Rumah Jama dan Surau Bulian, Saksi PDRI di Solok Selatan yang Menanti Perhatian

Lara Putri Yulina • Dipublikasikan Sabtu, 24 Oktober 2026 | 06:01 WIB
Surau Bulian di Bidar Alam, Solok Selatan, yang menjadi lokasi stasiun pemancar Radio AURI pada masa PDRI 1949. (Lara Putri/Padek)
Surau Bulian di Bidar Alam, Solok Selatan, yang menjadi lokasi stasiun pemancar Radio AURI pada masa PDRI 1949. (Lara Putri/Padek)

PADEK.JAWAPOS.COM — Rumah Jama dan Surau Bulian di Nagari Bidar Alam, Kecamatan Sangir Jujuan, Kabupaten Solok Selatan, menjadi saksi perjalanan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada 1949. Namun, dua peninggalan sejarah tersebut kini dalam kondisi memprihatinkan dan membutuhkan perhatian untuk menjaga jejak perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Sekretaris Nagari Bidar Alam, Liosman Topit, menyebut Bidar Alam sebagai ibu kota yang terlupakan dalam sejarah PDRI. Menurutnya, peran nagari tersebut dalam mempertahankan keberlangsungan Republik Indonesia belum banyak dikenal masyarakat, termasuk melalui buku-buku sejarah di sekolah.

“Kalau bagi saya pribadi, saya sering mengistilahkannya, kalau bukan karena Bidar Alam mungkin sejarah Indonesia ini akan berbeda,” ujar Liosman.

Tiga Bulan Menjadi Tempat Perjuangan PDRI

PDRI terbentuk pada 19 Desember 1948 setelah Belanda melancarkan Agresi Militer II dan menangkap Presiden Soekarno serta Wakil Presiden Mohammad Hatta. Sjafruddin Prawiranegara kemudian memimpin pemerintahan darurat di Sumatra untuk mempertahankan keberlangsungan Republik Indonesia.

Dalam perjalanan perjuangan tersebut, rombongan PDRI akhirnya tiba di Bidar Alam. Liosman menceritakan, sebelum menuju nagari itu, rombongan sempat berada di Abai selama kurang lebih satu minggu.

Tokoh masyarakat Bidar Alam, termasuk Kati Jema'an, kemudian menjemput rombongan tersebut. Setibanya di Bidar Alam, para tokoh PDRI mendapatkan tempat tinggal di rumah-rumah warga.

Masyarakat juga menyediakan makanan dan kebutuhan lainnya meskipun penerimaan terhadap rombongan PDRI memiliki risiko karena Belanda masih melakukan pengejaran.

“Bidar Alam mengambil risiko besar. Karena otomatis ini dikejar atau diserang oleh pihak Belanda. Tapi masyarakat Bidar Alam menerima, menyediakan tempat tinggal, menyediakan bahan makanan,” katanya.

Menurut Liosman, rombongan PDRI berada di Bidar Alam selama kurang lebih tiga bulan. Selama periode tersebut, aktivitas pemerintahan tetap berlangsung melalui komunikasi dengan para pejuang dan pihak-pihak yang mendukung perjuangan Republik Indonesia.

Surau Bulian dan Peran Radio AURI

Salah satu bagian penting dari sejarah PDRI di Bidar Alam adalah keberadaan Radio Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Menurut penuturan Liosman, Surau Bulian berkaitan dengan aktivitas radio yang digunakan untuk mendukung komunikasi selama masa pemerintahan darurat.

Melalui jaringan radio, informasi mengenai keberlangsungan Republik Indonesia disampaikan hingga ke luar negeri. Komunikasi juga dilakukan dengan para pejuang di berbagai wilayah, termasuk Pulau Jawa, serta A.A. Maramis yang saat itu berada di New Delhi, India.

Komunikasi tersebut menjadi bagian dari upaya mempertahankan pemerintahan sekaligus menyampaikan informasi mengenai keadaan Indonesia kepada dunia di tengah agresi militer Belanda.

Ketika situasi semakin berbahaya, rombongan PDRI meninggalkan Bidar Alam melalui sejumlah jalur untuk kembali berkumpul di Sumpur Kudus. Setelah pemerintahan Republik Indonesia kembali berjalan, Sjafruddin Prawiranegara menyerahkan kembali mandat pemerintahan darurat kepada Presiden Soekarno.

Rumah Jama dan Surau Bulian Membutuhkan Perawatan

Rumah Jama, salah satu bangunan yang dikaitkan dengan markas PDRI di Bidar Alam, Solok Selatan, pada 1949. (Lara Putri/Padek)
Rumah Jama, salah satu bangunan yang dikaitkan dengan markas PDRI di Bidar Alam, Solok Selatan, pada 1949. (Lara Putri/Padek)

Kini, Rumah Jama, yang juga dikenal sebagai Rumah PDRI Bidar Alam, dan Surau Bulian menjadi dua bangunan yang masih bertahan sebagai penanda sejarah perjuangan di nagari tersebut.

Sejumlah rumah warga yang dahulu ditempati tokoh-tokoh PDRI telah mengalami perubahan atau diganti dengan bangunan baru. Rumah Jama dikaitkan dengan tempat tinggal Sjafruddin Prawiranegara selama berada di Bidar Alam, sedangkan Surau Bulian berkaitan dengan aktivitas Radio AURI pada masa PDRI.

Kedua bangunan itu masih berdiri, tetapi kondisinya memprihatinkan dan membutuhkan perawatan. Dahmiyati (65) dan Ernawati (63) merupakan warga yang turut merawat Surau Bulian.

Liosman berharap pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap peninggalan sejarah tersebut agar tetap terpelihara dan dapat dikenal generasi mendatang.

Ia menyebut pemerintah nagari telah berupaya mendaftarkan peninggalan tersebut sebagai warisan budaya melalui komunikasi dengan pihak terkait di tingkat provinsi.

Menurutnya, pengakuan dan pelestarian diperlukan agar jejak perjuangan PDRI di Bidar Alam tidak hilang seiring perubahan bangunan dan perkembangan zaman.

Upaya Mengenalkan Sejarah PDRI kepada Generasi Muda

Pemerintah Nagari Bidar Alam juga berupaya mengenalkan sejarah PDRI melalui kegiatan yang melibatkan masyarakat. Setiap 19 Desember, pemerintah nagari menggelar upacara bendera untuk memperingati Hari Bela Negara, yang berkaitan dengan peristiwa pembentukan PDRI pada 19 Desember 1948.

Pada 2022, pemerintah nagari bekerja sama dengan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Solok Selatan serta SMA Negeri 2 Solok Selatan di Bidar Alam untuk membuat drama bertema PDRI.

Selain itu, Liosman menyebut rencana penyelenggaraan turnamen sepak bola bertajuk PDRI Cup yang direncanakan melibatkan peserta dari Sumatera Barat dan Jambi. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi salah satu cara untuk mengenalkan sejarah perjuangan kepada generasi muda.

Liosman juga berharap dapat menjalin komunikasi dengan pemerintah kabupaten dan provinsi untuk mendorong kunjungan Menteri Kebudayaan ke Bidar Alam. Dengan begitu, kondisi Rumah Jama dan Surau Bulian dapat diketahui secara langsung dan memperoleh perhatian lebih untuk pelestariannya.

Bagi Liosman, menjaga sejarah tidak cukup hanya melalui kegiatan peringatan. Peninggalan fisik yang menjadi saksi perjuangan juga perlu dirawat agar masyarakat dapat melihat dan mengenal bagian sejarah tersebut secara langsung.

Harapan agar Bidar Alam tidak dilupakan itu ia tuangkan dalam puisi berjudul Bidar Alam; Ibu Kota yang Terlupakan, yang ditulis pada 10 Desember 2022.

Puisi Liosman Topit: Bidar Alam, Ibu Kota yang Terlupakan

Perang telah lama usai
Penjajah telah lama pergi
Pemerintahan darurat telah lama berakhir
Tapi... sejarah ini tak kan pernah hilang
Sejarah bahwa negeri kami, adalah negeri perjuangan.

Wahai tuan penguasa negeri
Ingatlah negeri kami
Negeri yang pernah menjadi penyambung nyawa ibu pertiwi
Negeri yang menyelamatkan para pejuang PDRI
Di negeri ini radio AURI, mengudara sampai ke luar negeri
Mengabarkan bahwa Republik ini masih berdiri

Wahai tuan penguasa negeri
Pendahulu negeri ini
Berjuang, berkorban harta, jiwa, dan raga
Demi Indonesia tetap berdiri.

Jikalau tuan sempat mampir ke negeri ini
Berhentilah selepas penurunan menjelang mendaki
Tuan akan lihat inilah bukti perjuangan kami
Bukti kami cinta NKRI
Bahkan sebelum Kata-kata NKRI harga mati diajarkan kepada kami

Wahai tuan penguasa negeri
Bantulah kami, mengumpulkan puing-puing cerita negeri ini
Kami tidak meminta balas budi
Karena perjuangan PDRI adalah bagian kewajiban kami
Untuk mempertahankan NKRI
Kami, hanya ingin diakui
Bahwa kami adalah bagian dari sejarah bangsa ini.
Kami ingin, semangat PDRI, kembali ada dalam setiap diri Putra-putri negeri ini,
Setiap orang yang mengaku cinta NKRI!

Kalaulah bukan karena negeri ini,
Mungkin cerita sejarah bangsa kita akan berganti
Kita berdiri hari ini,
Karena perjuangan pendahulu negeri INDONESIA
INGATLAH sebisamu
JANGAN lupakan negeri ini!

Bidar Alam; Ibu Kota yang Terlupakan
10 Desember 2022
Karya: Liosman Topit

Editor : Hendra Efison
Rumah Jama dan Surau Bulian Bidar Alam Solok Selatan Radio AURI peninggalan sejarah PDRI Sejarah PDRI