Didukung TKD Tambahan Rp2,43 Miliar, Pemulihan Irigasi Batang Sianok Dipercepat


PADEK.JAWAPOS.COM— Pemerintah mempercepat pemulihan jaringan Irigasi Batang Sianok di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, yang rusak berat akibat banjir bandang dan tanah longsor pada November 2025. Rehabilitasi dengan dukungan Transfer ke Daerah (TKD) Tambahan senilai Rp2,43 miliar itu telah mencapai progres fisik sekitar 60 persen pada awal November 2026.
Percepatan pekerjaan ini menjadi bagian penting dari pemulihan infrastruktur pertanian yang selama berbulan-bulan terganggu akibat terputusnya pasokan air. Ratusan hektare persawahan di kawasan hilir Batang Sianok terdampak kekeringan setelah material batu dan lumpur menutup saluran irigasi.
Pemerintah menargetkan seluruh pekerjaan rehabilitasi selesai pada akhir Desember 2026. Penanganan difokuskan pada titik-titik kritis sepanjang bentang sekitar 3,5 kilometer, terutama bagian saluran yang rusak dan rawan tertimbun longsor.
Rehabilitasi Menjangkau Sejumlah Titik Kritis
Kepala tukang proyek, Kamiling, mengatakan pekerjaan tersebar di sejumlah lokasi, terutama di Nagari Koto Tuo, Kecamatan IV Koto. Tim memperkuat bagian saluran yang rusak atau berpotensi ambrol menggunakan konstruksi turap.
“Titik ini kita lihat, mana yang sudah rawan ambrol, sudah rusak, atau berpotensi merusak saluran air, kita kasih turap,” kata Kamiling saat ditemui di lokasi pekerjaan, belum lama ini.
Menurut Kamiling, pengerjaan melibatkan 27 pekerja dengan dukungan satu unit ekskavator hidrolik. Progres keseluruhan telah mencapai sekitar 60 persen pada awal November.
Meski beberapa bagian saluran sudah selesai diperbaiki, aliran air belum dibuka karena pekerjaan masih berlangsung di sepanjang jalur irigasi. Penanganan juga mencakup tujuh titik rawan ambrol di kawasan Nagari Koto Tuo.
Saluran Tertutup dan Bendung Suplesi Dibangun
Rehabilitasi tidak hanya menyasar perbaikan saluran yang rusak. Pemerintah juga membangun sejumlah infrastruktur untuk memperkuat jaringan irigasi dan mengurangi risiko kerusakan akibat longsor.
Salah satu pekerjaan utama adalah rekonstruksi saluran tertutup sepanjang 284 meter pada segmen saluran kiri yang terputus akibat longsor. Konstruksi tersebut dipilih untuk melindungi jalur aliran air dari material lereng.
Selain itu, dibangun bendung suplesi dengan lebar mercu 11 meter untuk menambah tangkapan debit air menuju intake utama. Pengaman tebing berupa pasangan batu kali setinggi tujuh meter serta dinding penahan tanah juga menjadi bagian dari pekerjaan pada titik tertentu.
Rehabilitasi dilaksanakan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (SDABK). Proyek tersebut masuk dalam APBD Perubahan 2026 dengan sumber pembiayaan TKD Tambahan.
Nilai kontraknya mencapai Rp2.430.900.000 dengan masa pelaksanaan 142 hari kalender sejak kontrak ditandatangani pada 11 Agustus 2026.
Kerusakan Irigasi Ganggu Aktivitas Pertanian
Kerusakan jaringan Batang Sianok bermula ketika banjir bandang dan tanah longsor menerjang kawasan tersebut pada November 2025. Material batu dan lumpur dengan ketinggian hingga lima meter menutup saluran serta merusak infrastruktur pengambilan air.
Akibatnya, pasokan air ke kawasan hilir terhenti. Ratusan hektare persawahan di Jorong Subarang Tigo Jorong dan Taruko, Nagari Koto Gadang, serta Nagari Sianok Anam Suku mengalami kekeringan.
Sejumlah petani terpaksa membiarkan sawah tidak digarap selama berbulan-bulan karena tidak memperoleh pasokan air untuk kebutuhan pertanian.
Berdasarkan inventarisasi kondisi sistem irigasi Dinas SDABK Sumbar 2026, Daerah Irigasi Batang Sianok memiliki luas layanan 1.285 hektare. Total panjang jaringan salurannya mencapai 34,21 kilometer, terdiri atas saluran primer 4,88 kilometer, sekunder 12,28 kilometer, tersier 16,35 kilometer, dan kuarter 0,70 kilometer.
Pemulihan Infrastruktur Jadi Prioritas Pascabencana
Pemulihan Irigasi Batang Sianok sejalan dengan arah Rencana Induk (Renduk) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera. Salah satu prioritasnya adalah memulihkan infrastruktur sumber daya air yang menopang layanan dasar, pertanian, dan mata pencaharian masyarakat.
Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, sebelumnya meminta kementerian dan lembaga memprioritaskan pemulihan sungai, tanggul, serta irigasi menjelang musim hujan.
Tito menilai sedimentasi sungai dapat meningkatkan risiko banjir ketika curah hujan tinggi. Kondisi tersebut berpotensi mengancam sawah, permukiman, dan fasilitas ekonomi masyarakat.
“Penanganan ini mendesak karena berkaitan langsung dengan sawah dan permukiman serta pasar milik warga. Begitu sedimennya tinggi, ada curah hujan tinggi, dia meluber menjadi banjir,” kata Tito setelah rapat koordinasi tingkat menteri di Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Satgas PRR mengoordinasikan, memantau, dan mengevaluasi langkah kementerian/lembaga serta pemerintah daerah dalam pelaksanaan percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi.
Melalui rehabilitasi yang ditargetkan rampung akhir Desember 2026, pemerintah berharap jaringan Irigasi Batang Sianok kembali berfungsi dan pasokan air untuk kawasan pertanian di hilir dapat dipulihkan.(*)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




