplomasi adat Minangkabau yang merekatkan silaturahmi, memutar roda ekonomi peternak hingga UMKM, sekaligus membanggakan Indonesia lewat raihan Juara I Nasional Lomba Video Kreatif Apkasi Otonomi Expo 2026.

Oleh: Safrizal Putra

Deru napas dua ekor sapi berkulit kecokelatan terdengar memburu di tengah petak sawah yang basah. Keduanya berdiri berdampingan, dibelit pasangan alat bajak kayu sederhana. Di belakangnya, seorang pria bertelanjang kaki bersiap dengan raut wajah berani. Jemari tangannya menggenggam erat buntut kedua hewan tersebut, sementara kedua telapak kakinya bertumpu rapuh di atas bilah kayu pelindung bajak.

Begitu aba-aba diseru, pasangan sapi itu meloncat cepat, meluncur kencang membelah hamparan lumpur tebal. Semburan lumpur pekat membumbung tinggi, menghempas wajah sang joki yang merentangkan badannya demi menjaga keseimbangan. Tidak ada pelana, tidak ada alas kaki, apalagi tali kekang yang mengekang kebebasan sang binatang.

Inilah Pacu Jawi, sebuah tradisi dan olahraga tradisional yang tergolong ekstrem, sekaligus hiburan rakyat khas Minangkabau yang digelar usai masa panen padi. Berbeda dengan ajang balapan pada umumnya yang memacu kecepatan untuk merebut garis finis pertama, Pacu Jawi menyimpan filosofi yang jauh lebih dalam. Pemenang sejati di sini tidak diukur dari siapa yang tercepat, melainkan dari ketangkasan sapi berlari lurus serta keserasian antara joki dan hewan tunggangannya.

Perpaduan antara keberanian fisik, kecakapan menunggangi, dan kearifan lokal membuat Pacu Jawi menjadi magnet visual yang memukau dunia. Namun, di balik semburan lumpur dan gelak tawa para penonton, tersimpan akar sejarah serta nilai ketatanegaraan adat yang telah mengakar jauh sebelum Republik Indonesia berdiri.

Ketua Persatuan Olahraga Pacu Jawi (PORWI) Kabupaten Tanahdatar, H. Aresno Dt. Andomo, menegaskan bahwa tradisi ini bukanlah sesuatu yang dipaksakan dari atas, melainkan murni lahir dari kehendak masyarakat bawah. Menurutnya, Pacu Jawi adalah warisan kebudayaan yang memiliki akar otentik di bumi Luhak Nan Tuo.

"Sejarah lahirnya Pacu Jawi, ini adalah kegiatan tradisional yang istilahnya Mambasuik dari Bumi, bukan Titiak dari Langik. Artinya, Mambasuik dari Bumi adalah kesepakatan rakyat itu sendiri," ujar H. Aresno Dt. Andomo saat diwawancarai Padang Ekspres, Kamis (3/9/2026).

Aresno menceritakan bahwa tradisi ini sudah dimulai sejak zaman dahulu di Nagari Tuo Pariangan, sebuah desa yang kini dikenal sebagai salah satu nagari terindah di dunia. Kala itu, gelaran Pacu Jawi dilangsungkan di atas hamparan sawah milik Datuk Bandaro Kayo, sang Tampuak Tangkai Alam Minangkabau.

Seiring berjalannya waktu, kepemilikan adat serta hak paten tradisi ini secara turun-temurun terjaga secara eksklusif di empat kecamatan di Kabupaten Tanahdatar. Keempat wilayah adat tersebut mencakup Kecamatan Pariangan, Kecamatan Lima Kaum, Kecamatan Sungai Tarab, dan Kecamatan Rambatan.

"Pacu Jawi ini merupakan salah satu kegiatan tradisional yang mengemukakan betapa pentingnya musyawarah dan mufakat. Pacu Jawi ini dilaksanakan bukan perintah dari atas, tetapi sudah sepakat niniak mamak dalam suatu nagari, tokoh-tokoh adatnya, atau tokoh tuo-tuo pacunya. Insya Allah pacu bisa dilaksanakan," tutur Aresno menegaskan.

Prinsip kebersamaan inilah yang dinilai sebagai pilar awal demokrasi di tingkat tapak Minangkabau. Jika tidak ada mufakat di antara tetua adat, tidak ada satu pihak pun yang berwenang memaksa agar gelanggang pacuan dibuka.

"Kalau tidak sepakat niniak mamak dalam nagari, siapapun yang memerintahkan, pacu itu tidak bisa didirikan. Pacu ini merupakan awalnya demokrasi. Kita lihat dalam pacu itu saling bahu-membahu, kekompakan berdemokrasi dalam rangka merakit persaudaraan dan silaturahmi antara masyarakat," tambah Aresno.

Landasan moral dan spiritual tradisi ini dipelihara dengan sangat ketat di bawah kepemimpinan adat. Segala bentuk penyimpangan yang berpotensi merusak nilai-nilai luhur masyarakat akan ditindak secara tegas tanpa kompromi.

"Di dalam Pacu Jawi ini tidak boleh ada unsur judi. Kalau ada hal demikian, Pacu Jawi akan ditutup. Karena filosofinya, pacu ini di genggaman niniak mamak yang berlandaskan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Jadi tidak ada unsur judi," terang Ketua PORWI tersebut.

Uniknya lagi, tidak ada medali emas yang diperebutkan di arena lumpur. Setiap pasangan sapi meluncur tanpa ada predikat pemenang atau pecundang secara resmi di atas kertas.

"Tidak ada yang menang, tidak ada yang kalah. Mana yang bagus, penontonlah yang menentukan. Dalam pelaksanaannya, yang sampai ke ujung orang tertawa, tidak sampai ke ujung orang tertawa juga, yang jatuh diketawakan juga, karena semata-mata bergembira ria di tengah-tengah masyarakat," jelas Aresno sembari tersenyum.

Di balik kegembiraan massa tersebut, Pacu Jawi menyimpan daya dorong ekonomi yang amat konkret bagi masyarakat pedesaan (nagari). Prosesi pemacuan sapi secara berulang di atas petak sawah ternyata memberikan manfaat ekologis alami bagi tanah pertanian.

Lumpur sawah yang teraduk secara intensif oleh pijakan puluhan pasang sapi menjadi sangat gembur dan subur untuk ditanami kembali pada musim tanam berikutnya. Tak hanya itu, sektor peternakan lokal pun mengalami lonjakan nilai tambah yang fantastis berkat ajang penilaian alami ini.

Aresno membeberkan pengalaman pribadinya mengenai kenaikan harga sapi pacu yang melonjak berlipat ganda setelah tampil menawan di arena Pacu Jawi. Sapi-sapi lokal yang semula berharga pasaran biasa, nilainya mendadak meroket tinggi di mata para pencinta dan kolektor.

"Sapi itu kalau bagus, harganya naik luar biasa. Saya sendiri tahun ini dua ekor menjual sapi dengan harga mahal. Saya beli hanya Rp12 juta, selama enam bulan saya jual Rp43 juta karena orang menganggap itu bagus. Setelah itu saya beli lagi Rp11 juta, lalu saya jual Rp55 juta hanya dalam waktu tujuh bulan," ungkap Aresno penuh optimisme.

Jika sapi-sapi tersebut hanya dipelihara untuk komoditas daging potong biasa, harganya dipastikan tidak akan mampu menembus angka di atas Rp15 juta. Namun, sentuhan seni ketangkasan dan reputasi keberhasilan melaju lurus di lumpur mengubah nilai ekonomis sang binatang secara dramatis.

"Tapi karena orang menganggap sapinya bagus, itulah peningkatan ekonomi masyarakat di bidang peternakan. Selain itu juga menggeliatkan usaha UMKM. Yang berjualan mengeluarkan kuliner-kuliner asli dari masyarakat, memberikan dampak positif terhadap ekonomi warga," puji Aresno.

Guna menjaga keberlanjutan tradisi tanpa mengganggu siklus pertanian warga, pelaksanaan Pacu Jawi di empat kecamatan tersebut diatur secara bergilir setiap bulan. Gelanggang akan berpindah dari satu nagari ke nagari lain setiap bulannya pada hari Sabtu.

"Pacu itu tidak terputus dalam satu kecamatan, dan bukan hanya di satu lokasi. Mana sawah yang sedang tidak ditanami, di situlah diadakan tergantung musyawarah mufakatnya. Kami mengharapkan Pacu Jawi ini agar lebih mendunia," kata Aresno.

Potensi pariwisata Pacu Jawi memang tak lagi bisa dipandang sebelah mata. Setiap kali helat ini digelar, ribuan pasang mata menyemut di sekeliling pematang sawah, termasuk wisatawan mancanegara yang berbondong-bondong membawa kamera berlensa panjang.

"Setiap pacu, bermacam wisatawan datang dari berbagai negara seperti Korea, Swiss, Thailand, Malaysia, dan lain-lain. Kunjungan wisatawan itu sampai ribuan penonton. Kalau dapat, jangan hanya sekadar diambil nama tuah-tuahnya saja, tapi perhatikanlah, butuh pengembangan," pungkas Aresno berharap dukungan infrastruktur yang lebih memadai.

Pengalaman nyata dampak positif Pacu Jawi ini dirasakan langsung oleh nagari-nagari penyelenggara. Salah satunya adalah Nagari Padang Laweh di Kecamatan Sungai Tarab yang rutin mengalokasikan dana khusus untuk menyukseskan alek anak nagari tersebut.

Wali Nagari Padang Laweh, Rahmat Febri Jeni Dt. Barah Bangso, mengonfirmasi bahwa pemerintah nagari berkomitmen menjaga keberlangsungan tradisi ini melalui dukungan anggaran nagari.

"Pacu Jawi saat ini dijadikan alek anak nagari, dan kami di nagari, terkhusus pemerintah nagari, menganggarkan itu sekali setahun dari anggaran nagari sekitar Rp10 juta," ungkap Rahmat Febri Jeni Dt. Barah Bangso saat dihubungi terpisah.

Pada tahun 2026, Nagari Padang Laweh telah sukses merealisasikan ajang Pacu Jawi selama lima kali putaran setiap hari Sabtu sepanjang bulan Mei. Helatan pusaka ini dipusatkan di lokasi ikonik Sawah Gauang, Jorong Padang Laweh Baruah.

Kehadiran ribuan penonton ke Sawah Gauang memberikan angin segar bagi roda ekonomi skala kecil. Produk kearifan lokal seperti jajanan olahan tradisional mengalami peningkatan penjualan yang sangat mencolok.

"Dampaknya bagi UMKM di nagari berdampak signifikan, salah satunya seperti usaha rakik maco yang merupakan makanan khas Nagari Padang Laweh. Untuk wisatawan mancanegara, setiap event Pacu Jawi itu ada sekitar 20 orang, kadang 5 orang. Ada yang datang dari Jepang, Korea, hingga Inggris," terang Rahmat.

Sapi-sapi yang diterjunkan ke kubangan lumpur sejatinya adalah jenis sapi (jawi) kampung jantan dengan rentang usia beragam. Mulai dari sapi muda berusia satu tahun yang dinilai sudah kuat berlari, hingga sapi tangguh berusia 8 sampai 10 tahun.

Keunikan interaksi dan daya pikat pertunjukan ini menjadi pemicu utama mengapa harga jual sapi jantan tersebut bisa melonjak puluhan juta rupiah usai diperagakan di arena.

"Seninya jawi itu ketemu di tengah. Dengan kepatuhannya itu, harganya naik dari harga misalnya Rp15 juta bisa menjadi Rp60 juta. Yang minat itu biasanya sesama pecandu sapi pacu. Jelang pelaksanaannya juga ada tradisi pasambahan," ujar Wali Nagari tersebut.

Nilai seni dan kehormatan Pacu Jawi memang terangkum padat dalam filosofi lokal yang dipegang teguh oleh para pemangku adat dan pemilik sapi. Sebuah ungkapan adat menggarisbawahi tata aturan unik ini.

"Seni di Pacu Jawi tidak berharap piala, tapi lebih kepada jawi itu pintar dipandang orang yang melihat. Kalau kata orang, 'Di luar Batali Adat, Di Dalam Batali Bajak'," tuturnya mengutip pepatah kuno.

Melihat antusiasme luar biasa dari penonton lokal dan turis asing, Febri berharap adanya tambahan perhatian dan bantuan fasilitas dari pemerintah daerah maupun pusat. Kenyamanan penonton serta perbaikan sarana irigasi pertanian menjadi perhatian utama warga setempat.

"Kami ingin pengembangan ke depan, dibuatkan panggung pacu agar penonton aman dan tidak kena panas. Selain itu, harapan masyarakat yang mau menyerahkan lokasinya untuk Pacu Jawi, tali bada atau saluran irigasi bisa diperbaiki," pinta Rahmat.

"Maka ke depan kami berharap anggaran bisa lebih dibesarkan, dan setiap Pacu Jawi di nagari atau daerah, dianggarkan pula untuk kepala banda yang melaksanakan pacu tersebut," sambungnya menaruh harapan besar.

Menariknya, keramahan tradisi ini juga terlihat dari keterbukaan akses bagi siapa pun yang ingin menyaksikan. Masyarakat umum maupun wisatawan asing tidak dikenakan tiket masuk yang mahal untuk menyaksikan atraksi kelas dunia ini, melainkan hanya perlu membayar retribusi parkir kendaraan.

Merespons potensi besar serta berbagai masukan masyarakat tersebut, Pemerintah Kabupaten Tanahdatar telah menyiapkan strategi matang demi memperkuat posisi Pacu Jawi di peta pariwisata nasional dan mancanegara. Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Kadisparpora) Kabupaten Tanahdatar, Inhendri Abas, S.Pd., MM, menegaskan bahwa Pemkab akan terus mendorong optimalisasi promosi dan penyelenggaraan atraksi budaya unggulan ini.

"Ke depan, Pemkab Tanahdatar menyiapkan beberapa langkah strategis agar daya jangkau dan nilai manfaat Pacu Jawi bisa lebih maksimal. Pertama, kami akan meningkatkan perluasan informasi kalender event Pacu Jawi secara lebih masif dan terintegrasi agar wisatawan dapat merencanakan kunjungannya jauh-jauh hari," tegas Inhendri Abas melalui Kepala Bidang (Kabid) Olahraga pada Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Tanahdatar, Radianus, Jumat (4/9).

Langkah kedua, lanjut Kadisparpora, Pemkab Tanahdatar memperkuat kolaborasi bersama para pelaku industri pariwisata. "Kami akan mengintensifkan kerja sama dengan Tour Operator dan Travel Agent (TO/TA) untuk memasukkan Pacu Jawi ke dalam paket-paket wisata perjalanan unggulan di Sumatera Barat," jelasnya.

Tak kalah penting, poin ketiga menitikberatkan pada aspek kenyamanan dan aksesibilitas bagi seluruh kalangan penikmat budaya. "Pemkab bertekad untuk terus meningkatkan kualitas pengemasan Pacu Jawi menjadi sebuah event yang inklusif, sehingga tidak hanya ramah bagi pecinta fotografi dan turis asing, tetapi juga aman, nyaman, serta dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat dan wisatawan keluarga," pungkas Inhendri Abas.

Daya pikat estetika serta nilai kebudayaan yang berakar kuat ini akhirnya mengantarkan Pacu Jawi meraih pengakuan bergengsi di tingkat nasional. Tradisi kebanggaan Tanahdatar ini berhasil membuktikan eksistensinya sebagai salah satu kekayaan budaya terbaik Indonesia.

Baru-baru ini, tradisi Pacu Jawi sukses menyabet Juara I Nasional Lomba Video Kreatif pada ajang Apkasi Otonomi Expo (AOE) 2026. Penghargaan bergengsi tersebut diumumkan secara resmi pada acara penutupan AOE ke-21 yang berlangsung di Convention Center ICE BSD, Tangerang, Banten, Sabtu (29/8/2026).

Lomba video kreatif yang mengusung tema “Jelajahi Ragam Komoditas Indonesia Tanpa Batas” tersebut mempertegas bahwa Pacu Jawi bukan sekadar permainan lumpur biasa. Ia adalah panggung kebudayaan, simfoni kebersamaan adat, serta mesin penggerak ekonomi rakyat yang terus melaju lurus melintasi zaman: “Warisan yang Terus Berlari”. (***)

Editor : Hendra Efison
Pacu Jawi Tanahdatar ekonomi Pacu Jawi tradisi Minangkabau Budaya Minangkabau Wisata Tanahdatar