Empat Dekade di Tengah Bara, Marnis Bertahan Menghidupi Tujuh Anak dari Batu Bara Bakar

Endang Pribadi • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 22:00 WIB
Marnis mengolah batu bara bakar di tempat usahanya di Kelurahan Pagambiran Ampalu Nan XX, Lubukbegalung, Padang.
Marnis mengolah batu bara bakar di tempat usahanya di Kelurahan Pagambiran Ampalu Nan XX, Lubukbegalung, Padang.

Pagi itu, asap tipis telah hilang dari tumpukan batu bara yang dibakar di Kelurahan Pagambiran Ampalu Nan XX, Kecamatan Lubukbegalung, Kota Padang. Di antara arang batu bara tersebut, jari-jari Marnis (60) yang mulai mengeriput tampak masih begitu cekatan.

Satu per satu batu bara yang telah terbakar dipilahnya, lalu dimasukkan ke dalam karung yang telah disiapkan. Aktivitas itu dimulainya sejak pukul 07.30 WIB, Senin (5/10/2026).

Tak semua batu bara langsung dimasukkan ke dalam karung. Dengan teliti, Marnis memeriksa tingkat kematangannya. Batu bara yang belum terbakar sempurna disisihkan untuk kembali dibakar. Baginya, bara yang matang sempurna menentukan kualitas produk yang akan digunakan para perajin pandai besi.

Setelah proses pembakaran selesai, batu bara tersebut dijual dengan harga sekitar Rp50 ribu hingga Rp80 ribu per karung.

Empat puluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk menjalani pekerjaan yang sama. Namun, bagi Marnis, tumpukan batu bara bukan sekadar bahan bakar untuk pandai besi. Dari usaha itulah ia bertahan membesarkan tujuh anak, terutama setelah suaminya meninggal dunia.

Peluh dan panas dari pembakaran batu bara menjadi bagian dari perjalanan panjangnya mengantarkan anak-anaknya hingga mampu meraih gelar sarjana.

“Batu bara ini saya jual Rp50 ribu sampai Rp80 ribu sekarung. Batu bara yang telah masak ini dibutuhkan untuk usaha pandai besi,” ujar Marnis sembari kembali memilah batu bara yang telah dibakarnya.

Perjalanan usaha Marnis bermula ketika kereta api pengangkut batu bara dari Sawahlunto masih aktif melintasi jalur menuju Pelabuhan Teluk Bayur. Saat itu, ia memanfaatkan batu bara yang tercecer dari gerbong maupun yang tersisa di sekitar tempat pengumpulan di kawasan pelabuhan.

Dari serpihan-serpihan yang dianggap tidak bernilai itu, Marnis perlahan membangun usaha yang kemudian menjadi sumber penghidupan keluarganya.

“Awalnya saya merintis usaha ini dengan mengumpulkan batu bara yang tercecer dari gerbong yang membawa batu bara. Selain itu, saya mengumpulkan batu bara yang terserak di sekitar tempat pengumpulannya di Pelabuhan Teluk Bayur,” tuturnya.

Zaman berubah. Kereta api pengangkut batu bara tidak lagi menjadi bagian dari rutinitas yang dilihat Marnis. Namun, perubahan itu tidak membuatnya berhenti.

Kini, bahan baku dibelinya langsung dari Sawahlunto dengan dokumen atau surat resmi. Setiap hari, ia mampu memproduksi sekitar 15 hingga 20 karung batu bara bakar.

Tidak hanya memenuhi kebutuhan pandai besi di Kota Padang, hasil produksinya juga dikirim ke sejumlah daerah di Sumatera Barat, termasuk hingga Bukittinggi.

Batu bara bakar yang diproduksi Marnis memiliki pasar tersendiri. Bagi perajin pandai besi tradisional, bahan bakar dengan panas tinggi dan stabil sangat dibutuhkan untuk menempa besi.

Dibandingkan arang kayu, batu bara dapat menghasilkan panas yang relatif tahan lama sehingga mendukung proses pembakaran dan penempaan logam. Kondisi itu membuat kebutuhan terhadap batu bara bakar untuk keperluan tempa tetap bertahan di tengah perubahan zaman.

Menariknya, usaha yang telah dijalaninya selama empat dekade itu tidak membuat Marnis tergoda meninggalkan pekerjaan tersebut meski kompetitornya tidak banyak. Ia memilih bertahan karena usaha itu telah terbukti menjadi penopang keluarganya.

“Alhamdulillah saja, dengan ini anak-anak saya bisa makan setelah suami saya meninggal dunia,” katanya.

Kini, ketika usianya telah memasuki kepala enam, Marnis masih berdiri di tengah panas pembakaran. Jemarinya yang menghitam menjadi saksi perjalanan panjang seorang perempuan yang memilih bertahan dengan pekerjaan sederhana.

Dari batu bara yang dibakar setiap hari, ia bukan hanya menghasilkan bahan bakar bagi pandai besi, tetapi juga pernah menyalakan harapan bagi tujuh anaknya.

Empat puluh tahun berlalu, bara itu masih menyala. Bersama bara tersebut, Marnis terus menjaga dapur keluarganya tetap hidup. (***)

Editor : Hendra Efison
Marnis batu bara bakar lubuk begalung pandai besi kota padang