Lapek Baru, Kuliner Warisan Solok Selatan yang Terancam Dilupakan Generasi Muda

Lara Putri Yulina • Dipublikasikan Minggu, 1 November 2026 | 14:35 WIB
Jusnimar mengolah adonan lapek baru dengan mencampurkan tepung ketan, santan, dan bahan lainnya di Jorong Padang Air Dingin, Solok Selatan, Minggu (1/11/2026).
Jusnimar mengolah adonan lapek baru dengan mencampurkan tepung ketan, santan, dan bahan lainnya di Jorong Padang Air Dingin, Solok Selatan, Minggu (1/11/2026).

PADEK.JAWAPOS.COM— Tidak banyak lagi warga yang masih mengetahui cara membuat lapek baru, kudapan tradisional berbahan tepung ketan yang diwariskan turun-temurun di Solok Selatan. Di tengah semakin jarangnya makanan ini dibuat, Jusnimar, 60, menjadi salah seorang warga yang masih mempertahankan resep warisan tersebut.

Warga Jorong Padang Air Dingin, Nagari Padang Air Dingin, Kecamatan Sangir Jujuan, itu masih membuat lapek baru menggunakan cara pengolahan yang dipelajarinya dari generasi terdahulu. Minggu (1/11/2026), sekitar pukul 10.00 WIB, ia kembali mengolah kudapan tradisional tersebut.

Bagi Jusnimar, lapek baru bukan sekadar makanan pengganjal perut. Ada kenangan masa kecil dan kebiasaan masyarakat yang melekat pada kudapan bercita rasa manis, bertekstur kenyal, serta memiliki aroma khas daun pandan itu.

Ia mengaku sudah mengenal lapek baru sejak kecil. Namun, baru sekitar lima tahun terakhir dirinya mulai membuat makanan tersebut secara mandiri.

“Lapek baru ini sudah ada dari zaman dahulu, sejak saya masih kecil. Resepnya diwariskan dari nenek moyang,” ujarnya.

Resep Sederhana dengan Pengolahan Tradisional

Bahan utama lapek baru cukup sederhana. Jusnimar menggunakan tepung ketan yang ditumbuk, kelapa, dan daun pandan. Bahan tersebut kemudian diolah bersama santan, gula, garam, serta vanili.

Proses memasaknya masih menggunakan tungku kayu. Pertama, air dididihkan untuk mencampurkan tepung ketan hingga menjadi adonan. Jika membutuhkan tambahan cairan, ia menggunakan air panas yang telah disisihkan sebelumnya.

Adonan kemudian dicampur dengan santan dan air daun pandan, lalu ditambahkan gula, garam, serta vanili. Seluruh bahan diaduk hingga merata, mengental, dan matang.

Setelah itu, adonan dibungkus menggunakan daun sebelum dikukus hingga siap disajikan. Menurut Jusnimar, keseluruhan proses pembuatan membutuhkan waktu sekitar setengah jam.

Hasilnya berupa kudapan dengan rasa manis dan aroma pandan yang khas. Teksturnya kenyal sekaligus lembut ketika disantap.

Dibuat Saat Ada Acara Adat dan Kegiatan Keluarga

Lapek baru bukan makanan yang setiap hari tersedia di rumah Jusnimar. Ia biasanya membuatnya ketika ada kegiatan masyarakat atau keluarga, seperti yasinan, baralek, maupun acara pernikahan.

Sesekali, ia juga mengolahnya ketika ingin menikmati kembali makanan yang mengingatkannya pada masa kecil.

“Biasanya dibuat kalau ada acara, seperti yasinan atau baralek. Kadang-kadang kalau ingin makan lapek baru, saya juga membuatnya,” tuturnya.

Menurut Jusnimar, makanan tersebut masih diminati sebagian masyarakat, terutama kalangan orang tua yang sudah mengenal rasanya sejak dahulu. Namun, jumlah warga yang masih bisa membuatnya semakin sedikit.

Beberapa orang yang dahulu terbiasa mengolah lapek baru telah meninggal dunia. Sementara sebagian lainnya kini sudah sakit-sakitan. Kondisi itu membuat pengetahuan mengenai resep dan proses pembuatannya semakin terbatas.

Khawatir Resep Warisan Hilang

Jusnimar melihat perubahan selera masyarakat dan semakin populernya makanan modern turut memengaruhi keberadaan kuliner tradisional tersebut.

Anak-anak muda saat ini, menurutnya, banyak yang bahkan belum mengenal lapek baru. Padahal, makanan itu merupakan bagian dari kebiasaan masyarakat yang telah diwariskan sejak generasi terdahulu.

“Sekarang sudah jarang orang yang membuatnya. Bisa dihitung orang yang masih tahu resepnya. Anak-anak zaman sekarang kadang tidak tahu ini makanan apa karena banyak makanan lain yang sedang populer,” ungkapnya.

Ia khawatir, jika tidak ada generasi yang melanjutkan kebiasaan tersebut, lapek baru semakin sulit ditemukan. Bukan hanya makanannya yang terancam hilang, tetapi juga pengetahuan mengenai bahan, resep, dan cara pengolahannya.

Jusnimar berharap keluarga ikut mengambil peran dalam menjaga keberadaan kuliner tradisional. Salah satunya dengan mengenalkan makanan warisan leluhur kepada anak-anak, termasuk mengajak mereka melihat dan mempraktikkan proses pembuatannya.

“Kalau bisa, kuliner ini dilestarikan supaya tidak hilang. Setiap keluarga hendaknya mengenalkan makanan tradisional kepada anak-anak zaman sekarang agar mereka tahu,” harapnya.

Bagi Jusnimar, mempertahankan lapek baru berarti menjaga salah satu warisan kuliner masyarakat. Resep sederhana yang masih ia praktikkan itu diharapkan tidak berhenti pada generasinya, tetapi terus dikenal dan diwariskan kepada anak cucu. (mg9)

Editor : Hendra Efison
makanan khas Solok Selatan Lapek baru Jusnimar kuliner warisan Minangkabau kuliner tradisional Solok Selatan